MAB News

Tetapkan Target IP yang Besar

“Tetapkan target yang besar, jika tidak tercapai setidaknya kau akan jatuh diatas pencapaian mu sebelumnya…”

Pondokan MAB (Depok), Tahun ajaran 2014/2015 telah berakhir. Usaha maksimal dari proses belajar selama satu semester bisa dilihat dari grafik indeks prestasi. Harap-harap cemas menyelimuti apakah pencapaian di semester ini akan lebih baik ataukah sebaliknya.

Di pertengahan semester lalu, usai mengobrol singkat dengan Bu Tin, tercetus ide untuk menetapkan target pencapaian IP untuk semester ini. Tentunya disesuaikan dengan pencapaian IP di semester sebelumnya. Maka, ide itu segera terealisasi dengan pendataan IP dan target dari tiap penerima beasiswa Pondokan MAB. Meski dengan bonus reward bagi yang bisa mencapai target yang ditetapkan. Untuk awalan, reward ini bisa sebagai pemicu bagi para penerima beasiswa untuk lebih giat lagi dalam belajar.

*****

Senin lalu merupakan hari terakhir batas penginputan nilai dari dosen ke system SIAK-NG. biasanya dosen yang tidak juga menginput nilai hingga batas yang ditentukan, maka nilai akan di default B. Tak lupa dengan target dan berdo’a lebih banyak agar target itu terlampaui.

Sehari setelah dipublikasikannya semua nilai ke sistem SIAK-NG, aku kembali mendata para penerima beasiswa mengenai IP mereka. Satu persatu membalas.

“Alhamdulillah, ka… ”

“Yah, tidak mencapai target ka…”

Begitulah reaksi mereka. Namun, apapun hasil yang didapat, aku mencoba menyemangati mereka secara personal, “Setidaknya telah berusaha maksimal mencapai target. Semoga bisa ditingkatkan lagi ya di semester depan…

*****

Penentuan target ternyata memiliki nilai positif bagi para penerima beasiswa MAB. Kulihat dari grafik IP dibandingkan dengan semester sebelumnya sebagian besar mengalami peningkatan, meskipun dari target yang ada belum tercapai. Target ini membuat lebih jelah capaian proses belajar yang telah mereka jalani selama satu semester.

Di tiap jurusan mungkin memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda dalam perkuliahannya sehingga IP yang dicapai oleh masing-masing berbeda-beda. Untuk mereka yang masih memiliki IP dalam rentang 3-3,5 menargetkan untuk bisa mencapai >3,5, sedangkan untuk mereka yang memiliki IP >3,5 biasanya langkah pertama adalah mempertahankan perolehan IP tersebut, kemudian meningkatkannya. Dalam kasus ini mempertahankan terkadang lebih sulit daripada mencapainya.

Dan dari rekapitulasi perolehan IP semester genap para penerima beasiswa MAB, ada tiga orang yang meraih IP tertinggi yaitu Wahyu (Teknik Perkapalan 2011) IP : 3,7 ; Raja (Teknik Perkapalan 2013 ) IP : 3,69 ; dan Mahfud (Teknik Perkapalan 2012) IP 3,64.

Sebuah pencapaian ini adalah langkah awal untuk mencapai target yang lebih besar lagi ke depan. Semoga bisa terus meningkatkan pencapaian ini dan terus berprestasi.

Pondokan MAB : Mata Air Harapan

Seperti mata air yang selalu menghadirkan kesejukan bagi manusia, Pondokan MAB selalu menyegarkan kembali semangat kami untuk berprestasi. ( Mata Air Harapan )

Sebelum menjadi bagian dalam untaian keluarga bernama Mata Air Biru, aku bukanlah siapa-siapa. Hanya seseorang yang senang dengan prestasi-prestasi di permukaan, bukan prestasi-prestasi esensial. Senang ikut sana-sini tanpa tahu kemana akan pergi. Jangankan hari libur, waktu senggang di sela-sela perkuliahan pun aku isi dengan hal-hal yang tidak jelas kebermanfaatannya. Ah, aku sangat menyesal. Berapa jam yang aku habiskan untuk kegiatan yang sama sekali tidak membawaku kemana-mana karena aku pun belum memiliki tujuan.

Waktu itu semester 3 akhir, sekitar bulan Oktober, aku ditawari untuk menjadi penerima Beasiswa Pondokan MAB. Awalnya aku ragu karena aku khawatir waktu luangku akan tersita oleh kegiatan pembinaan di pondokan. Namun dari pengalaman temanku yang sudah menjadi penerima sebelumnya, akupun akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut.

Mendengar bahwa aku mendapat Beasiswa Podokan ini, orang tuaku terdengar sangat senang. Tentu saja, setelah gagal mendapat Bidik Misi, kabar ini seperti hadiah yang Tuhan berikan kepada kami. Orang tuaku pun senang aku tinggal di pondokan ini karena pergaulanku akan terjaga dan mereka tidak perlu khawatir. Ditambah dengan pembinaan-pembinaan yang akan menjadi alat bagiku untuk mengakselerasi kemampuan diri.

Benar saja. Setelah aku menjadi bagian dari MAB, aku merasakan banyak perubahan. Suasana pondokan yang kondusif untuk beribadah membuatku sedikit demi sedikit memperbaiki hubunganku dengan Tuhan. Shalat berjamaan, membaca Quran dan puasa sunnah menjadi hal yang biasa disini. Padahal sebelumnya aku belum terbiasa dengan hal ini. Saat itu saya berharap ini adalah langkah yang baik untuk mengawali sebuah perubahan besar.

Lokasi pondokan yang dekat dengan kampus mempermudah mobilitasku dalam berkegiatan. Apalagi kegiatan organisasi yang terkadang mengaruskanku pulang larut malam. Aku sangat bersyukur karena aku tidak perlu menghabiskan lebih banyak waktu, tenaga dan uang untuk berkegiatan seperti itu.

Fasilitas-fasilitas yang disediakan di pondokan sangat menunjang perkuliahanku di arsitektur. Aku tidak perlu lagi mencari ruang yang cukup luas untuk menggambar di kertas A1 atau membuat maket dengan ukuran 70 cm x 100 cm. Akupun tidak perlu jauh-jauh mencari makan karena disana kami bisa memasak.ah, baru disitu aku merasakan bahwa hidup di arsitektur tidaklah sesulit itu.

Keberadaan teman di pondokan itu adalah penyulut semangat yang jitu. Berbincang mereka sangat menyenangkan. Tidak hanya obrolan-obrolan serius mengenai solusi sebuah masalah, tetapi obrolan-obrolan santai mengenai kehidupan sehari-hari menjadi bahan diskusi yang tidak pernah habis. Ketika aku sakit, merekalah orang pertama yang menanyakan keadaanku. Ketika aku pulang larut, mereka pula orang pertama yang menanyakan apakah aku baik-baik saja. Perhatian tulus yang mereka berikan seolah aku adalah bukanlah orang asing bagi mereka. Terkadang aku merasa kehadiran keluargaku di Bandung dalam pondokan ini.

Membuat MAB bersinar dengan prestasi

Harapan pembina pondokan kami adalah menjadikan kami pemuda yang mandiri. Dengan kemandirian itu, kami tidak lagi menggantungkan kebutuhan kami kepada orang tua. Namun kami sadar, harapan orang tua kami di MAB tidaklah berhenti sampai disitu. Setelah kami mampu mandiri, kami harus mampu meraih prestasi-prestasi sesuai bidang kami, baik itu akademis maupun akademis.

“Aku senang pegang uang.” Itu adalah alasanku untuk berkontribusi di bidang keuangan. Menjadi bendahara di Ikatan Mahasiswa Arsitektur dan Ketua Koperasi menjadi pengisi waktu luangku untuk kegiatan intrakampus. Sedangkan untuk kegiatan ekstrakampus aku bergabung dengan Inspiranessia, sebuah gerakan sosial untuk menginspirasi adik-adik SMA agar mau meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Dalam gerakan yang diinisiasi oleh temanku saat Learning Camp LPP Salman ITB ini, aku menjadi bendahara umum. Sejak saat itu aku mulai mengerti bahwa kontribusi yang aku lakukan adalah untuk menjadi bagian dari perubahan negara ini kedepannya.

Beberapa bulan lalu aku mengikuti sebuah pelatihan kepemimpinan nasional yang diikuti oleh pemuda dari berbagai universitas di Indonesia, School for Nation Leader. Dalam pelatihan ini, aku bertemu teman-teman baru dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dahkan Sulawesi. Disitu kami dididik menjadi negarawan muda yang akan memimpin Indonesia di masa depan demi terwujudnya Indonesia Emas 2045. Yang membuat aku sadar bahwa selama ini prestasiku belum ada apa-apanya bukanlah karena bertemu dengan teman-teman yang menduduki jabatan-jabatan strategis di organisasinya, tapi karena dengan umur yang tidak jauh berbeda, ilmu yang mereka dapatkan sudah jauh lebih banyak dibandingkan aku. “Kemana saja aku selama ini?”

MAB : tempat tumbuh kreativitas, tempat lahir harapan baru

Sepulangnya ke MAB dari pelatihan itu, aku bertekad untuk terus mengejar ketertinggalan. Begitu banyak isu-isu diluar sana yang masih tidak aku pedulikan. Begitu banyak buku yang belum baca. Begitu banyak orang yang blum aku ajak diskusi. Menjadi agen perubahan tidak semudah yang aku kira. Mimpi untuk menjadi Menteri Perancangan Kota 2039 harus kuwujudkan melalui usaha-usaha yang kulakukan sejak saat ini. Harapan untuk Indonesia yang lebih baik harus aku tumbuhkan dan tularkan kepada teman-teman, terutama teman-teman MAB karena aku tidak mungkin bergerak sendiri.

Suatu saat, pondokan MAB adalah saksi bisu langkah-langkah keberhasilan para penggerak perubahan. Disinilah awal tumbuhnya semangat dan hadirnya harapan para pemimpin bangsa. Disini pulalah sesuatu yang dinamakan keluarga dengan ikatan perjuangan itu lahir.

MAB bukan hanya tempat kami berangkat menuju dunia pengabdian, tetapi juga tempat untuk kami pulang di masa depan. Pulang untuk menjemput pemuda-pemuda baru dengan darah semangat yang sama demi perubahan negeri. Inilah, MAB rumah kita.

—–

Awa

Penulis : Siti Awaliyatul Fajriyah, mahasiswi jurusan arsitektur angkatan 2012. Awa, begitu panggilan akrabnya adalah salah satu penerima beasiswa pondokan MAB yang memiliki semangat positif untuk belajar yang tinggi. Sejak masuk pondokan MAB, ia aktif  terlibat dalam kegiatan pengabdian kepemudaan tingkat nasional. Tak lupa, semangatnya itu juga ia bagikan kepada teman-temannya di pondokan MAB.

Yayasan MAB Memberikan Bantuan Rp 5 Juta kepada TRUI di Kompetisi KRI 2015

PhotoGrid_1429946647947

Depok, Tim Robot UI (TRUI) kembali berkompetisi di ajang Kontes Robot Indonesia (KRI) tingkat nasional yang diadakan pada 11-14 Juni 2015 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). KRI merupakan ajang kompetisi rancang bangun dan rekayasa dalam bidang robotika yang dikoordinasikan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementrian Riset, serta Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Dalam kontes ini ada lima divisi lomba yang diperlombakan, yaitu Kontes Robot Abu Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) beroda, Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) berkaki, Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI), dan Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI).

Sebagai salah satu misi Yayasan MAB untuk memberikan dukungan bagi kegiatan produktif mahasiswa, dalam KRI kali ini Yayasan MAB kembali memberikan bantuan dana senilai Rp 5 Juta rupiah. Adanya bantuan dana ini diharapkan bisa membantu meningkatkan motivasi para mahasiswa yang berkompetisi sehingga bisa mengharumkan nama Universitas Indonesia di tingkat nasional.

Sebelum bertanding di tingkat nasional, TRUI telah lolos di tingkat regional DKI Jakarta dan Jawa barat dengan memegang trophy sebagai robot dengan desain terbaik.  Tim yang diwakili oleh 3 orang mahasiswa FTUI yaitu Lintang Sutawika, Dean zaka Hidayat dan Saifan Rizaldy (penerima beasiswa Pondokan MAB) ini akan bertanding dalam divisi lomba KRAI bersaing dengan dua puluh enam tim dari Perguruan Tinggi di Indonesia yang telah memenuhi persyaratan dan lolos seleksi tingkat regional. Tim ini membawa  TRUI-BOT-PRJ sebagai robot andalan yang akan bertanding di kategori ini yang mengambil tema  “Robominton:Robot Pemain Bulu Tangkis”.

Pertandingan pertama TRUI-BOT-PRJ berlangsung pada hari Jumat, tanggal 13 Juni 2015 melawan robot TE-PAK yakni robot dari Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung. Pertandingan ini berhasil di menangkan oleh TRUI-BOT-PRJ dengan skor 5-3 dan robot TRUI-BOT-PRJ berhasil melakukan hit back sebanyak satu kali. Pertandingan selanjutnya adalah TRUI-BOT-PRJ melawan RINY robot dari Institut Teknologi Sepuluh November pada pukul 15.30. Pertandingan ini merupakan babak penyisihan putaran pertama. Pertandingan ini dimenangkan oleh ITS dengan skor 3-5. Robot RINY berhasil meng-hit back cock dari robot TRUI-BOT-PRJ sebanyak satu kali. Kekalahan TRUI-BOT-PRJ dalam melawan ITS membuat robot ini bertanding kembali pada babak penyisihan putaran ketiga melawan robot CADIAK PANDAI dari Politeknik Negeri Padang. Pertandingan TRUI-BOT-PRJ melawan CADIAK PANDAI tidak berlangsung sengit karena dengan mudahnya robot Politeknik Negeri Padang dapat dengan mudah mengalahkan robot TRUI-BOT-PRJ dengan skor 2-5. Salah satu kelebihan dari robot Politeknik Negeri Padang adalah robotnya dikendalikan oleh driver yang cukup handal dan tanggap. (b5)

Statistik Distribusi Beasiswa MAB Periode Tahun Ajaran 2014/2015

MAB Fact

Yayasan Mata Air Biru (MAB) sebagai sebuah lembaga non-profit milik alumni FTUI pada tahun ajaran 2014/2015 kembali menunjukkan kepeduliannya untuk memajukan pendidikan anak bangsa dengan memberikan bantuan beasiswa pendidikan kepada civitas akademika di lingkungan FTUI.

Dari statistic distribusi penyaluran beasiswa yang diberikan oleh Yayasan Mata Air Biru (MAB), pada periode tahun ajaran 2014/2015 Yayasan MAB telah memberikan bantuan beasiswa Pendidikan senilai Rp 259 Juta rupiah dengan rincian :

  1. Beasiswa Reguler Mahasiswa untuk 20 mahasiswa senilai Rp 20 Juta rupiah
  2. Beasiswa Reguler untuk 20 Putra/I karyawan FTUI senilai Rp 20 Juta rupiah
  3. Beasiswa Skripsi untuk 20 mahasiswa senilai Rp 20 Juta rupiah
  4. Beasiswa Prestasi #3 untuk 7 mahasiswa senilai Rp 49 Juta rupiah
  5. Beasiswa Prestasi #4 untuk 5 mahasiswa senilai Rp 50 Juta rupiah
  6. Beasiswa Pondokan MAB untuk 17 Mahasiswa senilai Rp 100 Juta rupiah

Selama hampir 12 tahun Yayasan MAB telah hadir berkontribusi memberikan bantuan beasiswa pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa. Kontribusi ini tidak lepas dari donasi Alumni FTUI yang senantiasa mendukung keberlangsungan Yayasan MAB. Semoga di masa mendatang Yayasan MAB bisa terus ada dan hadir dalam membantu memajukan pendidikan di FTUI. (b5)

Gathering Penerima Beasiswa MAB di Pulau Pramuka

IMG_6445

Gathering Penerima Beasiswa MAB di Pulau Pramuka

Depok (6/6), Yayasan MAB menyelenggarakan Gathering Penerima Beasiswa MAB di Pulau Pramuka. Acara Gathering ini diadakan dengan tujuan untuk mempererat kekeluargaan para penerima beasiswa mab. Sekitar 20 orang penerima beasiswa mab dalam hal ini beasiswa pondokan mab mengikuti acara gathering yang bertajuk “MAB Fun Trip”. Ada berbagai kegiatan yang dilakukan selama gathering tersebut mulai dari Snorkeling di Pulau Air dan berkunjung ke penangkaran penyu dan hiu.

Berikut cerita perjalanan dari acara gathering tersebut. Selamat menikmati. :)

—–

Sabtu pagi itu, meski mentari belum beranjak dari peraduannya, kami telah siap memulai perjalanan ini. Dari kemarin, aku sebagai coordinator perjalanan ini sudah ‘bawel’ mengingatkan untuk stand by pukul 05.00 WIB. Menjelang pukul 03.00 WIB tadi dengan mata yang masih mengantuk kupaksakan untuk membangunkan teman-teman yang masih terlelap untuk segera mandi dan mempersiapkan diri.

Empat taxi mengantar kami menuju Dermaga Muara Angke. Sebelumnya telah kutunjuk seorang di tiap taxi untuk menjadi leader perjalanan dan bertanggungjawab menjaga anggota rombongannya selama dalam perjalanan menuju Dermaga Muara Angke.

Pukul 06.30 kami tiba di Dermaga Muara Angke yang sudah dipadati oleh orang-orang yang juga akan berlibur ke kepulauan Seribu. Kuhubungi ABK kapal Dholpin yang akan menyeberangkan kami ke Pulau Pramuka. Hampir tiga jam perjalanan menggunakan kapal Dholpin akhirnya mengantarkan kami menuju tempat tujuan kami di Pulau Pramuka.

—–

Pulau Pramuka adalah salah satu dari ratusan pulau di Kepulauan Seribu yang menjadi tujuan wisata. Aku sengaja tak menggunakan jasa travel dalam perjalanan ini, selain untuk menghemat budget juga untuk belajar merancang trip sendiri. Sebelumnya, aku telah menghubungi pihak yang telah kukenal dari Elang Ekowisata untuk membantu menyediakan keperluan selama liburan kami.

Mas Agus sebagai guide yang akan memandu kami selama jelajah mengelilingi pulau sekitar sudah menunggu kami di Dermaga Pulau Pramuka. Perjalanan sekitar 3 jam di atas kapal membuat sebagian dari kami mabok laut dan kelelahan. Kami langsung menuju homestay untuk istirahat dan makan siang.

Makanan khas pulau yang sebagian besar didominasi seafood dipadukan dengan nyamannya homestay di pinggir laut  kembali me-refresh semangat kami.

IMG_6842

—–

“Byuurr….”

Satu dua orang mulai terjun ke laut. Kali ini kami menikmati indahnya alam bawah laut di laut kepulauan seribu. Sejak pertama kali menaiki kapal jelajah ini kulihat teman-teman excited dan happy sekali. Tak ada muram. Berfoto beragam gaya yang terkadang tak ada perubahan background sembari mengenakan safety jacket dan peralatan snorkeling seakan tak bosan-bosannya.

Pulau Pramuka sebagai pusat administrasi di Kepualauan Serbu menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan asal ibukota yang ingin menikmati indahnya laut biru. Sebagian besar ekosistem terumbu karang di sini masih layak untuk dijadikan tujuan wisata.

Pulau Air menjadi tujuan pertama kami. Mas Agus memberikan briefing singkat pengenalan dasar mengenai snorkeling. Maklum, karena sebagian besar kami baru pertama kami mencoba snorkeling. Pulau air sebenarnya cukup bagus dengan pasir putihnya yang menawan. Sayangnya, sampah dan perilaku wisatawan yang tidak bertanggungjawab membuat pulau ini kurang nyaman.

Usai berlatih di tempat yang dangkal, kami pindah ke spot snorkeling kedua. Masih di sekitar Pulau air namun dengan kondisi real ekosistem terumbu karang. Kedalaman laut di spot ini mencapai 5 meter sehingga baik untuk tumbuhnya terumbu karang.

Kulihat teman-teman antusias sekali menikmati berenang kesana kemari. Naik ke kapal dan kembali melompat. Sesekali ada yang merasakan masker atau snorkel- nya kemasukan air. Namun, itu tetap membuat kami ceria menikmati berenang di alam bebas.

Kami pindah ke spot snorkeling ketiga di area softcoral. Berbeda dengan tempat kedua, terumbu karang di sini didominasi oleh karang lunak bercabang. Mas Agus menemukan bintang laut dan memberikannya ke kami. Teman-teman antusias untuk berfoto dengan bintang laut. Sudah lebih dari tiga jam kami berada di atas laut, nampaknya tak sedikitpun terlihat lelah di wajah teman-teman.

Jelajah pulau hari itu kami tutup dengan berkunjung ke Penangkaran Hiu di Nusa Keramba sembari menikmati sang mentari yang siap kembali ke peraduannya. Banyak wisatawan yang memadati area melihat ikan hiu yang bergerak kesana kemari. Kamipun asyik menikmati suasana di tengah laut sembari berfoto bersama merekatkan kebersamaan di antara kami.

IMG_6399

—–

Seharian di tengah laut rupanya tak membuat semangat kami hilang. Selepas sholat isya kami mengadakan acara barbeque dengan ikan segar hasil tangkapan penduduk sekitar. Ikan baronang, bandeng laut, dan kakaktua menjadi hidangan lezat ikan bakar yang lahap kami santap bersama. Meskipun sebelumnya kami telah makan malam, tetapi ikan bakar sebanyak 4 kg ini habis kami lahap.

Usai menikmati ikan bakar beberapa teman yang kelelahan langsung beristirahat di homestay. Sebagian besar dari kami masih asyik menikmati kebersamaan dengan bermain gameswarewolf’ bersama. Satu putaran, dua putaran sebagai ajang berlatih bagi para pemula. Permainan masih terus berlangsung. Hingga pukul 1.30 dini hari teman-teman masih asyik dengan permainan-nya yang kian seru.

Keseruan masih terus berlanjut lantaran ada pertandingan sepak bola yang sayang untuk dilewatkan. Aku sudah terlelap kala itu.

—–

Waktu subuh aku bangunkan teman-teman yang masih terlelap. Agenda pagi ini adalah berkeliling pulau pramuka dan mengunjungi penangkaran penyu. Semalam aku minta pihak catering untuk mengantarkan makanan lebih pagi. Sayangnya pagi itu cuaca tak bersahabat. Hujan membuat kami lebih nyaman untuk berdiam diri di homestay.

Sekitar pukul 08.00 pagi, kami memulai jalan-jalan mengelilingi Pulau Pramuka. Pulau ini tidak begitu besar sehingga bisa kami kelilingi dengan berjalan kaki. Kami asyik mengabadikan foto di setiap momen yang tercipta.

Kami tiba di penangkaran penyu yang dikelola oleh Taman Nasional Kepulauan Seribu. Meski tanpa guide, tempat ini cukup familiar bagiku. Apalagi aku pernah mengikuti pelatihan tentang penyu sehingga banyak tahu mengenai penyu.

Usai menikmati perjalanan berkeliling pulau, kami kembali ke homestay untuk packing dan persiapan pulang.

IMG_6742

—–

Kami tiba di Depok pukul 18.00 WIB. Perjalanan panjang dua hari ini membuat kami lebih dekat satu sama lain. Sepanjang perjalanan di kapal, teman-teman masih asyik bermain ‘truth or dare’. Bahkan beberapa jam setelah tiba di pondokan, teman-teman masih asyik memperbincangkan pengalaman yang baru saja kami lalui bersama. Perjalanan liburan yang tak pernah kami lupakan. (b5)

Nb : terima kasih untuk MAB yang telah membuat trip terealisasi dan berkesan. :)

IMG_6738

Yayasan Mata Air Biru: Pengelola Dana Abadi FT UI (Majalah Alumni UI Edisi no. 14)

11141151_272980846205978_7428491785872511454_n 11391115_272980882872641_6020859983449390757_n 11209566_272980939539302_5625643253247613451_n

Yayasan MAB sebagai pengelola Dana Abadi FTUI diliput oleh Majalah Alumni UI Edisi 14 yang bertemakan tentan Dana Abadi. Berikut versi lengkap artikelnya. Selamat Membaca :)

——

 

Bertepatan dengan 50 tahun FT UI pada tahun 2014 lalu, ILUNI FTUI yang diketuai Prof. Dr.-Ing. Ir. Kalamullah Ramli, M.Eng., mencanangkan Program Dana Abadi (endowment fund) yang akan dikelola oleh alumni. Pertanyaan berikutnya adalah pihak mana yang akan mendapat kepercayaan untuk mengelola dana yang tidak sedikit itu secara transparan dan berkesinambungan. Adalah Dekan FTUI, Prof. Dr. Ir. Dedi Priadi, DEA, yang mengusulkan pengelolaan dana abadi ini diserahkan kepada Yayasan Mata Air Biru (YMAB) yang sudah mempunyai track record cukup panjang dan terbukti eksis selama sebelas tahun, dan secara konsisten telah memberikan kontribusinya bagi sivitas akademika FTUI.

***

YMAB adalah sebuah yayasan yang digagas oleh para alumni FTUI dan disahkan berdasarkan Akta Notaris pada 30 September 2003. “Pada saat itu sebetulnya banyak alumni yang ingin memberikan bantuannya kepada para mahasiswa FTUI, misalnya saat diadakan reuni angkatan, mereka mengumpulkan dana untuk beasiswa. Tetapi kegiatan seperti itu bersifat sporadis dan sesaat. Maka didirikanlah yayasan ini sebagai wadah resmi untuk memberikan beasiswa, tidak hanya untuk mahasiswa FTUI, tetapi juga untuk putra-putri karyawan FTUI dan putra-putri Alumni yang membutuhkan”, ungkap Hamdion Nizar, Alumni Elektro 76, salah seorang Pendiri dan Pembina YMAB.

Program Beasiswa yang dirancang di masa awal pendiriannya adalah Beasiswa Reguler, dan Beasiswa Skripsi. “Saat peluncuran Yayasan ini di tahun 2003, kami memberikan 7 beasiswa untuk mahasiswa, anak alumni, anak karyawan, serta tanda cinta kasih untuk pengabdian kepada dosen kami Prof. Sidharta,” ungkap Sri Dijan Tjahjati, ketua YMAB, Alumni Sipil 79. “Sampai akhir tahun 2014, sudah lebih dari 500 Beasiswa Reguler dan Beasiswa Skripsi yang dikucurkan dengan nilai lebih dari 450 juta rupiah”.

Bentuk beasiswa reguler saat itu berupa uang tunai untuk satu semester. Mahasiswa idealnya hanya menerima satu kali, tetapi tidak menutup kemungkinan dia mengajukan permohonan kembali di semester berikutnya bila memang masih dibutuhkan. Agar penerima tepat sasaran, seleksi dilakukan atas kerjasama dengan BEM Bidang SosMa dan pihak Dekanat FTUI. “Beasiswa reguler diberikan dengan melihat latar belakang penerima, bukan dari sisi akademiknya, karena mahasiswa yang pintar tentu mudah memperoleh beasiswa dibandingkan mahasiswa biasa, padahal merekapun mempunyai kemauan yang sama untuk kuliah. “Beasiswa bagi anak karyawan, dilihat dari kinerja orangtuanya, yang diseleksi oleh pihak Dekanat,” jelas Sekretaris YMAB, Tin Nizar yang Alumni Elektro 79.

YMAB yang selalu menjaga hubungan baik dengan pihak Dekanat, mendapat masukan bahwa di kalangan mahasiswa ada kebutuhan tempat tinggal gratis. Maka di tahun 2004 YMAB mulai menyewa rumah di sekitar Kampus UI dan mahasiswa boleh tinggal di sana tanpa dipungut bayaran. Program yang dinamakan Pondokan MAB ini, ditujukan bagi mahasiswa baru yang berasal dari luar Jabodetabek. Mereka boleh tinggal di pondokan maksimal dua tahun karena diharapkan setelah tingkat tiga mereka sudah dapat survive. Di tahun 2006 program ini dikembangkan untuk dapat menampung mahasiswi. Pada saat ini daya tampung pondokan adalah 20 mahasiswa (16 putra + 4 putri).

YMAB yang menyadari bahwa kita tidak dapat hanya mengandalkan donasi dari para alumni saja, memandang perlu adanya suatu unit usaha yang dapat menjadi sumber dana rutin bagi yayasan. Maka pada tahun 2006 YMAB bekerjasama dengan BTA Group membentuk satu unit usaha bimbingan belajar yang disebut BTA MAB, berlokasi di Jl. Siliwangi, Depok. Dalam tiga tahun terakhir, unit usaha ini sudah berkembang pesat dan mampu memberikan pemasukan + 40 juta per-tahun.

Di tahun 2009, YMAB mulai melakukan pendekatan pada para alumni yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar atau BUMN. Dengan dukungan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), PT Aplikanusa Lintasarta dan Kepengurusan ILUNI FTUI periode 2008-2011, YMAB meluncurkan Program Beasiswa Prestasi, yang diberikan kepada mahasiswa tingkat 2 dengan prestasi akademik (IPK min 3.00) dan berlanjut sampai mereka menyelesaikan studinya di semester 8. Bahkan ada mahasiswa penerima Beasiswa Prestasi yang mengambil Progam Fast Track (Program Pendidikan Terintegrasi S1 dan S2 dalam total durasi 5 tahun) dan tetap diberikan Beasiswa Prestasi sampai mereka menyelesaikan S2 di semester 10. Kepengurusan ILUNI FTUI mendukung program ini dengan menyelenggarakan turnamen golf di mana para alumni dan mitra bisnisnya dapat mengikuti turnamen sambil beramal.

Kontribusi YMAB tidak hanya dalam bentuk pemberian beasiswa tetapi juga mendukung kegiatan mahasiswa FT UI terutama yang bersifat ilmiah, seperti Kontes Robot Indonesia dan Shell Eco Marathon di Sepang, Malaysia. YMAB juga memberikan beberapa sarana pendukung seperti AC untuk ruang BEM FTUI dan lemari charger ponsel gratis yang ditempatkan di lobi FTUI di mana mahasiswa dapat mengisi daya untuk laptop atau ponselnya. Di tahun 2011, YMAB bekerjasama dengan PT Sidomuncul mengadakan kegiatan bakti sosial untuk masyarakat Depok dan sekitarnya dalam bentuk operasi katarak gratis. Berkat dukungan pihak Rektorat UI, pemeriksaan awal calon peserta program diadakan di Gedung Perpustakaan Terapung UI. Ada sekitar 180 orang yang diperiksa, dan 100 orang diantaranya memenuhi syarat dan berhasil menjalani operasi katarak gratis. (Vero)

 

Oase di Padang Tandus Intelektualitas

IMG_9689

Dan kelak, suatu hari, aku ingin mengajakmu untuk kembali ke oase itu; berpulang ke Mata Air Biru FTUI, mengulang kembali senyuman dan kebersamaan itu, lalu bercerita tentang masa lalu, atau perjalananmu sendiri yang seru, serta hal-hal apa saja yang kita sukai

Mata Air Biru adalah oase. Ialah muara dari setiap air jernih mengalir yang sengaja Tuhan hadirkan dari sebaik-baiknya tempat teruntuk para musafir ilmu, di tengah gersangnya padang pasir dan ancaman fatamorgana. Perjalanan para musafir, mahasiswa FTUI, demi menimba sebutir ilmu jelaslah tidak mudah, langkah setapak demi setapak kamu langkahi begitu lunglai jika tak ada air, dan selalu berharap ujung nanti itu adalah kebahagiaan. Sebulir air dari oase sangatlah berharga di perjalanan, tetesannya mampu meneguhkan keyakinan untuk terus hidup dan berjalan, dan begitulah ia membuat makna.

Mata Air Biru adalah sebuah proses. Ia menjernihkan dengan membuat kita terus mencari cara, bangkit dari kesulitan yang dihadapi, karena kita selalu tahu perjalanan di padang tandus ini masih terlampau jauh untuk menuju ke pusat kota yang ramai, yang menjadi sebenar-benarnya hidup dan telah menanti di depan horizon kelak. Proses menjadikan antelop berhasil mendaki gunung terjal, dan menguatkan unta mendegumkan tapalnya pada pasir, dan seperti itulah kamu terus berproses. Kita tidak diajarkan untuk mengendap di oase, kita mesti terus mencari tahu, berkembang. Yang kamu butuhkan hanyalah dorongan kecil untuk yakin dan mampu terbang. Mencari apa yang bisa kita lakukan, bukan sekadar yang kita keluhkan.

Mata Air Biru adalah sebuah simpul. Berbahagialah mereka yang pernah bermuara di oase ini. Oase yang menjadi pelepas dahaga, yang mempertemukan keluarga, tanpa mengenal asal daerah, agama, yang muda dan tua, menjadi sebuah naungan belajar bersama, tidak hanya soal intelektual, tetapi juga kehidupan mendewasakan diri yang sebaik-baiknya.

Di Mata Air Biru, kita jadi benar-benar tahu bahwa saat kita hidup dan berjalan di padang tandus ini, kita tidak pernah sendirian. Seluruh pejuang dan musafir ilmu berkumpul tidak sekadar menumpang minum, bahkan lebih dari itu— kita menjalin ikatan persaudaraan. Tentulah, oase itu bukanlah akhir perjalanan, dan di titik tertentu, pastilah kita mesti melanjutkan pijakan, menuju perpisahan dan pada langkah-langkah berikutnya. Kita mesti menjalani hidup berikutnya, tidak terlena, menemui dahaga lainnya yang tidak pernah berhenti untuk selalu saja mendewasakan kita.

Dan kelak, suatu hari, aku ingin mengajakmu untuk kembali ke oase itu; berpulang ke Mata Air Biru FTUI, mengulang kembali senyuman dan kebersamaan itu, lalu bercerita tentang masa lalu, atau perjalananmu sendiri yang seru, serta hal-hal apa saja yang kita sukai.

Mushab Abdu Asy Syahid, Mahasiswa Arsitektur FTUI 2011, Penghuni Pondokan Mata Air Biru tahun 2011-2013. Sempat menjadi Ketua Komunitas Pondokan MAB.