MAB News

Dulu di Pondokan ini…

 

Dulu…

Pertama kali aku masuk ke tempat ini – yang menjadi tempat istirahat dan berkarya selama menempuh pendidikan S1ku – yang kuingat adalah tempat yang nyaman untuk ditinggali. Meski aku awalnya tak tahu siapa ‘mereka’ yang berbaik hati menyediakan ini semua?

Kami tinggal bertiga dalam satu rumah kecil dengan satu kamar. Tempatku tinggal di paling depan. Terlihat paling rapi dan nyaman untuk ditempati. Sebagai mahasiswa paling muda, aku sadar betul bagaimana peranku. Namun, aku belajar banyak dari kakak-kakak yang tinggal bersamaku. Mereka kuanggap layaknya keluarga.

Meski kami punya kesibukan masing-masing, jadwal yang berbeda satu sama lain, namun selalu kami sempatkan waktu untuk rumah kami tercinta ini. Di tiap pekannya ada jadwal piket yang tersusun rapi, sederhana dan jelas. Tak perlu ‘bentakan’ atau suruhan untuk mengerjakan itu semua, cukup kesadaran dari diri kami masing-masing.

Ada satu hal yang kurindu, biasanya kami memasak saat makan malam. Ada giliran siapa yang memasak. Tak perlu saling sungkan tawar dan meminta dibuatkan makanan, kami sudah seperti layaknya keluarga. Peran kami jelas, ego itu seperti sudah terhilangkan. Aku belajar hidup bersama layaknya sebuah keluarga.

Di rumah lain, meski hanya sepekan sekali kami bertemu saat bahasa inggris, tetapi cukup menambah kekompakan dan kedekatan kami. Tak perlu waktu lama untuk menentukan kumpul bersama, meski saat itu belum ada group yang mengakomodir semua anggota. Kacang rebus menjadi hidangan yang cukup nikmat sembari mendengarkan cerita dan pengalaman masing-masing.

Dan prestasi sebagai capaian juga tak lupa kami sematkan diakhir perjumpaan menjelang libur akhir semester. Aku belajar dari mereka. Kami sadar betul, meski hidup kami pas-pasan, tetapi jalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti terbuka lebar. Beberapa diantara kami mengajar untuk mendapatkan uang tambahan. Beasiswa masih sangat jarang dan susah. Lomba menjadi andalan mendapatkan uang tambahan.

Beberapa waktu, aku melihat ada kiriman berbagai perlengkapan pondokan mulai dari sabun hingga kipas angin. Meski aku belum tahu siapa yang mengirim itu.

Cukuplah rasa syukur dengan menjaga tempat ini. Menjaga kebersihannya, kenyamanan tempatnya, hingga torehan prestasi yang harus kami capai. Bukan untuk siapa-siapa, untuk diri kami sendiri, untuk mereka yang telah menyediakan ini semua, untuk adik-adik kami yang nanti akan menempati tempat ini setelah kami, sebagai rasa syukur dan terima kasih kami yang tak cukup membayar ini semua…

Untuk mereka yang telah menyediakan ini semua untuk kami, tanpa kenal pamrih…

11 Mei 2015,

Pondokan MAB

 

Catatan : Mengenang kisah kehidupan di Pondokan MAB tahun 2009-2010.

Leaders : Menyatukan Keberagaman

“Setiap leaders memiliki caranya tersendiri untuk membuktikan dirinya seorang leaders…”

Karakter manusia itu beragam satu sama lain. Unik dan memiliki ciri khas masing-masing. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang berbeda-beda dalam memahami tiap karakter tersebut. Itulah tugas seorang leaders, menyatukan keberagaman. Namun dengan caranya sendiri, dengan pendekatan yang iya yakini.

Sebulan yang lalu, ketika dihadapkan pada kenyataan penyatuan Pondokan MAB dari tempat yang lama, dimana hanya diisi oleh 2-3 penghuni tiap rumah menjadi Pondokan MAB yang baru dengan diisi oleh sekitar 11 penghuni dalam satu rumah, saya mencoba belajar bagaimana menjadi leaders diantara mereka dengan pendekatan sesuai karakter masing-masing.

Awalnya, penyatuan itu tidaklah mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bila sebelumnya para penghuni pondokan ini hanya perlu beradaptasi dengan 1 atau 2 orang yang akan tinggal bersama dalam periode tertentu, maka kini mereka perlu usaha lebih keras untuk beradaptasi memahami karakter lebih dari 5 orang penghuni yang akan tinggal bersama di satu rumah. Terlebih, beragamnya jurusan dan angkatan, membuat proses adaptasi mungkin berjalan lebih lambat.

Disini, seorang leaders harus mampu menunjukkan perannya. Mengambil keputusan-keputusan yang dianggap perlu agar proses adaptasi di lingkungan yang baru berjalan lebih cepat. Pekan pertama, saya mencoba membuat koridor untuk menyamakan ritme habit masing-masing sehingga mudah di kontrol, meskipun begitu fleksibilitas dan ketidak-kaku-an dalam pelaksaan tetap diperlukan. Adanya seorang kepala rumah tangga membantu saya mengontrol keadaan rumah dan aktivitas para penghuni rumah. Jadwal piket, rules kerapihan hingga punishment demi terciptanya kenyamanan segera dibuat.

Pendekatan dilakukan dengan beragam cara sesuai karakter masing-masing. Mulai dari bentuk apresiasi, ajakan halus hingga forcing pun dilakukan. Apresiasi menjadi nilai utama yang selalu saya utamakan. Hal ini membuat mereka senantiasa belajar berterima kasih atas apa yang telah mereka lakukan.

Kini, sebulan telah berlalu. Setidaknya dari observasi, saya melihat ada tiga hal yang bisa saya simpulkan tentang karakter mereka. Pertama tipe peduli dan mempunyai sense of belonging yang tinggi terhadap pondokan. Merekalah sebenarnya yang bisa diandalkan dalam membuat Pondokan menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Siap berkorban dan melakukan apapun demi terciptanya pondokan yang aman, tenang, bersih dan nyaman.

Kedua tipe pondokan sebagai singgah. Tipe kedua ini bisa dibilang sangat jarang berada di pondokan, lebih senang di luar. Mereka menjadikan pondokan hanya sebagai tempat tidur, aktifitas utamanya berada di luar pondokan. Entah apa yang dikerjakan. Hal ini pula yang membuat tipe ini memiliki interaksi yang jarang dengan penghuni lainnya. Tipe ini tidak peduli dengan apa yang terjadi di Pondokan. Terkadang, tipe ini bisa disebabkan karena ketidakcocokan atau ketidaknyamanan dengan penghuni pondokan lainnya.

Ketiga tipe tidak enak-an. Tipe ini bisa saja muncul karena senioritas, merasa kita seorang junior sehingga tidak berani untuk minta tolong dengan penghuni lainnya yang senior. Sebenarnya, tipe ini bisa dihilangkan ketika kehidupan di Pondokan telah melebur seperti layaknya keluarga. Sayangnya, butuh waktu yang terkadang lama untuk menghadirkan hal tersebut.

—–

Menjadi seorang leaders berarti siap untuk belajar banyak hal. Leaders bukanlah bakat, tetapi dilahirkan dari proses pembelajaran yang panjang. Siapapun bisa menjadi seorang leaders, asal ada kemauan dan tekad yang kuat untuk belajar.

Kita semua pada dasarnya adalah seorang leaders, terutama untuk diri kita sendiri. Dari Pondokan MAB ini, saya belajar menjadi seorang leaders yang mengayomi, memimpin, mendengarkan, menghargai, dan menjadi bagian dari mereka seperti layaknya keluarga.

Maka, bagi seorang leaders tentu memiliki pendekatan masing-masing untuk menyatukan keberagaman yang dihadapi dari anggotanya. Pendekatan personal, mulai dari cara yang lembut hingga keras. Tipe leaders yang manakah kamu?

Penulis : Bambang Sutrisno

 

Pondokan MAB Putra Menempati Rumah Baru di Puri Kukusan Teknik

Rumah Inspirasi MAB

Pondokan MAB Putra Menempati Rumah Baru di Puri Kukusan Teknik

Depok, Pondokan MAB putra menempati rumah baru di Puri Kukusan. Setelah selama hampir 10 tahun menempati tiga buah rumah di depan Masjid Al-furqon, Pondokan MAB untuk mahasiswa putra kini menempati sebuah rumah yang terletak di Komplek Puri Kukusan. Pondokan MAB merupakan sebuah program beasiswa yang diberikan oleh Yayasan MAB berupa bantuan tempat tinggal dan program pengembangan diri bagi mahasiswa FTUI asal daerah. Saat ini, ada 16 penerima beasiswa pondokan MAB yang terdiri dari 12 putra dan 4 putri.

Apakah kamu berminat menjadi bagian dari kami? Tetap update dengan kami ya untuk info perekrutan berikutnya.

Masih Yakin Ilmu Mendalam lebih Penting?

Oleh Siti Awaliyatul Fajriyah, Arsitektur 2012, Pondokan MAB

Selama ini saya merasa, bahwa ilmu mendalam lebih penting dari ilmu yang meluas. Namun saya rasa anggapan ini terlalu egois bagi seorang manusia yang sebenarnya jauh dari kata “mengetahui”. Saya semakin yakin bahwa anggapan itu salah setelah mendengarkan sebuah  posting di soundcloud.com milik akun atas nama Sabda PS yang berjudul Three Kinds of Knowledge.

Setiap manusia yang ingin berkembang, wajib memiliki 3 pengetahuan yang ketiganya harus berimbang. Ketiga pengetahuan tersebut adalah pengetahuan dasar, pengetahuan istimewa dan pengetahuan menyeluruh. Tidak ada yang lebih penting dari ketiga jenis pengetahuan tersebut karena semuanya sama penting.

Pengetahuan dasar harus dikuasai terlebih dahulu oleh seseorang sebelum orang tersebut mampu menguasai pengetahuan yang lainnya. Pengetahuan dasar yang pertama ialah matematika, tetapi bukan matematika yang kita anggap dalam kehidupan sehari-hari. Memang betul hitung-hitungan sederhana sangat diperlukan untuk sekedar menghitung berapa rupiah yang harus kita bayar untuk membeli 5 bungkus permen. Namun lebih jauh dari itu. Dalam matematika, kita mempelajari struktur dan logika pemikiran yang konsisten dan terintegrasi sehingga kita terbiasa berpikir runut. Dengan begitu kita tidak mudah terombang-ambing dalam alam pikiran kita sendiri.

Pengetahuan dasar yang kedua ialah logika. Dengan kemampuan logika yang baik, kita dapat memahami hubungan antara satu kasus dengan kasus lainnya secara jernih, karena ketika kita salah memahami hubungan antarkasus dengan baik, solusi yang dihasilkanpun memiliki kemungkinan tidak tepat yang cukup besar. Logika ini akan membantu kita dalam mengurai masalah-masalah rumit menjadi simpul-simpul sederhana.

Pengetahuan dasar selanjutnya ialah pengetahuan bahasa atau verbal. Hal ini akan membantu kita berkomunikasi dengan orang lain, menyampaikan pemikiran dengan bahasa yang lebih terstruktur dan kosakata yang luas. Informasi-informasi akan ditransmisikan dengan cepat dan tepat jika kita menggunakan teknik komunikasi yang tepat pula. Dengan begitu kita tidak akan terkendala dalam masalah teknis penyampaian.

Salah satu pengetahuan dasar yang terpenting adalah kemampuan untuk mengembangkan diri. Dengan mengetahui cara-cara pengembangan diri apa yang cocok dengan kita, kita akan mengetahui taktik yang tepat agar tidak bosan dalam sebuah pekerjaan. Selain itu kita juga akan bekerja dengan efektif jika kita sudah mengetahui betul seperti apa cara kerja yang cocok untuk kita.

Setelah pengetahuan dasar kita kuasai, kita harus memiliki pengetahuan istimewa atau mendalam. Pengetahuan istimewa ini sangat berguna saat kita terjun ke masyarakat karena setiap manusia diciptakan untuk mengisi setiap slot kontribusi yang berbeda-beda di masyarakat. Pengetahuan istimewa ini juga memiliki kemungkinan untuk menjadi sumber pendapatan finansial kita, tergantung kita mengarahkannya kesana atau tidak. Hal ini yang akan membuat kita menjadi seseorang yang unik dan dibutuhkan. Tanpa keistimewaan, kita tidak dapat mengaktualisasikan diri kita sebagaimana yang dikemukakan dalam Teori Maslow, bahwa aktualisasi diri adalah tingkatan tertinggi dalam pencapaian hidup manusia.

Pengetahuan terakhir yang perlu kita miliki ialah pengetahuan menyeluruh mengenai kehidupan. Kita dituntut untuk memahami kehidupan dari berbagai aspek, bukan berarti hanya mengetahui kulitnya saja, justru kita mengetahui esensi-esensi dari setiap aspek. Jika pengetahuan istimewa menuntut kita untuk memahami sesuatu secara mendetail, pengetahuan menyeluruh menuntut kita untuk memahami sesuatu dasarnya saja.

Jadi ketika kita membaca koran, misalnya, kita cenderung membaca artikel yang menarik atau yang berkaitan dengan bidang kita saja. Hal tersebut justru membuat kita seperti memakai kacamata kuda dan membuat kita buta akan bidang-bidang lain. Padahal kita tahu, bidang-bidang kehidupan tidak dapat berdiri sendiri. Atau jika kita membaca seluruh informasi di koran itu, informasi yang diberikan kita tangkap secara terpisah-pisah, bukan? Pengetahuan menyeluruh akan membantu kita memaknai kehidupan secara utuh karena dengannya kita mampu menyintesis informasi-informasi yang kita peroleh sehingga kita mampu menentukan langkah dan opini kita mengenai sebuah isu.

—–

Penulis : Siti Awaliyatul Fajriyah, Mahasiswi jurusan Arsitektur angkatan 2012. Awa, panggilan akrabnya adalah mahasiswa yang aktif dan senang terlibat dalam gerakan kepemudaan dan masyarakat. Saat ini ia dipercaya sebagai ketua E-CORP FTUI, sebuah ukm tingkat fakultas berupa koperasi mahasiswa. Tulisan ini adalah salah satu hasil pemikirannya saat mengikuti pelatihan K2N UI tahun 2015 ini. Ia memiliki keinginan kuat untuk tergabung dalam program K2N tahun ini sebagai salah satu wujud pengabdiannya bagi masyarakat di Siak, Riau.

Menjadi Inovator Sosial sebagai Upaya Pemerataan Kesejahteraan

“Pembangunan desa tidaklah memimpikan desa menjadi kota.” – M. Arifin Purwakananta

Jati diri Indonesia adalah jadi diri pedesaan. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah karena masyarakat desanya yang ramah. Indonesia dikenal sebagai negeri yang subur makmur karena alam pedesaannya yang sangat kaya. Begitulah Indonesia di mata dunia. Namun, mengapa rakyat Indonesia berbondong-bondong pergi ke kota? Hidup di desa lebih menenteramkan, bukan?

Dalam materi pembekalan K2N UI 2015 pada hari Sabtu, 25 April 2015 yang diisi oleh Bapak  M. Arifin Purwakananta, calon peserta mendapatkan pencerahan mengenai inovasi sosial. Istilah inovasi sosial ini sudah marak dibicarakan di negara-negara maju, misalnya Amerika. Di Indonesia sendiri, sering disamakan dengan intervensi sosial. Bedanya, pada intervensi sosial, penggeraknya berada di luar masyarakat sosial yang dimaksud. Sedangkan dalam inovasi soisal, penggerak berada di dalam (menjadi bagian) dari masyarakat itu sendiri. Para peserta K2N, dimanapun ia ditempatkan, diharapkan ia menjadi inovator sosial yang menjadikan gagasannya gagasan bersama, bukan lagi menyebutnya sebagai “gagasan saya”.

Tujuan utama inovasi sosial ialah memberdayakan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan yang saat ini cenderung menjadi komunitas yang kurang berkembang dibanding penduduk kota. Sebuah masyarakat dapat berdaya secara maksimal jika desa tersebut memiliki tiga matra pemberdayaan. Tiga matra tersebut ialah ketersediaan akses, pertumbuhan serta keadilan sosial.

Terdapat tiga unsur ketersediaan akses yang harus dipenuhi, mulai dari ketersediaan akses untuk memenuhi kebutuhan dasarnya berupa pangan, sandang dan papan untuk menjamin keberlangsungan hidupnya. Setelah memiliki akses untuk memenuhi kebutuhan dasar, masyarakatpun harus memiliki akses untuk berkembang. Akses ini dapat berupa pendidikan dan ketersediaan informasi. Elemen yang ketiga adalah ketersediaan akses dalam keadaan darurat, maksudnya adalah jaminan hidup atas keadaan-keadaan darurat.

Menurut pendapat saya, masyarakat Riau, khususnya Kabupaten Siak dan sekitarnya memiliki keterbatasan dalam akses keadaan darurat. Hal ini ditunjukkan dengan seringnya kebakaran hutan yang menyebabkan polusi udara yang sangat meresahkan warga. Hal ini menjadi kendala yang secara langsung menghambat pengembangan wilayah tersebut.

Pertumbuhan sosial di kawasan ini cukup baik dilihat dari pendapatan warganya yang memasuki kelas menengah dan sedikit yang ada di kelas bawah.  Yang patut disayangkan ialah, pertumbuhan ini masih dijalankan individu per individu sehingga belum mewakili pertumbuhan kawasan. Pertumbuhan kawasan yang diharapkan ialah munculnya produk-produk lokal yang layak dipasarkan secara nasional bahkan internasional dengan menjunjung tinggi kekhasan daerahnya. Sebuah daerah menjadi hebat dalam ekonomi jika ia memiliki fokus pada produk lokal yang hendak dibawanya ke dunia internasional. Kita dapat melihat bagaimana Cibaduyut besar dengan produk sepatunya serta Jepara dengan ukiran kayu jatinya. Riau akan menjadi provinsi yang luar biasa jika kita mampu memunculkan nilai-nilai kearifan lokal miliknya.

Mitra terakhir dalam pemberdayaan pedesaan ialah keadilan sosial yang menjamin kerja sama antar elemen masyarakat. Keadilan sosial yang pertama ialah kebijakan dari atas ke bawah yang  berangkat dari kepribadian masyarakat itu sendiri sehingga kebijakan tersebut bukanlah sebuah paksaan.

—–

Penulis : Siti Awaliyatul Fajriyah, Mahasiswi jurusan Arsitektur angkatan 2012. Awa, panggilan akrabnya adalah mahasiswa yang aktif dan senang terlibat dalam gerakan kepemudaan dan masyarakat. Saat ini ia dipercaya sebagai ketua E-CORP FTUI, sebuah ukm tingkat fakultas berupa koperasi mahasiswa. Tulisan ini adalah salah satu hasil pemikirannya saat mengikuti pelatihan K2N UI tahun 2015 ini. Ia memiliki keinginan kuat untuk tergabung dalam program K2N tahun ini sebagai salah satu wujud pengabdiannya bagi masyarakat di Siak, Riau.

E-Newsletter MAB #6 Edisi Maret 2015

*|MC:SUBJECT|*

Yayasan MAB adalah Lembaga Non-Profit yang didirikan oleh Alumni FTUI pada tahun 2003. Bertujuan untuk membantu Sivitas akademika FTUI dalam meningkatkan kualitas pendidikan di FTUI.

Beasiswa MAB

Yayasan MAB memberikan BeasiswaPendidikan dengan Total Rp 79,5 Juta

Depok (19/03), Yayasan Mata Air Biru (MAB) sebagai sebuah lembaga sosial milik alumni FTUI kembali memberikan beasiswa kepada mahasiswa dan karyawan FT UI untuk periode semester genap 2014-2015. Pemberian beasiswa ini merupakan wujud bakti dan kepedulian Alumni FTUI kepada almamater FTUI dalam meningkatkan pendidikan di lingkungan  FTUI. Bertempat di Gd. Engineering Center R. 203, turut hadir dalam prosesi penyerahan Beasiswa MAB, Dekan FTUI, Prof. Dr. Ir. Dedi Priadi, DEA dengan didampingi Manajer Kerjasama, Kemahasiswaan, Alumni & Ventura, Prof. Dr. Heri Hermansyah, ST., M.Eng serta perwakilan dari Yayasan MAB, Bu Sri Dijan Tjahjati selaku Ketua Yayasan MAB, Bu Endang Ripmiatin selaku sekretaris dan Pak Alan Marino selaku ketua Pembina Yayasan MAB.

Pada periode ini, Yayasan MAB memberikan beasiswa kepada 42 orang terdiri dari 32 orang Mahasiswa FTUI dan 10 Orang Putra-Putri Karyawan FTUI dengan total senilai Rp 79,5 Juta. Beasiswa tersebut terdiri dari 4 macam beasiswa yaitu Beasiswa MAB Prestasi, Beasiswa MAB Reguler, Beasiswa MAB Skripsi dan Beasiswa MAB Karyawan FT. Beasiswa MAB Prestasi terdiri dari dua angkatan untuk 2011 dan 2013, dimana penerima angkatan 2011 sebanyak 7 Mahasiswa dengan total Rp 24,5 Juta, sedangkan penerima angkatan 2013 sebanyak 5 Mahasiswa dengan total Rp 25 Juta. Untuk Beasiswa MAB Reguler diberikan kepada 9 Mahasiswa dengan total Rp 9 Juta, sedangkan Beasiswa MAB Skripsi diberikan kepada 11 Mahasiswa tingkat akhir dengan total Rp 11 Juta. Tak lupa juga Yayasan MAB memberikan bantuan biaya pendidikan untuk Putra/I Karyawan FTUI yang diberikan kepada 10 Karyawan FTUI dengan total Rp 10 Juta.

Sebagian besar dana beasiswa merupakan sumbangan dari donator yang merupakan alumni FTUI dan relasinya, serta kerjasama dengan perusahaan melalui program CSR nya.  Pada Beasiswa Prestasi Angkatan 2013 yang diberikan Yayasan MAB bekerjasama dengan PT. Aplikanusa Lintasarta. Lintasarta berkomitmen memberikan bantuan beasiswa kepada para penerima beasiswa Prestasi angkatan 2013 ini hingga yang bersangkutan lulus menjadi Sarjana Teknik.

Selama 11 Tahun, Yayasan MAB telah memberikan beasiswa kepada 647 penerima yang berasal dari mahasiswa dan karyawan FTUI dengan total mencapai Rp 909,875,000. Selain Beasiswa MAB, Yayasan MAB juga memberikan Beasiswa berupa Pondokan MAB yang berlokasi di Kukusan Teknik. Saat ini, Pondokan MAB dihuni oleh 17 Mahasiswa FTUI. Di akhir sambutannya, Bu Dijan selaku ketua Yayasan MAB berharap bahwa adanya Yayasan MAB bisa menjadi wadah bagi alumni untuk berkontribusi balik kepada almamater FTUI melalui pemberian beasiswa. (BS)

DANA ABADI ILUNI FTUI-MABBakti Alumni bagi Almamater FTUI
Malam Swarna Karya untuk Indonesia pada 30 Agustus 2014 lalu sebagai bagian dari Ulang Tahun ke-50 FTUI menjadi awal diluncurkannya program Dana Abadi Iluni FTUI-MAB. Program Dana Abadi ini akan digunakan untuk tiga program besar meliputi Beasiswa MAB, Pondokan MAB dan Pengembangan fasilitas laboratorium di FTUI. Sejak diluncurkan tersebut, hingga kini telah terhimpun sejumlah donasi dari alumni yang berkomitmen untuk memajukan pendidikan FTUI melalui program Dana Abadi tersebut.Data Pemasukan Donasi Dana Abadi Iluni FTUI-MAB per Maret 2015

Terima Kasih atas Donasi yang telah Anda berikan,Semoga berbalas limpahan berkah bagi Anda dan Keluarga, serta mampu memajukan pendidikan di FTUI.

Share

Tweet

Forward

+1

Copyright 2015, Yayasan Mata Air Biru, All rights reserved.Bakti Alumni bagi Almamater FTUI untuk mencerdaskan anak bangsa

Sekretariat :

Gd. Engineering Center, Lt. 2, R. 205

FTUI, Depok 16424

Telp : 021-78880766

Fax : 021-78880766

Facebook
Facebook

Twitter
Twitter

Website
Website

Email
Email

 

 

 

Yayasan MAB kembali memberikan Beasiswa Pendidikan kepada 42 penerima Beasiswa dengan Total Rp 79,5 Juta

Depok (19/03), Yayasan Mata Air Biru (MAB) sebagai sebuah lembaga sosial milik alumni FTUI kembali memberikan beasiswa kepada mahasiswa dan karyawan FT UI untuk periode semester genap 2014-2015. Pemberian beasiswa ini merupakan wujud bakti dan kepedulian Alumni FTUI kepada almamater FTUI dalam meningkatkan pendidikan di lingkungan  FTUI. Bertempat di Gd. Engineering Center R. 203, turut hadir dalam prosesi penyerahan Beasiswa MAB, Dekan FTUI, Prof. Dr. Ir. Dedi Priadi, DEA dengan didampingi Manajer Kerjasama, Kemahasiswaan, Alumni & Ventura, Prof. Dr. Heri Hermansyah, ST., M.Eng serta perwakilan dari Yayasan MAB, Bu Sri Dijan Tjahjati selaku Ketua Yayasan MAB, Bu Endang Ripmiatin selaku sekretaris dan Pak Alan Marino selaku ketua Pembina Yayasan MAB.

Pada periode ini, Yayasan MAB memberikan beasiswa kepada 42 orang terdiri dari 32 orang Mahasiswa FTUI dan 10 Orang Putra-Putri Karyawan FTUI dengan total senilai Rp 79,5 Juta. Beasiswa tersebut terdiri dari 4 macam beasiswa yaitu Beasiswa MAB Prestasi, Beasiswa MAB Reguler, Beasiswa MAB Skripsi dan Beasiswa MAB Karyawan FT. Beasiswa MAB Prestasi terdiri dari dua angkatan untuk 2011 dan 2013, dimana penerima angkatan 2011 sebanyak 7 Mahasiswa dengan total Rp 24,5 Juta, sedangkan penerima angkatan 2013 sebanyak 5 Mahasiswa dengan total Rp 25 Juta. Untuk Beasiswa MAB Reguler diberikan kepada 9 Mahasiswa dengan total Rp 9 Juta, sedangkan Beasiswa MAB Skripsi diberikan kepada 11 Mahasiswa tingkat akhir dengan total Rp 11 Juta. Tak lupa juga Yayasan MAB memberikan bantuan biaya pendidikan untuk Putra/I Karyawan FTUI yang diberikan kepada 10 Karyawan FTUI dengan total Rp 10 Juta.

Sebagian besar dana beasiswa merupakan sumbangan dari donator yang merupakan alumni FTUI dan relasinya, serta kerjasama dengan perusahaan melalui program CSR nya.  Pada Beasiswa Prestasi Angkatan 2013 yang diberikan Yayasan MAB bekerjasama dengan PT. Aplikanusa Lintasarta. Lintasarta berkomitmen memberikan bantuan beasiswa kepada para penerima beasiswa Prestasi angkatan 2013 ini hingga yang bersangkutan lulus menjadi Sarjana Teknik.

Selama 11 Tahun, Yayasan MAB telah memberikan beasiswa kepada 647 penerima yang berasal dari mahasiswa dan karyawan FTUI dengan total mencapai Rp 909,875,000. Selain Beasiswa MAB, Yayasan MAB juga memberikan Beasiswa berupa Pondokan MAB yang berlokasi di Kukusan Teknik. Saat ini, Pondokan MAB dihuni oleh 17 Mahasiswa FTUI. Di akhir sambutannya, Bu Dijan selaku ketua Yayasan MAB berharap bahwa adanya Yayasan MAB bisa menjadi wadah bagi alumni untuk berkontribusi balik kepada almamater FTUI melalui pemberian beasiswa. (BS)

Penyerahan Beasiswa Prestasi angkatan 2013 secara simbolik oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan MAB, Bpk. Alan Marino

 

Rebut Kembali Hatimu !! – Yasmin Mogahed

Reclaim

Oleh Siti Awaliyatul Fajriyah

 Tapi, aku tidak akan lagi menjadi tawananmu. Aku tidak akan lagi menjadi gadis kecil itu yang berbaring terjaga pada malam hari memikirkanmu. Aku bukan lagi anak patah hati yang membuang-buang air matanya untukmu. Cinta tak terbalasku takkan bisa lagi mengahncurkanku. Kau takkan menghancurkanku. Aku tidak akan takluk pada gemerlapnya dirimu dan janji-janji palsumu…. ….. Air mataku bukan lagi milikmu. Dan hatiku bukan lagi tempat suci bagimu.

 

Reclaim Your Heart – Rebut Kembali Hatimu. Yasmin Mogahed berhasil mengemas sebuah wawasan-mencerahkan tentang cinta, duka dan bahagia dalam sebuah buku yang akan membawa kita pergi ke suatu tempat dimana hanya ada kita dan kekasih kita – Tuhan. Setelah sekian lama Tuhan menunggu kita untuk kembali pada-Nya, sadarkah kita bahwa kita sedang dinanti? Bukan tentang apa yang kita bawa untuk-Nya, tetapi mengenai apa yang kita lakukan dalam masa penantian itu.

Hidup ini adalah perjalanan, dan dunia adalah kendaran kita. Kita berangkat dari rumah – Allah, dan kitapun akan kembali pada-Nya. Namun, kita sering lupa bahwa misi kita di dunia itu adalah untuk kembali. Jangan sampai kita terlalu menikmati perjalanan kita dan kita sadar ketika kita sudah tiba di tempat asal kita. Kesadaran setelah kematian akan percuma, ketika kita melewati kematian, kita bukanlah pergi meninggalkan dunia, tetapi kita kembali – pulang. Disitulah hidup kita sebenarnya. Dalam perjalanan kita, kita tidak lagi bersama kekasih kita dalam ruang fisik. Namun kita terikat hatinya kepada Tuhan. Dalam perjalanan itu pula, kita juga akan melihat banyak hal yang menarik hati kita. Disitulah kita sering melupakan bahwa sebenarnya hati kita hanyalah milik Allah. Dalam masa pengembaraan itu, kita harus mempelajari bintang-bintang, pepohonan, pegunungan yang tertutup salju untuk membaca setiap pesan dibaliknya. Jika tidak, kita hanya akan menjadi seperti orang yang menemnukan pesan dalam botol yang dihias dengan indah, namun ia begitu terpikat oleh botolnya sehingga ia tidak pernah membuka pesannya.

Mengapa orang-orang harus saling meniggalkan? Semua di sekitar kita akan datang dan pergi begitu saja, kadang tak meninggalkan bekas. Cinta, duka dan bahagia akan datang dan pergi. Pertanyaan itu adalah tentang sifat dunia sebagai tempat berlangsungnya momen singkat dan keterikatan sementara. Menyakitkan, ya, jika kita mengisi hati kita dengan dunia yang memang diciptakan untuk ketidaksempurnaan dan kefanaan. Orang-orang pergi, apakah mereka kembali?

“karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

(Al-Insyirah (94) : 5)”

Terkadang Allah mengambil untuk menganugerahi. Bukankah Allah mengambil suami Ummu Salamah hanya untuk menggantikannya dengan Rasulullah? Apakah Yusuf kembali pada ayahnya? Apakah Musa kembali pada ibunya/ apaka Hajar kembali pada Ibrahim? Apakah kesehatan, kekayaan dan anak-anak kembali pada Ayub? Apapun yang diambil oleh Kekasih kita tidak pernah hilang, dan akan dikembalikan saat kepulangan kita pada-Nya.

Dalam perumpamaan lain, kehidupan manusia di duniaa ini seperti samudera, dan perahu adalah hati kita. Kita yang menggerakkan perahu kita untuk menuju suatu tempat dimana kita bermula, Tuhan. Perahu akan seimbang jika air laut itu tetap diluar, tidak memasuki perahu. Ketika air laut sudah masuk ke dalam perahu kita, maka yang ada hanyalah kegoyahan dan lama-kelamaan kita akan tenggelam. Dunia tidak boleh sampai memasuki hati kita, karena yang akan kita dapatkan adalah keterpurukan. Biarlah dunia menjadi sarana untuk kita menuju-Nya. Namun, ada kalanya badai menghantam perahu kita dan kita tenggelam ke dasar lautan. Menyerah hanya akan membuat kita semakin tenggelam. Saat kita tersadar kita sudah tenggelam, kita harus bergegas mengambil mutiara yang ada di dasar lautan dan menata perahu kita kembali untuk kembali pulang. Dengan demikian, ujian ketenggelaman itu tidaklah meruntuhkan kita, justru akan menjadikan kita memiliki nilai lebih yang tidak didapatkan oleh orang yang belum mendapatkan ujian.

Demi mencintai karunia. Kita melupakan pemberi karunia.  Seorang anak merengek meminta mobil mainan kepada ibunya karena anak-anak lain pun mendapatkannya. Setelah dibelikan mobil mainan terbaik dipasaran saat itu, sang anak menjadi lupa kepada ibu. Ia menjadi malas membantu ibunya, malas belajar dan lebih senang menghabiskan waktu dengna ‘karunia’ itu dibandingkan dengan ibunya. Kemudian ibu tersebut mengambil kembali mainan tersebut agar anaknya mau belajar dan menemani ibunya kembali. Untuk anak-anak yang sangat mencintai karunia, mungkin ia akan sedih, marah kecewa. Berbeda dengan anak-anak yang mengerti bahwa ada karunia yang lebih besar dibanding mobil mainan. Versi yang sesungguhnya, model yang sesungguhnya. Mobil sungguhan. Ibunya menyuruhnya belajar untuk suatu saat dapat memiliki mobil sungguhan itu. Seperti itu pula kita. Mobil mainan itu adalah dunia, dan mobil sungguhan adalah kehidupan kita sebenarnya setelah kita pulang. Jika semua anak menyadari itu, mungkin anak-anak tidak akan sedih ketika mobil minannya jelek atau bahkan sama sekali tak memiliki mobil mainan, ia tidak akan sedih, marah, kecewa ketika teman-temannya menyombongkan mobil mainannya.ia akan berfokus pada bagaimana cara ia mendapatkan mobil sungguhan itu. Semakin kita dapat melihat hal yang nyata, semakin mudah bagi kita untuk merelakan hal yang tidak nyata.

Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusan baik baginya. Jika endapat kesenangan ia bersyukur, dan bersyukur itu baik baginya. Dan jika mendapat musibah dia bersabar, dan bersabar itu baik baginya.

Turun berat badan, baik atau buruk? Semua itu tergantung pada tujuan. Jika berat badan saya dibawah batas normal dan sudah sangat mengkhawatirkan, maka turun berat badan adalah sebuah musibah. Berbeda halnya ketika kita memiliki berat badan berlebih dan sudah sangat mengkhawatirkan, maka turun berat badan adlaah sebuah hal yang baik. semua tergantung tujuan. Dalam sebuah kegagalan mendapatkan beasiswa, mungkin kita akan bersedih jika tujuan kita adalah dunia. Namun kita akan memetik hal berharga lain dalam kegagalan itu jika tujuan kita adalah kehidupan kita setelah kepulangan. Begitu pula dengan pekerjaan, pasangan hidup dan amanah umat yang kita emban. Semua itu hanyalah alat untuk kita kembali pada-Nya. Jika kita menyadari itu, kita akan berfokus pada bagaimana cara kita “mengendarainya”, bukan pada kendaraan apa yang kita gunakan, berhasilkah semua sarana itu mengantarkan kita kembali ke tempat awal, atau malah melenakan kita dan membuat kita tidak sampai pada tujuan akhir yang merupakan tempat kita bermula juga?

Barang siapa yang telah menghabiskan kehidupannya untuk mencari, ketahuilahbahwa kemurnian dari segala hal dapat ditemukan di dalam sumber. Jika Anda mencari cinta, carilah melalui Tuhan. Jika Anda ingin berpegangan pada keterikatan yang kuat, berikatlah pada Tuhan. Karena selain itu hanyalah sesuatu yang tidak murni tidak pula kokoh. Allah lebih dekat daripada pembuluh darah di leher kita. Mengapa pembuluh darah di leher? Pembuluh ini pembuluh yang paling penting bagi tubuh kita, jika ia terputus, kita segera mati. Bahkan Allah lebih dekat daripada kehidupan kita sendiri. Terkadang kita mencari pertolongan pada pintu-pintu yang mudah kita lihat, yang tentunya itu bukanlah pertolongan sejati. Pertolongan sejati kita bersumber dari Allah, ‘pintu’ yang memang tidak mudah terlihat oleh mata kita.

Kemampuan untuk mudah memaafkan harus didorong oleh kesadaran akan kekurangan dan kesalahan kita sendiri terhadap orang lain. Tapi yang terpenting, kerendahan hati kita harus didorong oleh kenyataan bahwa kita berbuaut salah kepada Kekasih kita setiap hari, dosa dalam kehidupan kita.

Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.

Kebanyakan orang menasirkan kalimat diatas dengan pendapat bahwa dunia ini adalah kekangan dan penderitaan bagi orang baik, dan kebebasan serta kenikmatan bagi orang kafir. Penulis menggambarkan pemikirannya dalam sebuah cerita. Seorang anak kecil yang sakit parah. Kesakitan itu merupakan kesakitan fisik, bukan jiwa. Jika ia lepas dari wujud fisiknya, tentu kesakitan itu akan hilang. Anak yang menyadari bahwa kesakitan itu adalah penjara, ia menyadari akan ada keadaan dimana kesakitan itu menghilang. Sehingga ketika ia dipisahkan dengan wujud fisiknya, ia akan berserah diri. Berbeda jika anak itu beranggapan bahwa kesakitan itu adalah surga. Keadaan dimana semua orang memanjakannya dan melayani apapun yang ia mau. Ketika ia dipisahkan dengan wujud fisiknya, ia akan menolak karena keadaan itu adalah surganya, tujuannya. Betapa meruginya ia yang sedang dalam keterpurukan namun merasa bahwa itu adalah surga. Orang beriman, jiwanya melekat pada kehidupan sejati, namun orang kafir melekatkan jiwanya pada kehidupan yang sakit ini.

Kita memberi makan tubuh kita karena jika tidak tubuh kita akan mati. Tapi, begitu banyak orang yang membiarkan jiwanya kelaparan. Lupa bahwa jika tidak mengerjakan shalat, jiwa kita akan mati. Dan ironisnya, tubuh yang kita rawat ini bersifat fana, sedangkan jiwa yang kita abaikan justru bersifat abadi. Ketika sedang belajar, berbelanja dan rapat, kita akan ijin jika kita hendak buang air kecil. Karena jika tidak, hal memalukan dan menyakitkan akan menimpa diri kita. Namun berbeda halnya jika adzan berkumandang sat kita belajar, berbelanja dan rapat. Kita akan cenderung menunda bahkan kadang melupakan shalat. Jika kita telisik lagi sejarah perintah shalat, mulanya Allah memerintahkan kita dengan 50 waktu shalat. Kemudian Rasulullah meminta keringanan menjadi 5x karena jika 50x waktu shalat, kita tidak akan bisa melakukan hal lain. Kita renungkan disini, Allah menugaskan kita untuk shalat 50 waktu dalam sehari menyiratkan bahwa, hiduplah untuk shalat. Namun sekarang, bahkan shalat kita hanya jadikan penyela waktu rutinitas kita yang seharusnya rutinitas itu enjadi sela antara shalat-shalat kita.

             Tuhan kita turun selama sepertiga malam terakhir ke langit pertama dan berkata, “ Apakah ada yang berdoa kepadaku untuk kemudian aku kabulkan? Apakah ada yang meminta kepadaku untuk kemudian kuberi? Apakah ada yang memohon ampunanku untuk kemudian kuampuni?”

Sumber segala kehidupan sudah menawarkan ketiga hal yang begitu kita cari, namun kebanyakan dari kita ‘tidak waras’ dengan meninggalkannya. Dan bahkan beberapa diantara kita yang berusaha bangun di sepertiga malam tanpa mengetahui esensi pertemuankita, hanya sekedar untuk bangun dari tidur tanpa endapatkan apa-apa.

Untuk menilai sebuah buku, kita harus membacanya sebagai sebuah satu kesatuan dan berurut. Tanpa mengetahui keseluruhan ceritanya, kita tidak berhak menilai sebuah buku. Tulisan ini hanya bayangan dari sosok asli buku ‘Reclaim Your Heart’. untuk mendapatkan manfaatnya secraa utuh, sangat direkomendasikan untuk membaca buku tersebut, dan semakin dalam kita menyelami buku in, kita akan semakin menemukan titik asal kita bersama Tuhan kita, -yang seharusnya menjadi- Kekasih kita.

Pengumuman Penerima Beasiswa MAB 2014-2015/2

Teaser Beasiswa

Setelah melalui proses penyeleksian berkas dan rekomendasi dari pihak kemahasiswaan FTUI, akhirnya ditetapkanlah para penerima Beasiswa MAB periode semester genap 2014-2015.

Kami ucapkan selamat kepada para penerima yang namanya tercantum di bawah ini. Semoga Beasiswa MAB ini bermanfaat dan tepat sasaran sebagai sarana kepedulian alumni FTUI dalam meningkatkan pendidikan di lingkungan FTUI dan juga membantu mahasiswa yang mengalami kesulitan biaya.

Beasiswa Reguler

Rizky Kusuma Putri Teknik Sipil – S1 Reguler
Anindya Setyo Widiani Teknik Perkapalan – S1 Reguler
Wahyu Indra P Teknik Komputer – S1 Reguler
Muhammad Zaini Teknik Komputer – S1 Reguler
Caryna Arviany Arsitektur – S1 Reguler
Mahahera Bastinov Putri Teknik Kimia – S1 Reguler
Aulia Rahmi Teknologi Bioproses – S1 Reguler
Awang Pemuji Teknik Metalurgi dan Material – S1 Reg
Irfan Fawzi Teknik Industri – S1 Reguler

 

Beasiswa Skripsi

Indah Alfira Chairunnisa Teknik Lingkungan – S1 Reguler
Yopik Indra Rosyidi Teknik Perkapalan – S1 Reguler
Wahyu Rochman Aditama Teknik Perkapalan – S1 Reguler
Urwah Syahid Robby Taknik Komputer – S1 Reguler
Irsan Mulia Teknik Komputer – S1 Reguler
Mushab Abdu Asy syahid Arsitektur – S1 Reguler
Anifah Teknik Kimia – S1 Reguler
Denis Yanuardi Teknik Kimia – S1 Reguler
Dessy Ayu Lestari Teknik Metalurgi dan Material – S1 Reg
Wegit Triantoro Teknik Industri – S1 Reguler
Triasni Marcarey Lira Sibarani Teknik Industri – S1 Reguler

 

Beasiswa Reguler Karyawan FTUI

Subagyo DTS
Hasan Mesin
Sukmanih Metalurgi
Zulkarnaen OB
Mansyur OB dekanat
Suryadi OB Mesin
Edih Iskandar OB Metal
Eko Prihanto PAF
Mukiati PAF
Yumar Satpam

 

Foto Headline

Selain itu, Yayasan MAB juga akan menyalurkan beasiswa prestasi kepada para penerima Beasiswa Prestasi MAB angkatan 2011 dan 2013.

Penerima Beasiswa Prestasi angkatan 2011

Sepinia Indrawati Teknik Sipil – S1 Reguler
Muhammad Ghulam Robbani Teknik Mesin – S1 Reguler
Ghusaebi Teknik Elektro – S1 Reguler
Masrudin Teknik Metalurgi & Material – S1 Reg
Fakhri Arsitektur – S1 Reguler
Taufik Hidayat Abdullah Teknologi Bioproses – S1 Reguler
M Bagus Nurul A Teknik Industri – S1 Reguler

 

Penerima Beasiswa Prestasi angkatan 2013

Liska Kristin Banjarnahor Teknik Industri – S1 Reguler
Alfiqie Tanjung Teknik Elektro – S1 Reguler
Jaisy M. Algifari Teknik Lingkungan – S1   Reguler
Muhammad Agus B. Teknik Elektro – S1   Reguler
Jeremia Jan Chandra P Teknik Kimia – S1 Reguler

 

—–

Kepada para penerima beasiswa MAB yang namanya tercantum di atas, diharapkan kehadirannya dalam acara seremonial penyerahan beasiswa MAB yang akan dilaksanakan pada

Hari/Tanggal : Kamis, 19 Maret 2015

Waktu : Pukul 12.30 – 14.00

Tempat : EC.203

Besar harapan kami agar saudara penerima beasiswa MAB bisa hadir sekaligus silaturrahim dengan pengurus Yayasan MAB sebagai bagian dari Iluni FTUI.