MAB News

MAB Talks #5 : Resep Sukses, Networking, Passion dan Menjadi Mata Rantai Kebaikan

inspirasi dari alumni

Asrama Beasiswa MAB, Depok, Sabtu, (14/4), MAB Talks #5: Inspirasi dari Alumni sebagai program pembinaan rutin bagi penerima beasiswa MAB kembali diadakan. Pada kesempatan ini, Yayasan MAB menghadirkan Ketua Iluni FTUI, Bapak Teten Derichard dan Komunitas Golfers Alumni FTUI (GIFT UI), Bapak Azwan Nurcandra. Selain itu, Beberapa pendiri dan pengurus Yayasan MAB juga turut hadir yakni Ibu Sri Dijan Tjahjati, Bapak Hamdion Nizar, Ibu Endang Ripmiatin dan Ibu Lista Dewi. Acara tersebut diikuti oleh sekitar 25 penerima beasiswa MAB lintas angkatan mulai angkatan 2014-2017 yang merupakan penerima beasiswa Prestasi dan beasiswa Pondokan MAB.

Sebagai rangkaian dari acara, dilakukan penyerahan secara simbolik donasi GIFT UI dari turnamen ROOSSENO CUP 2 akhir tahun lalu sebesar Rp 196 Juta. Selain itu, juga dilakukan penyerahan Beasiswa Reguler untuk salah satu putra alumni Teknik Mesin yang diberikan selama 2 semester dengan total Rp 5 Juta kepada Hanif Furqon, mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2016.

Donasi Roosseno Cup 2

Beasiswa Reguler untuk putra alumni

Sesi dibuka oleh Bapak Hamdion Nizar dengan menyampaikan pentingnya networking bagi adik-adik mahasiswa. Pertemuan mendengarkan sharing dari alumni pada acara MAB adalah sesi Networking yang tidak di dapat saat di kelas. Sebagai mahasiswa harus bisa memanfaatkan kesempatan tersebut. Lebih jauh, beliau mengingatkan bahwa MAB hanya memfasilitasi dan mewadahi selanjutnya tergantung pada diri masing-masing.

“Kuliah jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan tantangan yang ada setelah lulus nanti”. “Jangan takut men-challenge diri untuk ikut organisasi, kegiatan yang ada di kampus. Cobalah untuk berada di lingkungan yang heterogen untuk belajar toleransi dan keberagaman.”

Selanjutnya sesi dari Bapak Azwan Nurcandra yang merupakan alumni Teknik Mesin ’89. Beliau yang aktif dalam komunitas Golfers Alumni FTUI (GIFT UI) berpandangan bahwa main golf hanya sebagai media saja untuk ajang silaturahim lintas angkatan dan networking. Lebih jauh, ternyata dengan golf bisa menjadi mata rantai kebaikan dengan mengadakan charity untuk membantu adik-adik mahasiswa.

“Jangan lupakan untuk bermanfaat bagi lingkungan, menjadi mata rantai kebaikan”.

Beliau sebagai pengusaha juga membagikan resep suksesnya. Baginya, mencari peluang usaha dengan inovasi new technology yang ada di negara maju. Bila diterapkan di Indonesia, mungkin kita akan sukses. Dalam usaha pun kita harus legowo sata menderita kerugian. Jangan mematikan passion bila hal tersebut adalah hal yang kita inginkan. Bila yang kita kerjakan semata-mata hanya mencari profit tanpa ada kesenangan, akan sulit untuk meraih kesuksesan. Yakinlah bahwa semua yang kita lakukan dengan senang hati akan membawa dampak positif.

inspirasi dari alumni FTUI

Sesi Bapak Teten Derichard, Ketua Iluni FTUI yang merupakan alumni Teknik Mesin ’89 berpandangan bahwa komunitas hanyalah sebagai media saja. Karena tidak banyak orang yang mau untuk aktif mengurusi komunitas. Tanpa orang-orang tersebut, maka bisa jadi mata rantai kebaikan dari GIFT UI akan terputus dan mungkin kita tidak akan bisa bertemu satu sama lain melalui Yayasan MAB ini.

“Jangan lupakan peran kita untuk aktif membantu lingkungan”.

Terkait dengan kesempatan, beliau berpesan memanfaatkan kesempatan yang ada. Karena setiap hari adalah kesempatan kita untuk belajar. Dengan berani mencoba, berpartisipasi kita sudah berprestasi.

Sebagai ketua Iluni yang sibuk beliau juga membagikan tipsnya dalam manajemen waktu. Menurutnya, Kita boleh aktif ikut kegiatan apapun, tapi ingat dengan manajemen waktu. Kalau manajemen waktu kita buruk, akan kacau semuanya. Bagi Bang Teten, sapaan akrabnya tidak ada prioritas kegiatan 1,2,3, semua yang diambil harus menjadi prioritas.

Sebagai penutup dari Ibu Dijan dan Bu Ita menambahkan. Menurut Bu Dijan bahwa Tidak ada kata terlambat. Masing-masing orang berada pada waktunya. Bahwa kita yakin telah melakukan yang terbaik. “Do the Best and Let God do the rest”. Kita boleh menetapkan standar yang tinggi, asal memiliki semangat juang yang juga tinggi.

Bu Ita menutup dengan berpesan  bahwa Masing-masing orang mempunyai passion sendiri, jalur sendiri, tidak perlu membandingkan satu sama lain. “Reach your highest goal”. (BS)

Menghadirkan Senyum di Panti Asuhan Darul Ilmi Depok

happiness-project

Happiness is only real when shared!

Depok, Minggu (1/4), Para Penerima Beasiswa Pondokan MAB dimotori oleh Ikhsan Firdauz mengadakan kegiatan Happiness Project di Panti Asuhan Darul Ilmi, Depok. Harapannya, melalui kegiatan ini para penerima beasiswa MAB mampu menjadi insan yang bersyukur serta memiliki rasa kepedulian dan empati yang tinggi terhadap masyarakat yang membutuhkan. Panti Asuhan Darul Ilmi terletak di Beji Timur, tidak jauh dari Politeknik Negeri Jakarta. Panti ini dihuni oleh 22 anak yang terdiri putra dan putri dengan beragam jenjang pendidikan mulai dari usia sekolah dasar hingga SMA.

Pada kesempatan itu, kami mencoba berbagi inspirasi kepada adik-adik di panti dengan menceritakan bidang-bidang keteknikan sesuai dengan jurusan kami masing-masing; sipil, mesin, elektro, arsitektur, metalurgi, kimia dan industri. Antusiasme dengan hadirnya pertanyaan terus dilontarkan. Kami berharap, suatu hari nanti ada anak panti yang terinpirasi untuk melanjutkan kuliah di bidang teknik.

happiness-project-games

Usai berbagi inspirasi, kami bermain games “Be an Engineer“. Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok dan ditantang untuk membuat suatu bangunan dari material sedotan setinggi dan sekuat mungkin (tidak jatuh ketika dipegang) dengan biaya seminimal mungkin. Permainan ini selain seru, juga melatih daya kreatifitas dan kerjasama tim.

Acara hari itu berakhir menjelang zuhur yang kami tutup dengan makan sandwich bersama-sama. Sandwich ala kadarnya kami siapkan sejak pagi di Pondokan MAB. Tak lupa, sedikit donasi berupa perlengkapan kebersihan untuk panti kami sumbangkan.

Hari itu kami bersyukur bisa membagikan kebahagiaan yang kami punya kepada adik-adik di Panti Asuhan Darul Ilmi. Semoga adik-adik panti senantiasa sehat dan terus semangat menjalani kehidupan! Amiin.

MAB Talk #4: Life After Campus (3) dari Kak Qisthi dan Kak Mushab

life after campus sharing

The winner never quit, The quitter never win. “(Kak Qisthi)

“Hidup itu adalah keselarasan di antara 2 pilihan. Cari keseimbangan di antara keduanya!” (Kak Mushab)

Sabtu, 24 Maret lalu, sesi MAB Talks #4 : Life after Campus (3) yang melanjutkan sesi-sesi sebelumnya kembali diadakan. Kali ini, kedua pembicara adalah Kakak Alumni yang saat ini berprofesi sebagai dosen di FTUI. Mereka adalah Kak Aulia Qisthi yang merupakan alumni FT jurusan Teknik Lingkungan angkatan 2011 dan Kak Mushab Abdu Asy Syahid yang juga merupakan alumni FT jurusan Arsitektur angkatan 2011. Selain itu, Kak Qisthi juga merupakan alumni Beasiswa Rumah Kepemimpinan, sedangkan Kak Mushab adalah alumni Beasiswa Pondokan MAB.

Sesi dimulai dengan Kak Aulia Qisthi. Setelah lulus dari Teknik Lingkungan pada tahun 2015, Qisthi, begitu sapaan akrabnya melanjutkan S2 fast track di FTUI. Di akhir studinya, ia diterima untuk kuliah di Perancis melalui Beasiswa Erasmus di IMT Atlantique.

Kak Qisthi memaparkan bahwa pilihan yang kita ambil pada pasca kampus nantinya harusnya kita pertimbangkan dengan matang. Ia memberikan beberapa langkah metode dalam menentukan pilihan tersebut yaitu dengan Logic Tree, Priority Matrix, Hypothesis Pyramid, Pros and Cons Strategy dan evaluasi. Namun, yang terpenting menurutnya adalah jangan sampai keputusan yang kita pilih tidak membebani atau tidak disetujui oleh orang tua.

Ia juga menceritakan pengalamannya ketika studi di Perancis. Menurutnya, Bahasa inggris sangat penting. Oleh karena itu, kita jangan cepat puas dengan capaian Bahasa inggris kita saat ini meskipun sudah memenuhi standar minimal untuk apply beasiswa.

Menurutnya, Kita harus tertantang untuk memiliki nilai IELTS lebih tinggi, meskipun standar minimal 6,5 untuk apply beasiswa. Karena itu akan menyusahkan kita nantinya. Bahkan, nilai IELTS 8 atau 8,5 saja masih membuat kita terkadang tidak percaya diri.

Tips lainnya, ketika kita study di luar negeri sebaiknya kita ‘make friends’ dengan teman-teman dari negara lain. Jangan sampai kita hanya berkumpul dengan sesame pelajar Indonesia saja. Lebih penting, jangan sampai ketidak pede-an menghalangi kita untuk maju. Untuk mencapai kesuksesan tidak ada yang instan, kita harus menapaki tangga kesuksesan itu satu per satu. Seperti kata Ziglar : “There is no elevator to success, you need to have the stair.”

life-after-campus-3

Selanjutnya dari Kak Mushab, begitu sapaan akrabnya. Setelah lulus dari Arsitektur pada tahun 2015, ia langsung melanjutkan S2 di jurusan yang sama di UI dan lulus Agustus 2017 lalu. Ia kini menjadi dosen di Arsitektur UI dan juga di Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Tak jauh berbeda dengan Kak Qisthi, Kak Mushab, menggambarkan dunia pasca kampus sebagai sebuah paradox ; Dua hal yang kontradiksi. Ia melihat bahwa ada kontradiksi ketika ia menjadi mahasiswa dan sekarang setelah lulus. Paradoks antara 2 pengalaman tentang berpikir dan kenyataan di kehidupan. Menurutnya, kehidupan di luar tak seideal apa yang dipikirkan ketika menjadi mahasiswa.

Melihat itu, ia menjabarkan konsep kehidupan antara kampus dan pasca kampus sebagai sebuah pyramid dan labirin. Pyramid, dari luar kita bisa melihat langsung bentuknya; besar, segitiga, tetapi kita tidak tahu bagaimana ruangan di dalamnya. Kita tahu, tapi tidak merasakannya. Pyramid ibarat kehidupan kampus dimana kita berpikir bahwa apa yang kita pikirkan harusnya sesuai dengan ilmu dan teori yang kita pelajari dari buku-buku teks, tapi kita belum merasakan kenyataan di lapangan seperti apa.

Sedangkan labirin, ketika kita memasukinya, kita tidak pernah tahu di mana akan berakhir dan bagaimana bentuk labirin sebenarnya. Labirin ibarat kehidupan pasca kampus. Kita bisa merasakannya, tetapi tidak tahu dimana ujungnya atau apa yang akan terjadi pada kita nantinya. Maka itu, kita perlu menyelaraskan keduanya dengan menjadi manusia yang bermanfaat, seperti Hadits “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.” (BS)

MAB Talk #3: Life After Campus (2) dari Kak Awa dan Kak Nisa

 life-after-campus

“Kenali diri kalian- kelebihan dan kelemahan yang kalian miliki- untuk menentukan impian kalian ke depan” (Kak Nisa)

“Setiap orang dianugerahkan potensi dan jalan hidup yang spesifik untuk mengisi slot kontribusi di masa depan yang juga spesifik” (Kak Awa)

Sabtu, 17 Maret lalu, kembali diadakan MAB Talks #3 : Life after Campus (2) yang menghadirkan Alumni Beasiswa Pondokan MAB yaitu Kak Siti Awaliyatul Fajriyah dan Kak Nurhidayatun Nisa. Kak Awa dan Kak Nisa, begitu sapaan akrabnya adalah alumni FT angkatan 2012 dari jurusan Arsitektur dan Teknik Perkapalan yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2016 lalu. Masa dua tahun setelah lulus menjadi Sarjana Teknik tersebut telah dilaluinya dengan pilihan yang sedang mereka jalani saat ini.

Melanjutkan sesi sebelumnya, kali ini Kak Awa dan Kak Nisa bercerita mengenai pengalaman yang telah dilaluinya usai lulus.

Awa memulai sesinya dengan definisi sukses yang ia pegang. Baginya, sukses adalah semua capaian di dunia untuk kebahagiaan di akhirat. Perjalanan usai lulus pada 2016 lalu, ia tidak langsung memilih untuk bekerja. Sebelumnya ia berencana melanjutkan kuliah S2 dan berusaha mengejar beasiswa yang ada. Sembari mempersiapkannya, ia juga merintis usaha di bidang sosial atau sociopreneur dengan dukungan dari DIIB UI. Namun, keduanya tidak menjadi prioritasnya kini. Menurutnya untuk melanjutkan studi usai lulus, kita harus punya alasan dasar yang kuat, persiapan yang matang dan juga motivasi yang tinggi. Sedangkan untuk memulai usaha, tentunya kita perlu mental yang tahan banting serta dukungan dari keluarga.

Akhirnya, di akhir 2017, Awa mantap untuk mengambil pilihan menjadi abdi negara di Kementerian PUPR. Tantangan baru pun dimulai agar bisa survive menjalani pilihannya sekarang. Berbeda ketika ia masih menjalani usaha, ia merasa waktunya kini banyak terkuras dan harus siap menghadapi tantangan hidup perkotaan.

life-after-campus

Berbeda dengan Awa, Nisa saat ini bekerja sebagai technical support di salah satu perusahaan perkapalan di Jakarta. Sebagai perempuan yang bekerja di bidang yang kebanyakan lelaki menjadi tantangan tersendiri baginya. Berhari-hari berada di kapal dan lingkungan kerja yang kebanyakan laki-laki sudah tidak asing lagi baginya. Meskipun awalnya tidak nyaman, namun menurut Nisa Ia harus belajar untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya itu. Menurutnya, sangat penting soft skill yang dipelajari dari organisasi seperti leadership, teamwork, planning, komunikasi dan problem solving.

Semoga sharing tersebut bermanfaat! Sampai bertemu di sesi sharing “Life after Campus” berikutnya.

Life at MAB : Mereka yang Kusayangi di MAB

Keluarga-MAB-Putri

Di pondokan MAB, saya hidup bersama dengan empat adik tingkat. Tiga orang dari angkatan 2017, satunya lagi dari angkatan 2016. Hidup bersama, mengharuskan saya meng-install beberapa nilai baru yang kemungkinan tidak terlalu diperlukan jika saya hidup sendiri.

Saya harus lebih peka terhadap teman-teman serumah, agar teman-teman juga peka terhadap saya. Saya harus mengingatkan teman-teman serumah ketika mereka berbuat salah, agar teman-teman juga tidak sungkan mengingatkan saya ketika saya berbuat salah. Saya harus menyayangi teman-teman serumah setulus hati saya, agar teman-teman juga mau menyanyangi saya dengan tulus.

Pernah pada suatu hari, jadwal saya begitu penuh dari pagi buta hingga menjelang tengah malam. Ditambah lagi, saya belum makan sejak siang sehingga magh saya kambuh. Ketika magh saya kambuh, perut saya akan sakit dan kepala saya akan sangat pusing. Biasanya, obat yang paling ampuh saat magh saya kambuh adalah dengan makan sedikit lalu tidur hingga pagi. Dan saya melakukannya, memaksa kepala pusing saya untuk tidur.

Di waktu subuh saya bangun, kenyataan yang saya harapkan tidak sepenuhnya terjadi. Sakit di perut saya memang sudah reda, tapi kepala saya masih sangat pusing. Saya berusaha bangkit dan membuat teh hangat. Saya tempelkan telapak tangan saya di sekeliling gelas berisi teh panas itu untuk menyalurkan kehangatan dengan harapan dapat sedikit mengurangi sedikit rasa sakit di kepala saya. Saya seruput teh itu perlahan. Karena beebrapa menit kemudian tidak menunjukkan adanya tanda-tanda menuju kesembuhan, saya menenggak habis teh itu. Dan, masih sama saja. Rasa pusing di kepala saya begitu menyiksa. Bahkan, pusing tersebut mempengaruhi perut saya yang tadinya baik baik saja jadi merasa mual.

Saya membuka group whatsapp yang beranggotakan teman-teman serumah, saya tanyakan apakah diantara mereka ada yang memiliki stock tolak angin karena saya merasa terlalu pusing untuk beli keluar. Dan kurang dari 1 menit, teman-teman saya secara bersamaan membuka pintu kamar mereka dan menghampiri saya dengan masing-masing tangan mereka memegang satu sachet tolak angin. Saya terharu.

Dalam hati saya berdoa, semoga hubungan diantara saya dan teman-teman serumah akan selalu harmonis dan berkah hingga jannah-Nya.

Cerita saya diatas merupakan implementasi dari beberapa nilai yang kami terapkan selama kami hidup bersama di pondokan MAB.

Saya yakin, teman-teman serumah saya mau menolong saya karena mereka sayang terhadap saya, sebagaimana saya yang sayang terhadap mereka. Karena kami adalah keluarga.

—-

Penulis :

Trianti Puji Sadermi atau lebih akrab disapa Anti adalah mahasiswi jurusan Teknik Mesin angkatan 2015. Anti merupakan penerima Beasiswa Pondokan MAB yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Sebagai Kakak tertua di Asrama Pondokan MAB Putri, Anti belajar untuk menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya di MAB Putri. Mengenal Anti lebih dekat di @triantipujisadermi.

MAB Talk #2: Life After Campus (1) dari Kak Mimi dan Kak Elsa

Life After Campus

“Di Dunia ini kita bisa jadi apa saja. Pilihlah untuk menjadi orang baik” (Kak Mimi)

“Do yout best! Bukan hanya saat di dunia kerja, tapi dimulai sejak dini di perkuliahan!” (Kak Elsa)

Masa-masa setelah lulus dari kampus menjadi masa-masa yang dikhawatirkan oleh sebagian orang. Menentukan langkah hendak kemana menjadi sangat penting. Disinilah fase life crisis sebagian besar anak muda dimulai. Fase-fase penentuan apakah akan lanjut studi, mencari pekerjaan, memulai bisnis atau menikah menjadi pilihan-pilihan yang perlu dipikirkan secara matang.

Sabtu, 3 Maret lalu, Alumni Beasiswa Pondokan MAB yaitu Kak Elsa Philiani dan Kak Miranda Hasanah berbagi cerita bersama penerima Beasiswa MAB terkait “Life after Campus”. Kak Elsa dan Kak Mimi, begitu sapaan akrabnya adalah alumni FT angkatan 2010 dari jurusan Arsitektur dan Teknik Kimia yang menyelesaikan studinya pada tahun 2014 lalu. Hingga kini, setidaknya mereka berdua sudah merasakan dunia kerja minimal setahun.

Sharing Life After Campus ini akan diadakan berseries dengan menghadirkan alumni penerima beasiswa MAB yang telah lulus dari FTUI 1-5 tahun dengan beragam backgorund pengalaman. Perjalanan karir tiap orang mungkin berbeda-beda satu sama lain yang akan menjadikannya bekal meniti karir hingga meraih kesuksesan. First impression ketika mendapatkan pekerjaan pertama sangat menarik untuk dibagikan kepada adik-adik yang juga akan menjadi alumni.

Elsa yang saat ini bekerja sebagai junior architect menuturkan bahwa kita perlu melakukan yang terbaik. “Do your best” besar atau kecil peran yang kita terima dalam pekerjaan. Kita perlu selalu melakukan yang terbaik dalam semua hal, termasuk tugas-tugas kuliah yang diberikan oleh Dosen. Sebagai lulusan UI, terkadang kita memiliki ego yang cukup besar. Padahal, karir itu berproses. Ia yang juga lulusan profesi arsitektur mengalami hal itu ketika mendapatkan tugas yang terlihat sepele yaitu mewarnai. Namun, seiring berjalannya waktu muncul pemahaman akan proses tersebut.

Lain hal nya dengan Mimi yang kini sebagai asisten riset di FTUI. Sebelumnya ia pernah merasakan pengalaman di dunia industri, tetapi asisten riset menjadi pilihannya. Menurutnya ada plus minus dari setiap pekerjaan yang kita pilih. “Kita harus memiliki value untuk menjaga idealisme kita saat bekerja agar tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Karena tidak semua orang yang pekerjaan dengan kita adalah orang baik.” Ia juga menambahkan bahwa bekerja adalah tentang kenyamanan. Ia bersyukur atas pilihan pekerjaan yang ia ambil saat ini sehingga tidak perlu menghabiskan waktu di perjalanan dan berdesakan di Commuter line setiap harinya.

Life after campus

Berikut beberapa poin yang bisa diambil dari Sharing Kak Elsa dan Kak Mimi ;

  • Fase saat bekerja menuntut kita untuk menjadi orang yang lebih bertanggung jawab. Kita harus berusaha menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan deadline yang ditetapkan.
  • Kita perlu menyiapkan value diri sebelum memasuki dunia kerja agar tidak mudah terpengaruh. Tidak semua teman kerja adalah orang baik.
  • Komunikasi dengan teman dekat semasa kuliah sangat penting untuk memberikan semangat dan pandangan. Teman kuliah atau sekolah menjadi pertemanan yang murni karena dimulai ketika kita belum menjadi apa-apa.
  • Pilihan untuk resign dari suatu pekerjaan pasti ada. Selagi bisa bertahan, nikmatilah.
  • Ada banyak alasan untuk bertahan dari suatu pekerjaan; faktor keluarga, faktor lingkungan dan faktor kenyamanan.
  • Komunikasi dengan orang tua sangat penting terkait dengan pekerjaan yang kita pilih.
  • Do what you love, and love what you do. Nikmati setiap pekerjaan yang sudah menjadi pilihan kita saat ini.

Sampai bertemu di sharing Life After Campus (2) dan (3) pada 17 dan 24 Maret mendatang!

 

Life at MAB : Menantang Diri dengan Mengambil Amanah

Penerima Beasiswa MAB Putri

Perkenalkan, Aku Ika Nurkhasanah Prasetyaningsih. Mahasiswa semester dua jurusan Teknologi Bioproses Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Mahasiswa yang sedang menantang diri untuk mengambil peran dan belajar sebanyak-banyaknya, seutuh-utuhnya. Mahasiswa yang sudah dan sedang berusaha merealisasikan apa yang selalu ia tulis dalam motivation letter-nya tiap akan mendaftar organisasi yang alhamdulillah sekarang ia sudah menjadi bagiannya. Begini bunyinya,

. . .

“Menjadi aktif dan kontributif atau menjadi pasif dan tidak peduli merupakan hak pilih masing-masing orang. Bagi saya hidup adalah pendakian prestasi, menyusun kebaikan-kebaikan dan kebermanfaatan menjadi tangga-tangga untuk mencapainya. Prestasi menurut saya adalah ketika saya bisa berhasil mencoba hal baru dan bisa melakukan hal yang saya suka dengan maksimal.”

“Menghadirkan ‘hiu-hiu kecil’ dalam diri berarti senantiasa ingin untuk terus berkembang. Bukan untuk menyiksa kita, namun untuk naik level dan meng-upgrade diri.

“Menghadirkan ‘hiu-hiu kecil’ berarti menonaktifkan mode ‘comfort zone’ dalam diri. Maka sudahkah kita menghadirkan ‘hiu-hiu kecil’ dalam diri kita?”

. . .

Aku berusaha menghadirkan hiu-hiu kecil itu waktu itu. Dan hiu-hiu kecil itu sekarang sudah di depan mata. Hiu-hiu kecil berupa amanah yang cukup banyak jumlahnya. Bukan maksud ingin terlihat hebat atau menjadi mahasiswa superaktif agar disanjung dan dikenal banyak orang. Bukan seperti itu sama sekali. Aku hanya ingin mencari pengalaman sebanyak-banyakya selagi masih bisa dan masih ada kesempatan. Aku ingin memberi kebermanfaatan di banyak ranah, ranah lembaga kemahasiswaan, ranah keilmuan, ranah pengabdian masyarakat, maupun keislaman. Intinya satu, menyebar kebaikan, untuk diri sendiri, organisasi, dan umat.

Hari ini, Jumat, 2 Februari 2017, ada pertemuan perdana semester genap 2017/2018 para penerima beasiswa pondokan MAB sekaligus sosialisasi kegiatan selama satu semester dan sharing apa saja yang ingin dicapai semester ini serta apa saja amanah yang sedang dan akan diemban. Ada banyak hal yang aku pelajari dari sharing teman-teman, entah itu langsung atau pun secara tersirat. Amanah bukan ajang gaya-gayaan. Ada tanggung jawab yang melekat dalam amanah. Dan itu tidak main-main.

Aku berdialog dengan diri sendiri tadi tentang aku dan apa sebenarnya yang ingin aku raih dengan kesibukan-kesibukan yang aku pilih untuk untuk menemaniku menjalani semester dua ini.

Aku bukan mahasiswa jenius dengan IP sempurna, bahkan Cum Laude juga tidak. Tapi aku berani mengambil kegiatan diluar kegiatan akademis lebih banyak dari teman-teman seangkatan yang memiliki IP lebih tinggi. Awalnya, jujur, aku sempat berkecil hati dengan apa yang aku pilih. Gentar memikirkan berapa penuhnya mungkin sore hariku sepanjang weekdays. Namun aku ingat apa yang aku tuliskan di buku agenda harianku, bahwa aku hanya harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Menyerah atau berkesah tentang betapa beratnya nanti bukanlah sifat dan sikap seorang pemimpin.

Okay, aku memilih jalan ini karena ada sosok yang selalu akau impikan ada di dalam diriku. Sosok pemimpin. Sosok yang menakjubkan dalam mengelola waktu. Sosok yang tidak pernah melepaskan satu momentum pun. Pemimpin diri sendiri, dan umat (semoga suatu saat bisa, aamiin). Pemimpin yang mampu memberi teladan kepada oorang-orang terdekat. Pemimpin bagi adik dan kebanggaan bagi orang tua. Hingga jika suatu saat adik sudah dewasa dan ia berkata, “Aku ingin seperti kakak,” yang ia contoh dari kakaknya adalah hal-hal baik.

Aku memilih jalan ini karena aku ingin menjelma menjadi seorang pemberani yang sarat pengalaman. Aku memilih jalan ini karena aku ingin tahu banyak hal. Aku ingin berhenti berkata “Aduh aku tidak bisa karena aku belum pernah melakukannya.” Atau “Aduh aku akan kesulitan nanti karena sama sekali tidak tahu dan tidak pernah bersentuhan dengan itu.” Atau aduh aduh yang lain. Aku ingin mencari tahu sekarang. Semua butuh awalan. Aku mengatakan bahwa ini momen yang bagus untuk mengawali.

Semua akan siap ketika aku siap. Dan aku sudah siap! Doakan.

. . .

Penulis :

Ika N. Prasetyaningsih, merupakan mahasiswi Teknologi Bioproses angkatan 2017. Ika adalah salah satu penerima beasiswa Pondokan MAB yang berasal dari daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Mengenal ika lebih dekat di @ika_Nprasetya_

Selamat Kepada Penerima Beasiswa Prestasi MAB Batch 7 Part 2

penerima beasiswa prestasi pertamina retail

Setelah melalui proses seleksi yang ketat kepada pendaftar Beasiswa Prestasi MAB Batch 7 yang terdiri dari seleksi berkas dan wawancara, serta penilaian dari prestasi akademik, non-akademik, verifikasi data saat wawancara, potensi untuk berkembang, kemandirian, kriteria sudah tidaknya menerima Beasiswa di FTUI, maka kami dari Yayasan MAB memutuskan nama-nama berikut sebagai penerima Beasiswa Prestasi MAB Batch 7.

  1. Paras Ayu Cinta Nandhita (Teknik Lingkungan)
  2. Gabriel Manalu (Teknik Elektro)
  3. Virania Syifa MD (Arsitektur)
  4. Lutviah Sari (FKM)

Kami ucapkan selamat kepada penerima Beasiswa Prestasi MAB Batch 7 part 2 ini. Beasiswa ini merupakan kerjasama Yayasan MAB dengan PT. Pertamina Retail. Prosesi penyerahan beasiswa bisa di cek di link berikut.

Semoga Beasiswa Prestasi ini bisa menjadi penyemangat untuk meningkatkan prestasi. Kepada pendaftar yang belum berkesempatan menjadi penerima Beasiswa Prestasi MAB, semoga tidak patah semangat untuk terus meningkatkan prestasinya. (BS)

Awal Semester Genap TA 2017/2018, Yayasan MAB Menyalurkan Rp 85 Juta Beasiswa Prestasi

Penyerahan Beasiswa Prestasi MAB Semester GenapUniversitas Indonesia, Depok (14/2), Yayasan Mata Air Biru (MAB) kembali menyerahkan Beasiswa Prestasi periode semester genap TA 2017/2018. Bertempat di EC. 201, prosesi penyerahan dihadiri oleh Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Dr. Hendri D.S. Boediono, Manajer Kemahasiswaan dan Alumni, Badrul Munir, Ph.D serta Ketua Yayasan Mata Air Biru, Ir. Sri Dijan Tjahjati, MM serta mahasiswa penerima beasiswa MAB.

Beasiswa Prestasi MAB merupakan beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa FTUI yang membutuhkan guna meningkatkan prestasi akademiknya dan diharapkan bisa membantu mahasiswa dalam mencapai gelar sarjana teknik. Beasiswa ini diberikan secara kontinyu selama 6 semester mulai semester 3 hingga semester 8 atau penerima lulus menjadi sarjana teknik dengan nilai beasiswa Rp 5 Juta/mahasiswa/semester.

Pada periode semester genap ini, Yayasan MAB menyalurkan Rp 85 Juta untuk penerima Beasiswa Prestasi yang sebagian besar merupakan mahasiswa FTUI angkatan 2014-2016 serta 1 mahasiswi FKM UI angkatan 2016 dengan total penerima sebanyak 17 orang. Selain itu, disamping penerima Beasiswa Prestasi, ada 15 mahasiswa FTUI dan 1 mahasiswa FMIPA yang menjadi penerima Beasiswa Pondokan MAB, sebuah beasiswa rumah tinggal untuk mahasiswa asal daerah yang kuliah di Universitas Indonesia.

Adanya beasiswa Prestasi MAB adalah berkat sumbangsih donatur baik perorangan maupun kerjasama secara instansi untuk menjadi kakak asuh dengan membiayai mahasiswa FTUI yang membutuhkan hingga mencapai gelar sarjana. Kami mengucapkan terima kasih kepada para donatur Beasiswa MAB baik perorangan maupun instansi, khususnya yang telah bermitra dengan Yayasan MAB dalam menyalurkan beasiswa ini.

Semoga Beasiswa Prestasi ini bisa memberikan kebermanfaatan bagi pendidikan anak bangsa yang membutuhkan di Universitas Indonesia, khususnya Fakultas Teknik dalam mencapai gelar sarjana. (BS)

MAB Talk #1: Putri Mandara Berbagi Pengalaman Study in UK

Study in UK Putri Mandara

If you have a dream, go for it!

Pada MAB Talk #1 di tahun 2018 ini, Rumah Inspirasi MAB menghadirkan Putri Mandara, alumni Sastra Inggris FIB UI, juga pengajar Kelas Bahasa Inggris MAB yang baru saja menyelesaikan studinya di King’s College London, UK dengan mengambil TESOL. Dengan Beasiswa LPDP yang ia dapat pada tahun 2015, ia berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu akhir 2017 lalu.

Sesi yang sangat inspiratif dari Mbak Putri, begitu akrab disapa dimulai dengan pertanyaan dasar: Mau kemana setelah lulus nanti?

Ya, sebagai mahasiswa mungkin kita seharusnya sudah memiliki tujuan hendak kemana setelah kita lulus nanti. Apakah akan bekerja, lanjut S2 atau bekerja dahulu selama beberapa tahun kemudian lanjut S2. Hal ini penting untuk mempersiapkan sedini mungkin, terutama bagi mereka yang ingin lanjut studi setelah lulus dari S1. Persiapan itu harus dilakukan sejak menjadi mahasiswa S1, bukan nanti-nanti.

Menurutnya, perbedaan antara orang yang langsung lanjut studi S2 dibandingkan dengan yang bekerja terlebih dahulu adalah orang-orang yang sudah bekerja terlebih dahulu lebih mempunyai perspektif yang berbeda sehingga lebih tahu akan mengambil apa saat studi S2 karena pernah terjun ke dunia kerja.

Selanjutnya, hal yang paling penting jika ingin kuliah di luar negeri adalah bahasa inggris. Banyak orang yang ingin kuliah di luar negeri tidak jadi karena bahasa inggrisnya belum memenuhi target. Bahasa inggris ini penting karena menjadi bahasa utama selama kita menempuh studi. Oleh karena itu, perlu belajar dari sekarang untuk mempersiapkan kemampuan kita pada bahasa inggris.

Pilih sekolah yang akan kita tuju. Mungkin banyak yang berpikir bahwa studi di luar negeri adalah tentang jalan-jalan, padahal itu hanya sebagai bonus saja. Yang terpenting adalah akses belajar yang mungkin tidak akan kita dapatkan di tempat lain. Bayangkan kita bisa belajar dari kampus dimana Newton menemukan Hukum Newtonnya, atau belajar di kampus yang dosennya adalah penulis text book yang selama ini kita baca.

Dalam memilih sekolah, kita perlu riset data terkait timeline pendaftaran universitas, persyaratan yang dibutuhkan dan semuanya kalau bisa dibuat matriks database sehingga kita tidak perlu bolak-balik mengunjungi website universitas yang bersangkutan.

Setelah dipastikan kita mendapatkan LoA dari sekolah yang kita tuju, kita tinggal mencari beasiswa yang sesuai. Saat ini ada banyak sekali beasiswa yang memberikan kesempatan anak bangsa untuk kuliah di luar negeri.

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, yakni :

  1. Tujuan setelah lulus (apakah akan lanjut S2 atau kerja terlebih dahulu)
  2. Update terhadap informasi beasiswa (Timeline, persyaratan dokumen, proses seleksi)
  3. Sekolah yang ingin dituju (pilih 3 pilihan sekolah)
  4. Persiapkan diri untuk memenuhi standar yang diminta (bahasa inggris, ipk, dll)
  5. Persiapkan modal untuk test bahasa inggris (IELTS, TOEFL IBT)
  6. Sharing dengan penerima beasiswa sebelumnya, baca-baca sharing di blog penerima beasiswa yang kita tuju.
  7. Good luck!

Jangan pernah takut bermimpi! Mari persiapkan sejak sekarang!