MAB News

Selamat kepada Penerima Beasiswa Prestasi MAB Batch 6

beasiswa-prestasi-mab-batch-6

Yayasan Mata Air Biru kembali memberikan Beasiswa Pendidikan Presetasi batch 6 untuk mahasiswa FTUI angkatan 2015. Beasiswa MAB Prestasi adalah sebuah program beasiswa yang diberikan oleh Yayasan Mata Air Biru untuk membantu mahasiswa FTUI yang memiliki prestasi, namun membutuhkan finansial untuk menunjang pendidikannya agar bisa mempertahankan dan meningkatkan prestasi belajarnya.

Beasiswa MAB prestasi diberikan kepada penerima selama 6 semester atau mulai dari semester 3 hingga semester 8. Tujuan utama adanya beasiswa ini adalah untuk memperbanyak lulusan dari fakultas teknik sekaligus sebagai wadah kontribusi alumni dalam membentu pendidikan mahasiswa FTUI.

Kami ucapkan selamat kepada mahasiswa berikut yang berhasil menjadi penerima Beasiswa MAB Prestasi batch 6 untuk angkatan 2015. Semoga Beasiswa MAB Prestasi ini bisa membantu meningkatkan dan mempertahankan prestasi akademik dan non-akademik serta mendorong produktifitas pendidikan demi bangsa yang lebih maju di masa mendatang.

Penerima Beasiswa Prestasi MAB Batch 6 untuk angkatan 2015 FTUI

No. Nama Jurusan
1 Mohamad Sofwan Rizky Teknik Kimia
2 Hokki Sintaro Arsitektur
3 Amalia Pradipta Arsyad Teknik Mesin
4 Fariz Hussein Teknik Perkapalan
5 Rama Aditya Syarif Teknik Metalurgi dan Material
6 Intan Anyelir Nursan Teknik Metalurgi dan Material

 

Sekali lagi kami ucapkan selamat kepada para penerima Beasiswa Prestasi MAB Batch 6. Para penerima beasiswa akan dihubungi segera via email Yayasan Mata Air Biru mengenai ketentuan Beasiswa. (BS)

 

Dibuka Pendaftaran Beasiswa Prestasi MAB Tahun 2016

poster-beasiswa-prestasi-mab-2016

Tentang Yayasan MAB

Yayasan Mata Air Biru adalah sebuah yayasan nirlaba milik alumni FTUI yang didirikan pada tanggal 30 September 2003 oleh beberapa alumni FTUI yang peduli akan pendidikan bagi generasi muda. Yayasan MAB kembali membuka pendaftaran beasiswa prestasi MAB batch 6 untuk angkatan 2015.

Beasiswa Prestasi MAB

Beasiswa Prestasi MAB adalah sebuah beasiswa yang diberikan oleh Yayasan Mata Air Biru, sebuah lembaga non-profit milik alumni FTUI untuk membantu mahasiswa FTUI hingga menjadi sarjana Teknik FTUI. Pemberian Beasiswa Prestasi MAB akan diberikan selama 6 (enam) semester atau mulai dari semester 3 hingga semester 8 dengan nilai beasiswa sebesar Rp 5 Juta/semester.

Persyaratan:

  1. Mahasiswa aktif FTUI reguler angkatan 2015 atau sedang menempuh semester 3

  2. Memiliki IPK >= 3,3

  3. Tidak sedang menerima beasiswa dari instansi lain

  4. Membutuhkan bantuan finansial

  5. Memiliki prestasi akademis dan non-akademis

  6. Berkomitmen untuk mempertahankan IP semester min.3,3 hingga lulus

  7. Mengisi formulir pendaftaran dan melengkapi berkas yang dibutuhkan di formulir pendaftaran berupa sebelum tanggal 15 Oktober 2016

Dokumen yang diperlukan :

  1. Form Beasiswa UI (tidak perlu di ttd manajer kemahasiswaan FTUI)

  2. Transkrip Nilai (save as pdf bagian ringkasan dan riwayat SIAK-NG)

  3. Surat keterangan tidak merokok
  4. Foto diri

  5. Slip gaji/surat keterangan penghasilan orang tua

  6. Essay Motivasi yang berisi tentang "Mengapa kamu layak menjadi penerima Beasiswa Prestasi MAB dan apa mimpimu untuk Indonesia 20 tahun mendatang?" (Min. 2 halaman A4, TNR 12, spasi 1.5)

Daftarkan dirimu untuk menjadi penerima Beasiswa Prestasi MAB dengan mengakses link bit.ly/DaftarBeasiswaPrestasiMAB atau mengklik tautan di bawah ini.

Kewajiban :

  1. Setiap penerima Beasiswa Prestasi MAB wajib mengirimkan laporan perkembangan prestasinya di akhir semester sebagai evaluasi untuk semester berikutnya. Waktu pengiriman akan diberitahukan kemudian.
  2. Wajib meningkatkan prestasi akademik maupun non-akademik
 
Jangan lupa untuk me-like akun fanpage Yayasan Mata Air Biru di fb.me/YayasanMAB dan add as friend akun facebook Pondokan MAB di fb.me/beasiswa.mab

Note : Hanya berkas dan isian formulir yang lengkap yang akan kami proses

Bila mengalami kendala saat pengisian form bisa menghubungi Sdr. Bambang : 08978610051 (Telp/WA) atau via email ke beasiswa.mab@gmail.com

Awal Tahun Ajaran Baru, Yayasan MAB Salurkan Beasiswa Prestasi Sebesar 40 Juta

Beasiswa Prestasi MAB

Memasuki awal tahun ajaran baru 2016/2017, Yayasan Mata Air Biru(MAB) menyalurkan Dana Beasiswa Prestasi MAB untuk peningkatan prestasi pendidikan sebesar Rp 40 Juta. Beasiswa ini disalurkan kepada 8 (Delapan) penerima Beasiswa Prestasi MAB yang merupakan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia angkatan 2013 dan 2014.

Adanya Beasiswa Prestasi MAB diharapkan bisa membantu dan menunjang kebutuhan bagi mahasiswa berprestasi yang membutuhkan untuk terus meningkatkan prestasinya dalam perkuliahan. Evaluasi bagi penerima beasiswa prestasi MAB dilakukan setiap akhir semester dari hasil belajar yang dicapai.

Berdasarkan hasil belajar pada semester genap TA 2015/2016, rata-rata perolehan Indeks Prestasi (IP) di semester genap yaitu 3,55 untuk angkatan 2013 dan 3,53 untuk angkatan 2014 dengan IP tertinggi yang diperoleh pada semester genap yaitu 3,83 oleh Liska Kristin B. (Teknik Industri) untuk angkatan 2013 dan 3,7 oleh Riska Amalia (Teknologi Bioproses) untuk angkatan 2014.

Selain prestasi akademik, penerima penerima beasiswa prestasi MAB juga memiliki prestasi non-akademik yang membanggakan antara lain Jeremia Jan (Teknik Kimia angkatan 2013) terpilih sebagai peserta SCG International Internship 2016 di Thailand dan peserta Summer Analyst Intern di Boston Consulting Group, Liska Kristin B. (Teknik Industri angkatan 2013) terpilih mengikuti ASEAN Youth Exchange Program 2016 di Chulalongkorn University, Thailand dan peserta Summer Camp for Elite Student 2016 di Hongkong University of Science and Technology, Hong Kong.

Sedangkan M. Agus Budiansyah (Teknik Elektro angkatan 2013) menjadi peserta dalam IEEE Student Congress 2016 di Bali dan terpilih menjadi Chairman Nasional StudentXCEO 5 periode 2016/2017, serta Achmad Anggawirya (Teknik Kimia angkatan 2014) mendapatkan Hibah DIkti melalui program PKM dengan judul “Krim Anti Jerawat dengan Foto Katalisis TiO2 Berbasis Bahan Alam”.

Beasiswa Prestasi MAB merupakan kerjasama Yayasan MAB dengan CSR perusahaan seperti Lintasarta dan PGN, serta donatur individu dari alumni FTUI yang berkomitmen untuk membiayai mahasiswa FTUI berprestasi dan membutuhkan hingga menjadi sarjana teknik UI. Terima kasih untuk para donatur Beasiswa Prestasi MAB, serta bagi penerima semoga bisa terus meningkatkan prestasi! Semangat Berprestasi dan Berkarya! (BS)

Belajar dari Andi Nata yang Pantang Menyerah

andi nata

DITERIMA sebagai kandidiat peraih tiket khusus menjadi mahasiswa Universitas Indonesia membuat peluangku mengantongi Beastudi Etos menipis. Sekolah melarang siswanya yang mendaftar di jalur khusus UI yaitu Prestasi dan Pemerataan Kesempatan Belajar (PPKB), dulu dikenal sebagai Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), menggandakan pendaftaran di Beastudi Etos dari Dompet Dhuafa.

Jalur PPKB bukan jalur yang menggratiskan semua ongkos kuliah. Karena tidak gratis maka saya, Andi Nata, berniat mendaftar beasiswa lain. Namun sayang, justru harapan itu hampir sirna oleh hambatan birokrasi. Saya tak menyerah. Saya meyakini beasiswa Dompet Dhuafa masih membuka peluang buat saya.

Tertutup peluang di kotaku, Cirebon, Jawa Barat, saya mendaftar Beastudi Etos di regional Bandung, ibu kota provinsi. Proses mendaftar dan tes saya lewati dengan kerja keras. Saya buta dengan Kota Bandung namun tekad yang menggebu-gebu tak menghalangi saya untuk menjalani proses yang sulit. Saya tidur di salah satu masjid di Universitas Padjadjaran menjelang tes seleksi beastudi.

Hasil seleksi bukan syarat utama peserta dipilih Dompet Dhuafa. Syarat utamanya adalah saya harus berhasil menjadi mahasiswa Universitas Indonesia. Beastudi Etos dibuat dengan sasaran mahasiswa di 14 kampus. Perguruan tinggi itu adalah Universitas Syah Kuala Aceh, Universitas Sumatera Utara Medan, Andalas Padang, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung dan Padjadjaran Bandung, Diponegoro Semarang, Gadjah Mada Yogyakarta, Brawijaya Malang, Institut Teknologi Surabaya, Airlangga Surabaya, Hasanuddin Makasar, dan Mulawarman Samarinda Kalimantan Timur.

Beragam kerja kerasku berbuah manis. Saya diterima sebagai peraih Beastudi Etos. Pengumumannya disampaikan pada dua hari setelah Universitas Indonesia mengumumkan bahwa Andi Nata, namaku, diterima sebagai mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2007. Alhamdulillah!

Tapi masalah belum selesai sepenuhnya. Kendati saya mendapatkan banyak pemotongan ongkos kuliah dari UI, toh, saya tetap harus menanggung sisanya, Rp 2,75 juta. Jumlah itu, masih tergolong besar bagi saya. Saya mencoba tetap tenang melewati tahapan ini. Saya meminta penundaan pembayaran selama saya mencari jalan keluar menebus ongkos ini. Jalan keluar itu ketemu juga, saya mendapatkan beasiswa Alumni UI. Kendati masih ada sisa, tapi berkurangnya signifikan. Bebanku tinggal Rp 1,1 juta.

Sisa sebesar itu tetap saja belum bisa saya lunasi langsung. Bekal ibu hanya Rp 100 ritu ketika saya pamit berangkat kuliah. Saya tidak menuntut lebih ke orang tua, karena saya memahami, kala itu keluarga sedang ditimpa krisis keuangan karena ayah berhenti bekerja setelah perusahaannya bangkrut. Kesadaran untuk tidak banyak menuntut juga muncul sebagai anak ketiga dari enam bersaudara. Dengan adik yang masih tiga orang, ayah dan ibu sudah terbebani banyak kebutuhan untuk adik-adik saya. Saya pamit dengan menggenggam satu pesan ibu yang paling saya ingat, “Jangan meninggalkan salat tahajud.”

Syahdan, kuliah dimulai pada Agustus 2007. Program Beastudi Etos masih pada tahap survei calon penerima. Padahal saya sangat berharap banyak ketika mulai kuliah program Etos juga berjalan. Alasannya peraih Beastudi Etos berhak tinggal di asrama. Karena belum dimulai saya tak punya tempat tinggal. Saya tidak mungkin bisa menyewa indekos karena bekal yang sedikit. Terpaksa saya menumpang tidur di kamar teman-teman mahasiswa PPKB yang tinggal di Asrama UI. Selama dua pekan saya berganti-ganti kamar tumpangan. Tujuannya agar tidak terlalu mengganggu pemilik kamar.

Kesulitanku ini mengundang saran dari salah seorang alumni. Entah dari mana dia tahu kondisiku saat itu. Selain saya mendapatkan tawaran gratis makan, saya juga diberikan saran untuk tinggal di

Asrama Yayasan Mata Air Biru yang dikelola alumni Fakultas Teknik UI. Saya diterima tinggal di sana selama dua tahun. Saya harus menempuh perjalanan sejauh empat kilometer menuju kampus karena lokasi asrama yang jauh. Kendati lelah saya bersyukur bisa mendapatkan tempat tinggal.

Masalah sepertinya tak rela meninggalkanku. Begitu soal tempat tinggal terselesaikan, Tagihan melunasi ongkos masuk kuliah ditagih manajemen kampus. Kendati sisa Rp 1,1 juta, saya tetap tak bisa melunasi. Saya balik ke Cirebon, bukan untuk meminta uang kepada orang tua. Saya menuju sekolah dan bercerita kepada Bapak Feri Supeno, gurunya sekaligus Kepala SMA 2 Cirebon. Sungguh besar hati Pak Feri, ia memberikanku uang Rp 1,5 juta. Uang itu berasal dari kantong pribadinya.

Setelah kembali ke kampus, dua bulan kuliah, pada akhir September 2007, tiba lah saat yang ditunggu-tunggu. Beastudi Etos diumumkan, saya salah satu peraihnya. Pemenang berhak mengantongi ongkos semester selama satu tahun, asrama tempat tinggal, dan uang saku Rp 450 ribu per bulan selama tiga tahun. Saya langsung sujud syukur.

Hadiah itu tak bisa langsung dinikmati. Manajemen Dompet Dhuafa mengakui ada keterlambatan memulai program Etos tahun itu. Alasannya jumlah peserta membludak. Keterlambatan itu membuat waktu masuk asrama diundur lebih dari bulan. Tepatnya Oktober, program Etos baru dimulai. Di asrama itu, saya banyak disodorkan beragam pembinaan.

Lewat rutinitas itu, saya menikmatinya. Sepertinya kondisi ini bakal berjalan lama, namun ternyata tidak. Mendadak ada kabar tragis dari Cirebon. Ayah mengalami kecelakaan kerja, tiga jari tangannya terpotong oleh mesin gir pabrik. Karena belum telat, jari itu bisa disambung lagi melalui operasi. Ongkos operasi mencapai Rp 30 juta.

Biaya operasi tak sanggup dibayar orang tuaku. Kondisi dua kakak juga belum mapan betul secara ekonomi. Saya memberanikan diri meminjam kepada pengurus Etos, teman kuliah, kakak angkatan, dan beragam pihak. Walhasil, dana pinjaman terkumpul Rp 25 juta dan langsung dikirim ke Cirebon.

Karena statusnya pinjam, saya wajib melunasi. Saya mulai menyadari masalah yang bertubi-tubi kerap datang bersama jalan keluarnya. Begitu pula dengan persoalan pelunasan utang ini. Jalan keluar itu berupa mengajar siswa sekolah. Maha besar Allah.

Saya memilih mengajarkan matematika, fisika, dan kimia untuk SMA. Menemukan bisnis ini, saya dibantu oleh teman saya. Berkat dia saya memperoleh sembilan anak didik. Upah dari mengajar, harus dibagi 30 persen untuk temanku. Dua kali mengajar dalam sepekan, pendapatan yang diterima mencapai Rp 2,5 – 4 juta per bulan. Setiap upah langsung dibayarkan membayar utang. Selain bersumber dari mengajar, lomba kreatifitas mahasiswa, desain grafis saya ikuti untuk menambah penghasilan. Dalam sebelas bulan, Oktober 2007 hingga Agustus 2008, utang yang terlunasi berbilang Rp 25 uta

Mengajar untuk membayar utang membuatku benar-benar sibuk. Saya kerap pulang ke asrama hingga pukul 12 malam. Banyak program Etos yang tertinggal. Kondisi ini membuatku mendapatkan teguran dari pendamping. Kepada pendamping, saya bercerita kondisi yang terjepit itu.

Saya bersyukur dalam kondisi terjepit, memberi pengalaman bagaimana bekerja keras, tahu cara melobi orang, dan bersikap dengan beragam orang. Pengalaman itu mengubah saya lebih dewasa dan mengendalikan emosinya.

Menginjak tahun ketiga, beasiswa Etos untuk ongkos per semester berakhir. Beasiswa itu ada gantinya setelah meraih beasiswa program peningkatan prestasi akademik hingga lulus. Beasiswa ini bak pintu masuk saya ke dalam zona nyaman. Tidak dipungkiri serba berkecukupan menjadi harapan banyak orang, apalagi mahasiswa. Ibaratnya urusan ongkos kuliah dan ongkos sehari-hari sudah ada, tugasnya hanya belajar dan belajar.

Tapi bagi saya zona nyaman tak sepenuhnya nikmat. Barangkali sejak awal kuliah saya sudah banyak benturan dengan masalah, maka sepertinya saya rindu dengan masalah. Kendati tetap bekerja dengan mengajar privat, ketidaknyamanan mulai membuncah. Untuk mengobati kegundahan, saya memilih berbisnis.

Saya memilih beternak domba dengan modal dari berutang. Berutang tak selamanya buruk, justru jika kita mampu menyikapinya dengan tepat, berutang dapat mendorong pada sikap professional. Sikap professional itu berupa disiplin, kerja keras, tumbuh dari kekhawatiran tidak bisa melunasi utang.

Saya berhutang Rp 8 juta dari beragam pihak. Dana itu untuk membeli lima ekor domba terdiri dari satu jantan dan empat betina jenis domba Garut yang diternakan di Cirebon. Saya memilih bisnis domba bukan tanpa hitungan. Pengalaman menjadi panitia Idul Adha, membuat saya tahu betul soal domba. Selain itu, kebutuhan daging akan terus, sehingga bisnis domba salah satu sektor strategis.

Dengan berbisnis, kesibukanku bertambah. Sabtu-Ahad pergi ke Cirebon mengurus domba. Saat libur panjang, giliranku untuk berguru ke petani domba di Tasikmalaya dan Garut Jawa Barat. Keberuntungan terus bergulir, saya bisa menambah domba dengan uang yang saya menangkan dari beragam perlombaan di kampus. Setahun kemudian saya menjual domba pada musim haji 2009. Satu ekor domba dibanderol Rp 1,5 juta dengan keuntungan 40 persen per ekor.

Saya tak cepat berpuas diri. Saya mencoba mengalihkan domba itu ke Depok. Tujuannya agar bisnisku berkembang. Karena memiliki keterampilan mendesain, saya membuat brosur dan pamflet untuk menjaring konsumen. Di setiap event pelatihan bisnis dan motivasi domba ditawarkan. Kendati banyak yang menolak, toh, ada saja konsumen yang terjaring. Order pertama 10 ekor domba. Puncaknya saya mampu mendatangkan 20 ekor domba dengan omset Rp 32 juta.

Beragam tantangan itu mendorong saya menjaring investor baru. Kesuksesan kecil itu memudahkan saya melobi banyak pihak. Hingga akhirnya saya mampu menghimpun dana Rp 45 juta. Investasi baru itu saya gunakan untuk ekspansi bisnis. Saya membuka kandang domba di Sawangan Depok. Saya bercita-cita membangun bisnis susu kambing ettawa dan integrated farming system.

Jumlah produksi dan penjualan terus terdongkrak. Konsep juga berkembang, saya berusaha mengawinkan bisnis ini dengan model pemberdayaan masyarakat khususnya petani di daerah. Para petani diberikan modal 10 ekor domba. Menjelang hari raya Idul Adha, saatnya panen. Domba diambil dengan bagi hasil yang menguntungkan petani.

Untuk strategi pemasaran, saya melakukan promosi dengan strategi ketika orang membeli kambing kepada kami dan kami pun memberikan hadiah kepada pembeli berupa baju batik. Untuk pembelian kambing pada saat Idul Fitri dan liburan anak sekolah, kami memberikan diskon kepada pembeli berupa voucher liburan ke pemandian air panas. Saya juga memberikan undian kepada pembeli yang berlangganan setiap tahunnya dengan doorprize berupa laptop, seluler dan sebagainya. Pembeli juga mendapatkan jaminan domba yang bagus, jika domba cacat akan kami ganti. Dengan demikian kepuasan pelanggan adalah nomor satu.

Untuk manajemen modal, saya menerapkan sistem bagi hasil. Adapun manajemen karyawan, saya menggunakan model dua gaji yaitu gaji pokok dan tunjangan. Gaji pokok setiap bulan berbilang Rp 600-700 ribu. Sedangkan besaran gaji tunjangan menyesuaikan dengan target dalam pencapaian untuk penggemukan domba. Keuntungan yang kedua adalah bagi karyawan yang berprestasi dalam kinerja dan pencapaian target. Karyawan tersebut, kita berikan hadiah berupa Umroh.

Untuk pemanfaatan teknologi sendiri dalam “Penggemukan Domba Garut”, yaitu saya menggunakan pakan alternatif yaitu ampas tahu ditambah kuning telur. Pakan alternatif kedua saya menggunakan susu sapi pada keadaaan beku, alternatif ketiga dengan kacang kedelai atau kacang hijau.

Saya sadar betul bisnis akan bertahan dan sukses dengan membangun jaringan. Untuk itu saya memanfaatkan jaringan komunitas ESQ, yang saya tergabung di dalamnya. Selain itu saya juga tergabung dengan banyak komunitas lainnya seperti Enterpreneur University, Komunitas Tangan Di Atas. Untuk pengelolaan kompetisi, saya menggunakan paguyuban untuk bersama-sama meningkatkan kesejahteraan petani.

Melalui bisnis itu saya diganjar banyak penghargaan dari instansi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara, dan perusahaan swasta. Sekarang saya membuka holding baru pada 2013 di PT. ANS ANDI NATA SUMARI. Perseroan ini bergerak di bidang travel dan sekolah yaitu ANS Travel dan ANS Bussines School. Semua inovasi dan ekspansi bisnis saya terinspirasi kisah Abdurrahman bin Auf yang mengelola bisnis bukan untuk keluarga lagi tapi untuk kemanfaatan sebanyak banyaknya umat manusia.

Ditulis oleh Andi Nata, Alumni Teknik Mesin 2007.

Artikel Asli bisa dilihat di http://www.beastudiindonesia.net/insipirasi-abdurrahman-bin-auf/

Mata Air Biru

Mata Air Biru

Mata air, secara definitif adalah sebuah titik di mana air tanah mengalir keluar dari permukaan tanah, yaitu tempat di mana muka air tanah bertemu dengan permukaan tanah. Ya, di titik-titik pertemuan itulah air keluar dari tempat bertapanya. Tuhan memerintahkan air berkelana, menjumpai tanah, tumbuhan, hewan, dan manusia serta makhluk lainnya yang membutuhkan kehadirannya.

Mata air seringkali diidentikkan dengan sumber kehidupan. Sebagai gambaran jiwa pemberi karena dalam ukuran tertentu selalu memberikan manfaat kepada apa-apa yang dilewatinya. Sebagai gambaran semangat yang tinggi, karena selalu berusaha mencari jalan keluar terhadap apa-apa yang menghalangi tujuannya. Sebagai sumber ilmu pengetahuan, seperti yang dipergunakan oleh salah satu universitas negeri terbaik di Indonesia dalam lambang universitasnya. Ya, itulah mata air, yang penjelasan manfaat dan hikmah yang terkandung di dalamnya tak mungkin dapat diuraikan dalam tulisan ini.

Mata air biru, tiga kata itulah yang menjadi judul dalam tulisan ini. Saya mengetahui tiga kata ini karena itulah nama sebuah yayasan sosial yang dibentuk oleh alumni fakultas teknik di tempat saya menimba ilmu. Biru adalah warna yang menjadi identitas fakultas teknik, sedangkan mata air, diambil dari lambang universitas. Saya sangat mengagumi apa yang dilakukan oleh alumni yang telah sukses di bidangnya masing-masing tersebut. Kesuksesan yang mereka raih, tidak menjadikan congkak dan lupa akan almamater, namun sebaliknya, mereka kembali turun guna membantu almamater, memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang tidak mampu secara finansial, memberikan pondokan gratis bagi mahasiswa, memberikan beasiswa kepada anak karyawan fakultas , memberikan bingkisan kepada satpam dan karyawan, menyumbangkan dananya untuk kegiatan ilmiah dan kegiatan kemahasiswaan, membuka unit usaha yang keuntungannya disumbangkan untuk kegiatan sosial, dan masih banyak lagi yang dilakukan mereka untuk kemajuan pendidikan di almamaternya.

Ya, berkuliah bagi sebagian orang adalah hal yang mudah, tentunya bagi mereka yang mempunyai dukungan finansial yang mapan, namun bagai kebanyakan orang seperti saya dahulu saat pertama kali menapaki kampus, hal tersebut adalah hal yang hampir dianggap mimpi. Bagaimana tidak, penghasilan orangtua hanya cukup untuk kebutuhan harian saja, bahkan terkadang kurang. Hal ini membuat mahasiswa yang kurang mampu harus bekerja part time, entah sebagai pengajar, penjaga perpus, berjualan, sebagai sales, dan lainnya.

Kehadiran Mata Air Biru sebagai Yayasan sosial, sangatlah membantu mahasiswa dalam menggapai impiannya. Saya pernah ikut dalam acara pembagian beasiswa untuk mahasiswa dan karyawan, sungguh melihat senyum mereka seperti merasakan kehidupan saya di waktu-waktu yang lalu, ya, saya satu frekuensi dengan mereka yang menerima beasiswa, saya pernah merasakan hal yang sama dengan mereka, dan saya pernah merasakan, bahagianya mendapat beasiswa saat kita benar-benar membutuhkannya.

Saya yakin, sangat banyak organisasi lain yang melakukan hal yang sama bahkan lebih dari apa yang dilakukan oleh yayasan mata air biru. Mereka seperti mata air, sebagai gambaran jiwa pemberi, jiwa kedermawanan. Mereka hidup dalam kehidupannya dan dalam kehidupan orang lain. Dan tentunya, amal mereka akan menghidupkan hari-hari di dunia ini, bahkan sampai saat perjumpaan dengan Tuhan nanti.

Kebahagiaan terindah adalah saat kita bisa memberikan apa yang kita punya untuk orang lain yang membutuhkan, ya, rasakanlah kebahagiaan itu, mulai dari yang terkecil. Saat memasukkan uang ke dalam kotak amal, saat membayar zakat, saat berkurban, saat bekerja di kantor, saat berdagang, saat melakukan apapun, sadarilah bahwa saat itu kita sedang berupaya memberi apa yang kita bisa beri. Tuhan merancang kebaikan, bagi mereka yang pantas menerimanya, maka jadikanlah diri kita pantas, untuk menerima rancangan kebaikan Tuhan.

Selamat memberi, seperti layaknya mata air …
KEEP STRUGGLING !!!

Ditulis oleh Tribuana, Alumni Elektro 2002.

Dibuka Pendaftaran Beasiswa Pondokan MAB Putra

Daftar Pondokan MAB

Program Beasiswa Pondokan MAB adalah sebuah beasiswa berupa tempat tinggal dan fasilitas pengembangan diri dari Yayasan Mata Air Biru, sebuah yayasan milik alumni FTUI yang diperuntukkan bagi mahasiswa/I FTUI asal daerah.

Program Beasiswa ini diberikan selama dua tahun berupa tempat tinggal gratis dan fasilitas pengembangan diri berupa Pelatihan kepemimpinan, English Course Persiapan TOEFL dan Test TOEFL, Sharing dan Jaringan dari alumni FTUI.

Persyaratan:
1. Mahasiswa FTUI angkatan 2015 dan 2016 (mahasiswa baru diutamakan)
2. Berasal dari luar daerah jabodetabek
3. Membutuhkan bantuan finansial berupa tempat tinggal selama kuliah di FTUI
4. Bersedia dan berkomitmen untuk mengikuti program pembinaan di Pondokan MAB

Aktivitas yang dilakukan di Pondokan MAB yaitu :

  1. Program kerohanian (aktivitas harian berupa shalat berjama’ah dan kajian pagi)
  2. MAB Gathering dengan alumni
  3. Sharing Inspirasi
  4. BIG Movies
  5. Sport
  6. Peningkatan prestasi dengan mengikuti lomba/kompetisi bersama

Fasilitas:
1. Tempat tinggal secara gratis selama 2 tahun
2. Les bahasa inggris persiapan TOEFL/IELTS
3. Program Inspiration Talk
4. Internet Wifi

Jika kamu berminat untuk menjadi bagian dari keluarga kami, segera daftarkan dirimu dengan mengisi formulir secara online di www.beasiswamab.org/formulir-beasiswa-pondokan-mab atau di link bit.ly/DaftarPondokanMAB

Pendaftaran akan ditutup sebelum 12 Agustus 2016*)

Mungkin kamulah keluarga baru kami selanjutnya di Pondokan MAB.

Yuk, ikuti social media channel Yayasan MAB untuk mendapatkan informasi terkait beasiswa dari alumni FTUI!

Facebook Page : Yayasan Mata Air Biru (fb.me/YayasanMAB)
Facebook Account : Pondokan Mab (fb.me/Beasiswa.MAB)
Twitter : @BeasiswaMAB (twitter.com/BeasiswaMAB)
Instagram : @RumahInspirasiMAB (instagram.com/RumahInspirasiMAB)

Informasi lebih lanjut : Bambang Sutrisno (0812-888-4997) atau email di beasiswa.mab@gmail.com

*) Hanya 4 mahasiswa putra yang akan kami terima. Pendaftaran akan kami tutup bila sebelum masa pendaftaran berakhir sudah ada 4 kandidat penerima beasiswa yang sesuai kriteria. Segera daftarkan dirimu! :)

Penerima Beasiswa MAB Mengikuti Dutch Solar Challenge 2016 di Belanda

Penerima Beasiswa MAB mengikuti Dutch Solar Challenge 2016 di Belanda

Salah satu penerima Beasiswa MAB, M. Hanafi Lubis, mahasiswa teknik perkapalan angkatan 2014 bersama tim nya Solar Boat Team (SBT) UI kini tengah bersiap mengikuti Dutch Solar Challenge (DSC) 2016 yang dilaksanakan di Amsterdam, Belanda. Minggu lalu (19/6), rombongan tim SBT UI berangkat dari Jakarta menuju Belanda, sementara kapal buatan mereka yang akan diikutsertakan dalam kompetisi tersebut sudah lebih dahulu diberangkatkan akhir Mei lalu.

Dalam DSC 2016, tim SBT UI mengandalkan Jagur untuk berlaga di kompetisi ini. Jagur atau Jayasatria Garuda merupakan kapal bertenaga surya pertama karya tim Solar Boat Team (SBT) dari program studi Teknik Perkapalan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI).

Secara fisik kapal ini mengadaptasi salah satu kapal tradisional Indonesia yakni Jukung. Berbalut warna putih, Jagur mengusung konsep Trimara, yaki menggunakan tiga cadik atau “hull samping” serta menggunakan sumber energi ramah lingkungan, yakni tenaga matahari sebagai penggerak kapal.

Secara real time, Jagur mampu bertahan selama tiga jam dalam kondisi matahari terik maksimum. Berbekal “throttle gas” dan mesin yang diyakini mumpuni, Jagur mampu melaju dengan kecepatan maksium 22 km/jam.

Selamat Berjuang team SBT UI!

Semoga Jagur bisa membawa tim SBT UI untuk mengharumkan nama UI dan Indonesia di kancah Internasional.

Buka Puasa Bersama Pondokan MAB dan Silaturahim Angkatan 2012

Buka Puasa Bersama Pondokan MAB

Pada Jum’at, 17 Juni 2016 bertempat di Asrama Putri Beasiswa Pemimpin Bangsa Sinergi Foundation diadakan buka puasa bersama Pondokan MAB dan silaturahim serta syukuran penerima beasiswa MAB angkatan 2012 yang baru saja menyelesaikan sidang skripsi. Pertemuan ini menjadi penutup di akhir semester genap sebelum menikmati liburan kenaikan tingkat dan wisuda. Beberapa dari penerima beasiswa MAB telah pulang ke kampung halamannya masing-masing sehingga tidak full team yang menghadiri pertemuan ini.

Time flies. Pertemuan ini menjadi awal perpisahan kami dengan angkatan 2012 sebelum mereka secara resmi meninggalkan status mahasiswa. Bagi kami, hubungan kekeluargaan yang dibangun selama bersama-sama di Pondokan MAB cukup memberikan ikatan batin tersendiri di hati kami.

Dalam acara tersebut, selain buka puasa bersama, angkatan 2012 berbagi cerita, semangat tentang rencana hidup ke depan dan juga kesan nya selama menjadi bagian dari pondokan MAB. Perpisahan menjadi awal bagi pertemuan-pertemuan lainnya. Terima kasih sudah memberikan warna bagi keluarga Yayasan MAB. Semoga segala impian, rencana, keinginan yang ingin dicapai diberikan kemudahan oleh Allah SWT untuk mencapainya. Semoga kesuksesan selalu menyertai kalian semua…

Selamat atas suksesnya sidang skripsi kalian….

We proud of you…

Gallery Foto :