AuthorBambang Sutrisno

Home»Articles Posted by Bambang Sutrisno (Page 12)

Yayasan Mata Air Biru: Pengelola Dana Abadi FT UI (Majalah Alumni UI Edisi no. 14)

11141151_272980846205978_7428491785872511454_n 11391115_272980882872641_6020859983449390757_n 11209566_272980939539302_5625643253247613451_n

Yayasan MAB sebagai pengelola Dana Abadi FTUI diliput oleh Majalah Alumni UI Edisi 14 yang bertemakan tentan Dana Abadi. Berikut versi lengkap artikelnya. Selamat Membaca :)

——

 

Bertepatan dengan 50 tahun FT UI pada tahun 2014 lalu, ILUNI FTUI yang diketuai Prof. Dr.-Ing. Ir. Kalamullah Ramli, M.Eng., mencanangkan Program Dana Abadi (endowment fund) yang akan dikelola oleh alumni. Pertanyaan berikutnya adalah pihak mana yang akan mendapat kepercayaan untuk mengelola dana yang tidak sedikit itu secara transparan dan berkesinambungan. Adalah Dekan FTUI, Prof. Dr. Ir. Dedi Priadi, DEA, yang mengusulkan pengelolaan dana abadi ini diserahkan kepada Yayasan Mata Air Biru (YMAB) yang sudah mempunyai track record cukup panjang dan terbukti eksis selama sebelas tahun, dan secara konsisten telah memberikan kontribusinya bagi sivitas akademika FTUI.

***

YMAB adalah sebuah yayasan yang digagas oleh para alumni FTUI dan disahkan berdasarkan Akta Notaris pada 30 September 2003. “Pada saat itu sebetulnya banyak alumni yang ingin memberikan bantuannya kepada para mahasiswa FTUI, misalnya saat diadakan reuni angkatan, mereka mengumpulkan dana untuk beasiswa. Tetapi kegiatan seperti itu bersifat sporadis dan sesaat. Maka didirikanlah yayasan ini sebagai wadah resmi untuk memberikan beasiswa, tidak hanya untuk mahasiswa FTUI, tetapi juga untuk putra-putri karyawan FTUI dan putra-putri Alumni yang membutuhkan”, ungkap Hamdion Nizar, Alumni Elektro 76, salah seorang Pendiri dan Pembina YMAB.

Program Beasiswa yang dirancang di masa awal pendiriannya adalah Beasiswa Reguler, dan Beasiswa Skripsi. “Saat peluncuran Yayasan ini di tahun 2003, kami memberikan 7 beasiswa untuk mahasiswa, anak alumni, anak karyawan, serta tanda cinta kasih untuk pengabdian kepada dosen kami Prof. Sidharta,” ungkap Sri Dijan Tjahjati, ketua YMAB, Alumni Sipil 79. “Sampai akhir tahun 2014, sudah lebih dari 500 Beasiswa Reguler dan Beasiswa Skripsi yang dikucurkan dengan nilai lebih dari 450 juta rupiah”.

Bentuk beasiswa reguler saat itu berupa uang tunai untuk satu semester. Mahasiswa idealnya hanya menerima satu kali, tetapi tidak menutup kemungkinan dia mengajukan permohonan kembali di semester berikutnya bila memang masih dibutuhkan. Agar penerima tepat sasaran, seleksi dilakukan atas kerjasama dengan BEM Bidang SosMa dan pihak Dekanat FTUI. “Beasiswa reguler diberikan dengan melihat latar belakang penerima, bukan dari sisi akademiknya, karena mahasiswa yang pintar tentu mudah memperoleh beasiswa dibandingkan mahasiswa biasa, padahal merekapun mempunyai kemauan yang sama untuk kuliah. “Beasiswa bagi anak karyawan, dilihat dari kinerja orangtuanya, yang diseleksi oleh pihak Dekanat,” jelas Sekretaris YMAB, Tin Nizar yang Alumni Elektro 79.

YMAB yang selalu menjaga hubungan baik dengan pihak Dekanat, mendapat masukan bahwa di kalangan mahasiswa ada kebutuhan tempat tinggal gratis. Maka di tahun 2004 YMAB mulai menyewa rumah di sekitar Kampus UI dan mahasiswa boleh tinggal di sana tanpa dipungut bayaran. Program yang dinamakan Pondokan MAB ini, ditujukan bagi mahasiswa baru yang berasal dari luar Jabodetabek. Mereka boleh tinggal di pondokan maksimal dua tahun karena diharapkan setelah tingkat tiga mereka sudah dapat survive. Di tahun 2006 program ini dikembangkan untuk dapat menampung mahasiswi. Pada saat ini daya tampung pondokan adalah 20 mahasiswa (16 putra + 4 putri).

YMAB yang menyadari bahwa kita tidak dapat hanya mengandalkan donasi dari para alumni saja, memandang perlu adanya suatu unit usaha yang dapat menjadi sumber dana rutin bagi yayasan. Maka pada tahun 2006 YMAB bekerjasama dengan BTA Group membentuk satu unit usaha bimbingan belajar yang disebut BTA MAB, berlokasi di Jl. Siliwangi, Depok. Dalam tiga tahun terakhir, unit usaha ini sudah berkembang pesat dan mampu memberikan pemasukan + 40 juta per-tahun.

Di tahun 2009, YMAB mulai melakukan pendekatan pada para alumni yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar atau BUMN. Dengan dukungan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), PT Aplikanusa Lintasarta dan Kepengurusan ILUNI FTUI periode 2008-2011, YMAB meluncurkan Program Beasiswa Prestasi, yang diberikan kepada mahasiswa tingkat 2 dengan prestasi akademik (IPK min 3.00) dan berlanjut sampai mereka menyelesaikan studinya di semester 8. Bahkan ada mahasiswa penerima Beasiswa Prestasi yang mengambil Progam Fast Track (Program Pendidikan Terintegrasi S1 dan S2 dalam total durasi 5 tahun) dan tetap diberikan Beasiswa Prestasi sampai mereka menyelesaikan S2 di semester 10. Kepengurusan ILUNI FTUI mendukung program ini dengan menyelenggarakan turnamen golf di mana para alumni dan mitra bisnisnya dapat mengikuti turnamen sambil beramal.

Kontribusi YMAB tidak hanya dalam bentuk pemberian beasiswa tetapi juga mendukung kegiatan mahasiswa FT UI terutama yang bersifat ilmiah, seperti Kontes Robot Indonesia dan Shell Eco Marathon di Sepang, Malaysia. YMAB juga memberikan beberapa sarana pendukung seperti AC untuk ruang BEM FTUI dan lemari charger ponsel gratis yang ditempatkan di lobi FTUI di mana mahasiswa dapat mengisi daya untuk laptop atau ponselnya. Di tahun 2011, YMAB bekerjasama dengan PT Sidomuncul mengadakan kegiatan bakti sosial untuk masyarakat Depok dan sekitarnya dalam bentuk operasi katarak gratis. Berkat dukungan pihak Rektorat UI, pemeriksaan awal calon peserta program diadakan di Gedung Perpustakaan Terapung UI. Ada sekitar 180 orang yang diperiksa, dan 100 orang diantaranya memenuhi syarat dan berhasil menjalani operasi katarak gratis. (Vero)

 

Oase di Padang Tandus Intelektualitas

IMG_9689

Dan kelak, suatu hari, aku ingin mengajakmu untuk kembali ke oase itu; berpulang ke Mata Air Biru FTUI, mengulang kembali senyuman dan kebersamaan itu, lalu bercerita tentang masa lalu, atau perjalananmu sendiri yang seru, serta hal-hal apa saja yang kita sukai

Mata Air Biru adalah oase. Ialah muara dari setiap air jernih mengalir yang sengaja Tuhan hadirkan dari sebaik-baiknya tempat teruntuk para musafir ilmu, di tengah gersangnya padang pasir dan ancaman fatamorgana. Perjalanan para musafir, mahasiswa FTUI, demi menimba sebutir ilmu jelaslah tidak mudah, langkah setapak demi setapak kamu langkahi begitu lunglai jika tak ada air, dan selalu berharap ujung nanti itu adalah kebahagiaan. Sebulir air dari oase sangatlah berharga di perjalanan, tetesannya mampu meneguhkan keyakinan untuk terus hidup dan berjalan, dan begitulah ia membuat makna.

Mata Air Biru adalah sebuah proses. Ia menjernihkan dengan membuat kita terus mencari cara, bangkit dari kesulitan yang dihadapi, karena kita selalu tahu perjalanan di padang tandus ini masih terlampau jauh untuk menuju ke pusat kota yang ramai, yang menjadi sebenar-benarnya hidup dan telah menanti di depan horizon kelak. Proses menjadikan antelop berhasil mendaki gunung terjal, dan menguatkan unta mendegumkan tapalnya pada pasir, dan seperti itulah kamu terus berproses. Kita tidak diajarkan untuk mengendap di oase, kita mesti terus mencari tahu, berkembang. Yang kamu butuhkan hanyalah dorongan kecil untuk yakin dan mampu terbang. Mencari apa yang bisa kita lakukan, bukan sekadar yang kita keluhkan.

Mata Air Biru adalah sebuah simpul. Berbahagialah mereka yang pernah bermuara di oase ini. Oase yang menjadi pelepas dahaga, yang mempertemukan keluarga, tanpa mengenal asal daerah, agama, yang muda dan tua, menjadi sebuah naungan belajar bersama, tidak hanya soal intelektual, tetapi juga kehidupan mendewasakan diri yang sebaik-baiknya.

Di Mata Air Biru, kita jadi benar-benar tahu bahwa saat kita hidup dan berjalan di padang tandus ini, kita tidak pernah sendirian. Seluruh pejuang dan musafir ilmu berkumpul tidak sekadar menumpang minum, bahkan lebih dari itu— kita menjalin ikatan persaudaraan. Tentulah, oase itu bukanlah akhir perjalanan, dan di titik tertentu, pastilah kita mesti melanjutkan pijakan, menuju perpisahan dan pada langkah-langkah berikutnya. Kita mesti menjalani hidup berikutnya, tidak terlena, menemui dahaga lainnya yang tidak pernah berhenti untuk selalu saja mendewasakan kita.

Dan kelak, suatu hari, aku ingin mengajakmu untuk kembali ke oase itu; berpulang ke Mata Air Biru FTUI, mengulang kembali senyuman dan kebersamaan itu, lalu bercerita tentang masa lalu, atau perjalananmu sendiri yang seru, serta hal-hal apa saja yang kita sukai.

Mushab Abdu Asy Syahid, Mahasiswa Arsitektur FTUI 2011, Penghuni Pondokan Mata Air Biru tahun 2011-2013. Sempat menjadi Ketua Komunitas Pondokan MAB.

Dulu di Pondokan ini…

 

Dulu…

Pertama kali aku masuk ke tempat ini – yang menjadi tempat istirahat dan berkarya selama menempuh pendidikan S1ku – yang kuingat adalah tempat yang nyaman untuk ditinggali. Meski aku awalnya tak tahu siapa ‘mereka’ yang berbaik hati menyediakan ini semua?

Kami tinggal bertiga dalam satu rumah kecil dengan satu kamar. Tempatku tinggal di paling depan. Terlihat paling rapi dan nyaman untuk ditempati. Sebagai mahasiswa paling muda, aku sadar betul bagaimana peranku. Namun, aku belajar banyak dari kakak-kakak yang tinggal bersamaku. Mereka kuanggap layaknya keluarga.

Meski kami punya kesibukan masing-masing, jadwal yang berbeda satu sama lain, namun selalu kami sempatkan waktu untuk rumah kami tercinta ini. Di tiap pekannya ada jadwal piket yang tersusun rapi, sederhana dan jelas. Tak perlu ‘bentakan’ atau suruhan untuk mengerjakan itu semua, cukup kesadaran dari diri kami masing-masing.

Ada satu hal yang kurindu, biasanya kami memasak saat makan malam. Ada giliran siapa yang memasak. Tak perlu saling sungkan tawar dan meminta dibuatkan makanan, kami sudah seperti layaknya keluarga. Peran kami jelas, ego itu seperti sudah terhilangkan. Aku belajar hidup bersama layaknya sebuah keluarga.

Di rumah lain, meski hanya sepekan sekali kami bertemu saat bahasa inggris, tetapi cukup menambah kekompakan dan kedekatan kami. Tak perlu waktu lama untuk menentukan kumpul bersama, meski saat itu belum ada group yang mengakomodir semua anggota. Kacang rebus menjadi hidangan yang cukup nikmat sembari mendengarkan cerita dan pengalaman masing-masing.

Dan prestasi sebagai capaian juga tak lupa kami sematkan diakhir perjumpaan menjelang libur akhir semester. Aku belajar dari mereka. Kami sadar betul, meski hidup kami pas-pasan, tetapi jalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti terbuka lebar. Beberapa diantara kami mengajar untuk mendapatkan uang tambahan. Beasiswa masih sangat jarang dan susah. Lomba menjadi andalan mendapatkan uang tambahan.

Beberapa waktu, aku melihat ada kiriman berbagai perlengkapan pondokan mulai dari sabun hingga kipas angin. Meski aku belum tahu siapa yang mengirim itu.

Cukuplah rasa syukur dengan menjaga tempat ini. Menjaga kebersihannya, kenyamanan tempatnya, hingga torehan prestasi yang harus kami capai. Bukan untuk siapa-siapa, untuk diri kami sendiri, untuk mereka yang telah menyediakan ini semua, untuk adik-adik kami yang nanti akan menempati tempat ini setelah kami, sebagai rasa syukur dan terima kasih kami yang tak cukup membayar ini semua…

Untuk mereka yang telah menyediakan ini semua untuk kami, tanpa kenal pamrih…

11 Mei 2015,

Pondokan MAB

 

Catatan : Mengenang kisah kehidupan di Pondokan MAB tahun 2009-2010.

Leaders : Menyatukan Keberagaman

“Setiap leaders memiliki caranya tersendiri untuk membuktikan dirinya seorang leaders…”

Karakter manusia itu beragam satu sama lain. Unik dan memiliki ciri khas masing-masing. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang berbeda-beda dalam memahami tiap karakter tersebut. Itulah tugas seorang leaders, menyatukan keberagaman. Namun dengan caranya sendiri, dengan pendekatan yang iya yakini.

Sebulan yang lalu, ketika dihadapkan pada kenyataan penyatuan Pondokan MAB dari tempat yang lama, dimana hanya diisi oleh 2-3 penghuni tiap rumah menjadi Pondokan MAB yang baru dengan diisi oleh sekitar 11 penghuni dalam satu rumah, saya mencoba belajar bagaimana menjadi leaders diantara mereka dengan pendekatan sesuai karakter masing-masing.

Awalnya, penyatuan itu tidaklah mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bila sebelumnya para penghuni pondokan ini hanya perlu beradaptasi dengan 1 atau 2 orang yang akan tinggal bersama dalam periode tertentu, maka kini mereka perlu usaha lebih keras untuk beradaptasi memahami karakter lebih dari 5 orang penghuni yang akan tinggal bersama di satu rumah. Terlebih, beragamnya jurusan dan angkatan, membuat proses adaptasi mungkin berjalan lebih lambat.

Disini, seorang leaders harus mampu menunjukkan perannya. Mengambil keputusan-keputusan yang dianggap perlu agar proses adaptasi di lingkungan yang baru berjalan lebih cepat. Pekan pertama, saya mencoba membuat koridor untuk menyamakan ritme habit masing-masing sehingga mudah di kontrol, meskipun begitu fleksibilitas dan ketidak-kaku-an dalam pelaksaan tetap diperlukan. Adanya seorang kepala rumah tangga membantu saya mengontrol keadaan rumah dan aktivitas para penghuni rumah. Jadwal piket, rules kerapihan hingga punishment demi terciptanya kenyamanan segera dibuat.

Pendekatan dilakukan dengan beragam cara sesuai karakter masing-masing. Mulai dari bentuk apresiasi, ajakan halus hingga forcing pun dilakukan. Apresiasi menjadi nilai utama yang selalu saya utamakan. Hal ini membuat mereka senantiasa belajar berterima kasih atas apa yang telah mereka lakukan.

Kini, sebulan telah berlalu. Setidaknya dari observasi, saya melihat ada tiga hal yang bisa saya simpulkan tentang karakter mereka. Pertama tipe peduli dan mempunyai sense of belonging yang tinggi terhadap pondokan. Merekalah sebenarnya yang bisa diandalkan dalam membuat Pondokan menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Siap berkorban dan melakukan apapun demi terciptanya pondokan yang aman, tenang, bersih dan nyaman.

Kedua tipe pondokan sebagai singgah. Tipe kedua ini bisa dibilang sangat jarang berada di pondokan, lebih senang di luar. Mereka menjadikan pondokan hanya sebagai tempat tidur, aktifitas utamanya berada di luar pondokan. Entah apa yang dikerjakan. Hal ini pula yang membuat tipe ini memiliki interaksi yang jarang dengan penghuni lainnya. Tipe ini tidak peduli dengan apa yang terjadi di Pondokan. Terkadang, tipe ini bisa disebabkan karena ketidakcocokan atau ketidaknyamanan dengan penghuni pondokan lainnya.

Ketiga tipe tidak enak-an. Tipe ini bisa saja muncul karena senioritas, merasa kita seorang junior sehingga tidak berani untuk minta tolong dengan penghuni lainnya yang senior. Sebenarnya, tipe ini bisa dihilangkan ketika kehidupan di Pondokan telah melebur seperti layaknya keluarga. Sayangnya, butuh waktu yang terkadang lama untuk menghadirkan hal tersebut.

—–

Menjadi seorang leaders berarti siap untuk belajar banyak hal. Leaders bukanlah bakat, tetapi dilahirkan dari proses pembelajaran yang panjang. Siapapun bisa menjadi seorang leaders, asal ada kemauan dan tekad yang kuat untuk belajar.

Kita semua pada dasarnya adalah seorang leaders, terutama untuk diri kita sendiri. Dari Pondokan MAB ini, saya belajar menjadi seorang leaders yang mengayomi, memimpin, mendengarkan, menghargai, dan menjadi bagian dari mereka seperti layaknya keluarga.

Maka, bagi seorang leaders tentu memiliki pendekatan masing-masing untuk menyatukan keberagaman yang dihadapi dari anggotanya. Pendekatan personal, mulai dari cara yang lembut hingga keras. Tipe leaders yang manakah kamu?

Penulis : Bambang Sutrisno

 

Pondokan MAB Putra Menempati Rumah Baru di Puri Kukusan Teknik

Rumah Inspirasi MAB

Pondokan MAB Putra Menempati Rumah Baru di Puri Kukusan Teknik

Depok, Pondokan MAB putra menempati rumah baru di Puri Kukusan. Setelah selama hampir 10 tahun menempati tiga buah rumah di depan Masjid Al-furqon, Pondokan MAB untuk mahasiswa putra kini menempati sebuah rumah yang terletak di Komplek Puri Kukusan. Pondokan MAB merupakan sebuah program beasiswa yang diberikan oleh Yayasan MAB berupa bantuan tempat tinggal dan program pengembangan diri bagi mahasiswa FTUI asal daerah. Saat ini, ada 16 penerima beasiswa pondokan MAB yang terdiri dari 12 putra dan 4 putri.

Apakah kamu berminat menjadi bagian dari kami? Tetap update dengan kami ya untuk info perekrutan berikutnya.

Masih Yakin Ilmu Mendalam lebih Penting?

Oleh Siti Awaliyatul Fajriyah, Arsitektur 2012, Pondokan MAB

Selama ini saya merasa, bahwa ilmu mendalam lebih penting dari ilmu yang meluas. Namun saya rasa anggapan ini terlalu egois bagi seorang manusia yang sebenarnya jauh dari kata “mengetahui”. Saya semakin yakin bahwa anggapan itu salah setelah mendengarkan sebuah  posting di soundcloud.com milik akun atas nama Sabda PS yang berjudul Three Kinds of Knowledge.

Setiap manusia yang ingin berkembang, wajib memiliki 3 pengetahuan yang ketiganya harus berimbang. Ketiga pengetahuan tersebut adalah pengetahuan dasar, pengetahuan istimewa dan pengetahuan menyeluruh. Tidak ada yang lebih penting dari ketiga jenis pengetahuan tersebut karena semuanya sama penting.

Pengetahuan dasar harus dikuasai terlebih dahulu oleh seseorang sebelum orang tersebut mampu menguasai pengetahuan yang lainnya. Pengetahuan dasar yang pertama ialah matematika, tetapi bukan matematika yang kita anggap dalam kehidupan sehari-hari. Memang betul hitung-hitungan sederhana sangat diperlukan untuk sekedar menghitung berapa rupiah yang harus kita bayar untuk membeli 5 bungkus permen. Namun lebih jauh dari itu. Dalam matematika, kita mempelajari struktur dan logika pemikiran yang konsisten dan terintegrasi sehingga kita terbiasa berpikir runut. Dengan begitu kita tidak mudah terombang-ambing dalam alam pikiran kita sendiri.

Pengetahuan dasar yang kedua ialah logika. Dengan kemampuan logika yang baik, kita dapat memahami hubungan antara satu kasus dengan kasus lainnya secara jernih, karena ketika kita salah memahami hubungan antarkasus dengan baik, solusi yang dihasilkanpun memiliki kemungkinan tidak tepat yang cukup besar. Logika ini akan membantu kita dalam mengurai masalah-masalah rumit menjadi simpul-simpul sederhana.

Pengetahuan dasar selanjutnya ialah pengetahuan bahasa atau verbal. Hal ini akan membantu kita berkomunikasi dengan orang lain, menyampaikan pemikiran dengan bahasa yang lebih terstruktur dan kosakata yang luas. Informasi-informasi akan ditransmisikan dengan cepat dan tepat jika kita menggunakan teknik komunikasi yang tepat pula. Dengan begitu kita tidak akan terkendala dalam masalah teknis penyampaian.

Salah satu pengetahuan dasar yang terpenting adalah kemampuan untuk mengembangkan diri. Dengan mengetahui cara-cara pengembangan diri apa yang cocok dengan kita, kita akan mengetahui taktik yang tepat agar tidak bosan dalam sebuah pekerjaan. Selain itu kita juga akan bekerja dengan efektif jika kita sudah mengetahui betul seperti apa cara kerja yang cocok untuk kita.

Setelah pengetahuan dasar kita kuasai, kita harus memiliki pengetahuan istimewa atau mendalam. Pengetahuan istimewa ini sangat berguna saat kita terjun ke masyarakat karena setiap manusia diciptakan untuk mengisi setiap slot kontribusi yang berbeda-beda di masyarakat. Pengetahuan istimewa ini juga memiliki kemungkinan untuk menjadi sumber pendapatan finansial kita, tergantung kita mengarahkannya kesana atau tidak. Hal ini yang akan membuat kita menjadi seseorang yang unik dan dibutuhkan. Tanpa keistimewaan, kita tidak dapat mengaktualisasikan diri kita sebagaimana yang dikemukakan dalam Teori Maslow, bahwa aktualisasi diri adalah tingkatan tertinggi dalam pencapaian hidup manusia.

Pengetahuan terakhir yang perlu kita miliki ialah pengetahuan menyeluruh mengenai kehidupan. Kita dituntut untuk memahami kehidupan dari berbagai aspek, bukan berarti hanya mengetahui kulitnya saja, justru kita mengetahui esensi-esensi dari setiap aspek. Jika pengetahuan istimewa menuntut kita untuk memahami sesuatu secara mendetail, pengetahuan menyeluruh menuntut kita untuk memahami sesuatu dasarnya saja.

Jadi ketika kita membaca koran, misalnya, kita cenderung membaca artikel yang menarik atau yang berkaitan dengan bidang kita saja. Hal tersebut justru membuat kita seperti memakai kacamata kuda dan membuat kita buta akan bidang-bidang lain. Padahal kita tahu, bidang-bidang kehidupan tidak dapat berdiri sendiri. Atau jika kita membaca seluruh informasi di koran itu, informasi yang diberikan kita tangkap secara terpisah-pisah, bukan? Pengetahuan menyeluruh akan membantu kita memaknai kehidupan secara utuh karena dengannya kita mampu menyintesis informasi-informasi yang kita peroleh sehingga kita mampu menentukan langkah dan opini kita mengenai sebuah isu.

—–

Penulis : Siti Awaliyatul Fajriyah, Mahasiswi jurusan Arsitektur angkatan 2012. Awa, panggilan akrabnya adalah mahasiswa yang aktif dan senang terlibat dalam gerakan kepemudaan dan masyarakat. Saat ini ia dipercaya sebagai ketua E-CORP FTUI, sebuah ukm tingkat fakultas berupa koperasi mahasiswa. Tulisan ini adalah salah satu hasil pemikirannya saat mengikuti pelatihan K2N UI tahun 2015 ini. Ia memiliki keinginan kuat untuk tergabung dalam program K2N tahun ini sebagai salah satu wujud pengabdiannya bagi masyarakat di Siak, Riau.

Menjadi Inovator Sosial sebagai Upaya Pemerataan Kesejahteraan

“Pembangunan desa tidaklah memimpikan desa menjadi kota.” – M. Arifin Purwakananta

Jati diri Indonesia adalah jadi diri pedesaan. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah karena masyarakat desanya yang ramah. Indonesia dikenal sebagai negeri yang subur makmur karena alam pedesaannya yang sangat kaya. Begitulah Indonesia di mata dunia. Namun, mengapa rakyat Indonesia berbondong-bondong pergi ke kota? Hidup di desa lebih menenteramkan, bukan?

Dalam materi pembekalan K2N UI 2015 pada hari Sabtu, 25 April 2015 yang diisi oleh Bapak  M. Arifin Purwakananta, calon peserta mendapatkan pencerahan mengenai inovasi sosial. Istilah inovasi sosial ini sudah marak dibicarakan di negara-negara maju, misalnya Amerika. Di Indonesia sendiri, sering disamakan dengan intervensi sosial. Bedanya, pada intervensi sosial, penggeraknya berada di luar masyarakat sosial yang dimaksud. Sedangkan dalam inovasi soisal, penggerak berada di dalam (menjadi bagian) dari masyarakat itu sendiri. Para peserta K2N, dimanapun ia ditempatkan, diharapkan ia menjadi inovator sosial yang menjadikan gagasannya gagasan bersama, bukan lagi menyebutnya sebagai “gagasan saya”.

Tujuan utama inovasi sosial ialah memberdayakan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan yang saat ini cenderung menjadi komunitas yang kurang berkembang dibanding penduduk kota. Sebuah masyarakat dapat berdaya secara maksimal jika desa tersebut memiliki tiga matra pemberdayaan. Tiga matra tersebut ialah ketersediaan akses, pertumbuhan serta keadilan sosial.

Terdapat tiga unsur ketersediaan akses yang harus dipenuhi, mulai dari ketersediaan akses untuk memenuhi kebutuhan dasarnya berupa pangan, sandang dan papan untuk menjamin keberlangsungan hidupnya. Setelah memiliki akses untuk memenuhi kebutuhan dasar, masyarakatpun harus memiliki akses untuk berkembang. Akses ini dapat berupa pendidikan dan ketersediaan informasi. Elemen yang ketiga adalah ketersediaan akses dalam keadaan darurat, maksudnya adalah jaminan hidup atas keadaan-keadaan darurat.

Menurut pendapat saya, masyarakat Riau, khususnya Kabupaten Siak dan sekitarnya memiliki keterbatasan dalam akses keadaan darurat. Hal ini ditunjukkan dengan seringnya kebakaran hutan yang menyebabkan polusi udara yang sangat meresahkan warga. Hal ini menjadi kendala yang secara langsung menghambat pengembangan wilayah tersebut.

Pertumbuhan sosial di kawasan ini cukup baik dilihat dari pendapatan warganya yang memasuki kelas menengah dan sedikit yang ada di kelas bawah.  Yang patut disayangkan ialah, pertumbuhan ini masih dijalankan individu per individu sehingga belum mewakili pertumbuhan kawasan. Pertumbuhan kawasan yang diharapkan ialah munculnya produk-produk lokal yang layak dipasarkan secara nasional bahkan internasional dengan menjunjung tinggi kekhasan daerahnya. Sebuah daerah menjadi hebat dalam ekonomi jika ia memiliki fokus pada produk lokal yang hendak dibawanya ke dunia internasional. Kita dapat melihat bagaimana Cibaduyut besar dengan produk sepatunya serta Jepara dengan ukiran kayu jatinya. Riau akan menjadi provinsi yang luar biasa jika kita mampu memunculkan nilai-nilai kearifan lokal miliknya.

Mitra terakhir dalam pemberdayaan pedesaan ialah keadilan sosial yang menjamin kerja sama antar elemen masyarakat. Keadilan sosial yang pertama ialah kebijakan dari atas ke bawah yang  berangkat dari kepribadian masyarakat itu sendiri sehingga kebijakan tersebut bukanlah sebuah paksaan.

—–

Penulis : Siti Awaliyatul Fajriyah, Mahasiswi jurusan Arsitektur angkatan 2012. Awa, panggilan akrabnya adalah mahasiswa yang aktif dan senang terlibat dalam gerakan kepemudaan dan masyarakat. Saat ini ia dipercaya sebagai ketua E-CORP FTUI, sebuah ukm tingkat fakultas berupa koperasi mahasiswa. Tulisan ini adalah salah satu hasil pemikirannya saat mengikuti pelatihan K2N UI tahun 2015 ini. Ia memiliki keinginan kuat untuk tergabung dalam program K2N tahun ini sebagai salah satu wujud pengabdiannya bagi masyarakat di Siak, Riau.

E-Newsletter MAB #6 Edisi Maret 2015

*|MC:SUBJECT|*

Yayasan MAB adalah Lembaga Non-Profit yang didirikan oleh Alumni FTUI pada tahun 2003. Bertujuan untuk membantu Sivitas akademika FTUI dalam meningkatkan kualitas pendidikan di FTUI.

Beasiswa MAB

Yayasan MAB memberikan BeasiswaPendidikan dengan Total Rp 79,5 Juta

Depok (19/03), Yayasan Mata Air Biru (MAB) sebagai sebuah lembaga sosial milik alumni FTUI kembali memberikan beasiswa kepada mahasiswa dan karyawan FT UI untuk periode semester genap 2014-2015. Pemberian beasiswa ini merupakan wujud bakti dan kepedulian Alumni FTUI kepada almamater FTUI dalam meningkatkan pendidikan di lingkungan  FTUI. Bertempat di Gd. Engineering Center R. 203, turut hadir dalam prosesi penyerahan Beasiswa MAB, Dekan FTUI, Prof. Dr. Ir. Dedi Priadi, DEA dengan didampingi Manajer Kerjasama, Kemahasiswaan, Alumni & Ventura, Prof. Dr. Heri Hermansyah, ST., M.Eng serta perwakilan dari Yayasan MAB, Bu Sri Dijan Tjahjati selaku Ketua Yayasan MAB, Bu Endang Ripmiatin selaku sekretaris dan Pak Alan Marino selaku ketua Pembina Yayasan MAB.

Pada periode ini, Yayasan MAB memberikan beasiswa kepada 42 orang terdiri dari 32 orang Mahasiswa FTUI dan 10 Orang Putra-Putri Karyawan FTUI dengan total senilai Rp 79,5 Juta. Beasiswa tersebut terdiri dari 4 macam beasiswa yaitu Beasiswa MAB Prestasi, Beasiswa MAB Reguler, Beasiswa MAB Skripsi dan Beasiswa MAB Karyawan FT. Beasiswa MAB Prestasi terdiri dari dua angkatan untuk 2011 dan 2013, dimana penerima angkatan 2011 sebanyak 7 Mahasiswa dengan total Rp 24,5 Juta, sedangkan penerima angkatan 2013 sebanyak 5 Mahasiswa dengan total Rp 25 Juta. Untuk Beasiswa MAB Reguler diberikan kepada 9 Mahasiswa dengan total Rp 9 Juta, sedangkan Beasiswa MAB Skripsi diberikan kepada 11 Mahasiswa tingkat akhir dengan total Rp 11 Juta. Tak lupa juga Yayasan MAB memberikan bantuan biaya pendidikan untuk Putra/I Karyawan FTUI yang diberikan kepada 10 Karyawan FTUI dengan total Rp 10 Juta.

Sebagian besar dana beasiswa merupakan sumbangan dari donator yang merupakan alumni FTUI dan relasinya, serta kerjasama dengan perusahaan melalui program CSR nya.  Pada Beasiswa Prestasi Angkatan 2013 yang diberikan Yayasan MAB bekerjasama dengan PT. Aplikanusa Lintasarta. Lintasarta berkomitmen memberikan bantuan beasiswa kepada para penerima beasiswa Prestasi angkatan 2013 ini hingga yang bersangkutan lulus menjadi Sarjana Teknik.

Selama 11 Tahun, Yayasan MAB telah memberikan beasiswa kepada 647 penerima yang berasal dari mahasiswa dan karyawan FTUI dengan total mencapai Rp 909,875,000. Selain Beasiswa MAB, Yayasan MAB juga memberikan Beasiswa berupa Pondokan MAB yang berlokasi di Kukusan Teknik. Saat ini, Pondokan MAB dihuni oleh 17 Mahasiswa FTUI. Di akhir sambutannya, Bu Dijan selaku ketua Yayasan MAB berharap bahwa adanya Yayasan MAB bisa menjadi wadah bagi alumni untuk berkontribusi balik kepada almamater FTUI melalui pemberian beasiswa. (BS)

DANA ABADI ILUNI FTUI-MABBakti Alumni bagi Almamater FTUI
Malam Swarna Karya untuk Indonesia pada 30 Agustus 2014 lalu sebagai bagian dari Ulang Tahun ke-50 FTUI menjadi awal diluncurkannya program Dana Abadi Iluni FTUI-MAB. Program Dana Abadi ini akan digunakan untuk tiga program besar meliputi Beasiswa MAB, Pondokan MAB dan Pengembangan fasilitas laboratorium di FTUI. Sejak diluncurkan tersebut, hingga kini telah terhimpun sejumlah donasi dari alumni yang berkomitmen untuk memajukan pendidikan FTUI melalui program Dana Abadi tersebut.Data Pemasukan Donasi Dana Abadi Iluni FTUI-MAB per Maret 2015

Terima Kasih atas Donasi yang telah Anda berikan,Semoga berbalas limpahan berkah bagi Anda dan Keluarga, serta mampu memajukan pendidikan di FTUI.

Share

Tweet

Forward

+1

Copyright 2015, Yayasan Mata Air Biru, All rights reserved.Bakti Alumni bagi Almamater FTUI untuk mencerdaskan anak bangsa

Sekretariat :

Gd. Engineering Center, Lt. 2, R. 205

FTUI, Depok 16424

Telp : 021-78880766

Fax : 021-78880766

Facebook
Facebook

Twitter
Twitter

Website
Website

Email
Email