Category : Publikasi MAB

Home»Archive by Category "Publikasi MAB" (Page 4)

Mozaik Kehidupan di Asrama MAB

Kehidupan di asrama beasiswa mab

Kehidupan berasrama memang mengandung banyak cerita. Mulai dari cerita lucu, asik, menegangkan, hingga yang sedih.

Semua cerita itu menambah warna pada keseharian seorang anak asrama, bagai kepingan warna-warni yang menjadikan jendela mozaik terlihat indah dan megah disandingkan dengan kesunyian gedung-gedung tua eropa.

Sebagai anak perantauan yang tinggal serumah dengan anak perantauan lainnya, aku banyak terpapar kejadian-kejadian yang sukses menghiasi hari-hari kuliah yang lumayan membosankan. Bagaimana tidak membosankan, perjalanan kuliah dari rumah melalui jalan yang selalu sama setiap harinya, begitu juga jalan pulang. Datar. Bosan. Namun, keberadaan anak-anak perantauan lainnya di rumah menjadikan kebosanan itu sedikit terobati.

Dalam satu rumah, kami ada delapan orang plus satu orang pembina. Sembilan kepala dalam satu rumah artinya ada sembilan kepentingan dengan tujuan berbeda dalam satu atap. Ramai. Rentan akan terjadinya konflik. Namun seperti kata orang bijak, “Tanpa konflik, hidup tidak akan terasa hidup”. Konfliklah yang menjadi bumbu dalam kehidupan. Ibarat garam, masakan tanpa keberadaannya akan terasa hambar. Konflik dibutuhkan dalam hidup seperti garam dibutuhkan dalam makanan. Namun tujuan kita bukanlah mencari atau membuat-buat konflik. Yang harus kita lakukan adalah memanfaatkan konflik untuk menjadi yang lebih baik di masa mendatang.

Jika anak kos pada umumnya tinggal sendiri dalam satu kamar, dalam satu rumah kami tidur berempat dalam satu kamar. Empat orang dalam satu kamar menjadikan diferensial perbedaan-perbedaan yang sangat banyak. Mulai dari empat waktu tidur yang berbeda, empat kebiasaan tidur yang berbeda, empat tingkat kesulitan bangun tidur yang berbeda, serta yang paling pasti adalah empat dering alarm yang berbeda-beda kebisingannya. Hahaha. Yap, pada jam-jam tertentu di pagi buta, biasanya akan ada saja dering alarm yang menghiasi tidur kami diatas jam tiga pagi. Alasannya beragam, mulai dari yang ingin bangun untuk tahajjud, bangun untuk belajar, sampai yang hanya menjadi dering penghias mimpi karena tidak cukup ampuh untuk membangunkan orang tersebut.

            Saat waktu Sholat Subuh tiba, salah satu dari kami yang paling rajin di rumah pasti akan terbangun dan mulai membangunkan yang lainnya. Membangunkan seluruh anggota rumah menjadi pekerjaan rumah yang cukup memakan tenaga. Karena tidak semua tidur dengan durasi yang sama. Ada yang sudah bangkit dari tidurnya, duduk di kasur sembari menunggu iqomah berkumandang, namun karena ada sesuatu yang menyebabkan otot-otot penyangga yang berada di punggungnya melemas hingga akhirnya dia jatuh dan kembali terlelap.

Setelah subuh, biasanya kita lanjutkan dengan membaca Al-Quran serta Hadist sebagai sarana recharge iman, kemudian dilanjutkan dengan sesi forum. Sesi forum isinya beragam, mulai dari pengumuman barang hilang, pengumuman kegiatan, permasalahan seputar pelaksaan piket yang tidak berjalan dengan semestinya, sampai ‘lelang’ piring kotor. Jika ada piring kotor yang tidak dicuci pada tempat cuci piring, maka piring tersebut akan dilelang sampai diakhiri dengan ada yang mengakui, atau lebih seringnya sampai si petugas piket yang urusan mencuci mau mengambil alih piring tersebut. Begitulah, forumnya fleksibel, tidak seperti forum rapat anggota BPUPKI ketika merumuskan Pancasila atau forum-forum menegangkan serta membosankan lainnya.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kami semua adalah anak-anak perantauan. Ada dua orang yang dari Sulawesi, satu orang dari Kalimantan, empat orang dari Jawa, serta dua orang dari Sumatera. Beragam, beragam bahasa daerah, beragam budaya daerah, beragam logat yang menghiasi percakapan sehari-hari di rumah. Bahasa daerah sering tercampur dengan bahasa sehari-hari, sehingga cukup sering “itu artinya apa sih?”, “maksudnya apa sih?”, dan “jangan pakai bahasa daerah dong!” terucap ketika di rumah. Cukup bisa membuat terhibur ketika salah seorang dari kami kesulitan menjelaskan salah satu istilah dalam bahasa daerahnya ke dalam bahasa Indonesia.

Kehidupan di asrama beasiswa mab

Dengan banyaknya orang dalam satu rumah, maka akan ada banyak hobi-hobi yang dimiliki setiap orang. Ada yang hobinya olahraga, baca, nonton, main, diam (ya, hobinya berdiam diri), tidur, belajar, sampai yang hobi masak. Bukan masak air atau mie instant, namun masakan khas rumahan yang biasanya dimasak oleh ibu-ibu kita. Sehingga si tukang masak tersebut mendapat julukan mamak karena lihainya dia ketika memasak dan berbelanja sayur.

Kehidupan asrama memang menawarkan banyak hal. Ada begitu banyak hal yang bisa menghilangkan rasa bosan, serta menjadi penawar rasa galau akibat belum terjawabnya kisah cinta. Semua perbedaan hobi, asal daerah, tugas piket, kepentingan, sampai perbedaan dering alarm menjadi indah dibalut dengan krim manis yang lezat ditambah kepingan biskuit susu yang nikmat, eh maksudnya akan menjadi indah jika dibalut dengan rasa toleransi serta pengertian yang tinggi antar sesama anggota rumah.

Disinilah aku tinggal, dimana perbedaan membuat kita dekat, dan perbedaanlah yang menyatukan kita. MAB.~

 —-

Huzaifi mahasiswa teknik perkapalan 2015Cerita ini ditulis oleh :

Muhammad Hanzallah Huzaifi, Mahasiswa Teknik Perkapalan 2015 yang merupakan penerima Beasiswa MAB asal Medan.

Orde Insani FTUI : Belajar Networking dari Erwin Sadirsan

Networking is not about hunting. It is about farming. It is about cultivating relationship. Dr. Ivan Misner

Kelas Orde Insani pada pertemuan ketiga yang berlangsung pada Sabtu, 18 Maret 2017 di Gd. Engineering Center FTUI R.203 membahas mengenai Networking. Sesi kali ini menghadirkan Bpk. Erwin Sadirsan yang merupakan Institusional Relation Lead di Medco Energy.

Networking menjadi salah satu aspek penting yang wajib dimiliki untuk mencapai keberhasilan dalam karir. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, pada pertemuan ketiga Orde Insani  ini para peserta Orde Insani FTUI diajarkan bagaimana pentingnya networking dalam kehidupan professional sehingga bisa mencapai keberhasilan dalam karir hidup kita.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang senang berinteraksi satu sama lain. Dimulai dari percakapan sederhana, terjalinlah networking yang lebih intens. Ada dua alasan mengapa networking terjalin. Pertama, Karena orang lain membutuhkan kita. Kedua, kita yang membutuhkan orang lain.

Membangun networking dalam karir professional kita sangat penting. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mulai membangun networking ketika bertemu dengan orang yang baru kita kenal.

Pertama, Positive Attitude. Sikap yang positif ini akan memberikan kesan yang baik di mata orang yang baru kita temui. Kedua, Be Sincere atau bersikap tulus. Ketiga, Know what you want to say. Kita harus tahu apa yang hendak kita bicarakan pada orang tersebut. Keempat, 80% listen, 20% talk. Biasanya orang lebih nyaman ketika bertemu orang yang mau mendengarkannya lebih banyak. Jangan mendominasi percakapan.

Kelima, Thank People. Ucapan terima kasih menjadi wujud apresiasi kita terhadap dirinya. Keenam, Offering help. Sebuah networking yang baik bisa kita mulai dengan terlebih dahulu menawarkan bantuan pada orang yang ingin kita jalin sebagai network kita.

Prinsip 3C dalam networking meliputi Connect, Converse dan Collaborative. Dalam sebuah pertemuan atau forum, kita secara tidak sengaja bertemu dengan orang baru yang mungkin adalah seorang expert di suatu bidang yang kita butuhkan. Itulah Connect. Selanjutnya, kita mencoba memulai percakapan dengan orang tersebut. Saling bertukar ide dan gagasan dalam waktu yang begitu singkat. Hingga akhirnya bertukar kartu nama untuk bisa saling terhubung satu sama lain di kemudian hari. Itulah Converse. Di suatu hari, mungkin orang yang kita temui di forum tersebut kita butuhkan dalam pengerjaan suatu project yang sedang kita kerjakan. Itulah Collaborative.

Pada dasarnya, kita telah menjalin networking setiap harinya. Namun, apakah networking yang kita jalin telah kita gunakan secara maksimal untuk keberhasilan kehidupan professional kita? Mulai sekarang, kita bisa mulai membuat daftar networking yang sudah kita punya dan yang belum kita punya, tetapi kita butuhkan di masa depan untuk keberhasilan karir professional kita. Selamat membangun networking!

Ditulis oleh Bambang Sutrisno

Orde Insani adalah sebuah program membangun “self growth engine” untuk mencapai mastery bagi mahasiwa tingkat akhir, dilanjutkan menjadi bagian komunitas yang mempersiapkan menjadi professional/entrepreneur unggul dan pemimpin Indonesia masa depan.

Program Orde Insani Batch 1 di UI dengan peserta 30 mahasiswa FTUI saat ini sedang berlangsung hingga beberapa bulan ke depan yang dilaksanakan atas kerjasama dari Orde Insani dan FTUI serta didukung oleh Yayasan MAB, SKHa Consulting, Kopeland, dan berbagai instusi pendukung lainnya. Info selengkapnya www.ordeinsani.or.id

Annual Report MAB Tahun 2016

Di Tahun 2017 ini, Yayasan MAB mengeluarkan Annual Report Perdananya untuk Laporan Tahun 2016. Semoga ke depan kami bisa terus berbenah menjadi lembaga yang profesional, mandiri dan transparan serta bisa memberikan kebermanfaatan lebih luas bagi pendidikan di Indonesia.

Annual Report MAB Tahun 2016 bisa diunduh di tautan berikut :
http://bit.ly/AnnualReportMAB2016

atau bisa dilihat langsung melalui issuu.com publisher di bawah ini.

Apabila ada pertanyaan bisa menghubungi kami secara langsung di beasiswa.mab@gmail.com

Delighted : Orde Insani FTUI

Sekitar tiga minggu lalu, saya mengikuti kegiatan yang bertemakan self development yang bernama Orde Insani. Awalnya, untuk mengikuti program ini, terdapat beberapa seleksi berkas yakni mengisi data diri dan essay mengenai ‘’Harapan untuk Masa Depan’’. Program ini sebelumnya sudah diadakan sebanyak dua kali. Namun, program ini baru pertama kali diinisiasi di lingkungan UI. Orde Insani diinisiasi oleh SKHA Consulting, salah satu professional firm yang fokus terhadap bidang finance dan construction, dan bekerjasama dengan Fakultas Teknik UI. Dengan tujuan awal penasaran akan kehidupan konsultan, karena yang menginisiasi merupakan lembaga konsultasi. Berdasarkan informasi yang saya dapat, terdapat sekitar 70 an pendaftaran mahasiswa Teknik UI dan hanya 30 orang yang terpilih mengikuti program ini.

Untuk pertemuan pertama, dilaksanakan selama dua hari di Wisma Hijau di sekitar daerah Cimanggis. Saya dan teman-teman menginap di tempat yang katanya menjadi tempat pelatihan untuk penerima Beasiswa LPDP. Saat pertama kali, harapan untuk mengenai kegiatan ini tidak terlalu besar, karena mungkin peserta yang mengikuti merupakan mahasiswa Teknik yang mayoritas sudah kenal satu sama lain.

Hari Pertama

Sampai di tempat kegiatan dan langsung dibuka oleh Pak Heri, inisiator dari Orde Insani sekaligus founder SKHA Consulting. Beliau memberikan penjelasan singkat mengenai diadakannya program Orde Insani dan ekspektasi ketika program ini selesai dilaksanakan. Dilanjutkan dengan membaca ‘’Ikrar Orde Insani’’ yang berisi komitmen peserta ketika mengikuti rangkaian kegiatan Orde Insani.

Sesi awal dimulai dengan ice breaking untuk memperkenalkan diri pribadi. Dilanjutkan dengan pemberian materi yang disampaikan oleh Pak Heri. Dalam sesi ini, beliau menjelaskan tentang tiga komponen penting yang haru diresapi, yakni aspiration, mastery, and growth in life. Secara singkat, aspirasi merupakan harapan kita selama hidup. Hal yang menjadi motivasi dan pencapaian yang ingin kita raih. Mastery memiliki makna bahwa kita harus memiliki spesialisasi dan ekpertisi dalam suatu bidang, sehingga ketika bidang tersebut tidak ada kita makan aka terasa kehilangan. Hal ini menjadi daya beli untuk pribadi kita. Growth berasal dari habit yang kita lakukan sehari-hari. Terdapat dua jenis habit berdasarkan penjelasan Pak Heri yakni habit secara sadar dan tanpa disadari yang kita lakukan karena kebiasaan.

Sesi selanjutnya yakni membahas tentang Long Term Growth Plan, sebuah kertas kerja yang berisi tentang aspirasi hidup serta langkah-langkah untuk mencapainya. Di sesi ini, saya merasa sadar akan pentingnya susunan rancangan hidup kita secara matang. Terkadang, kita kehilangan arah saat menjalankan kehidupan sehari-hari. Ini berfungsi sebagai pedoman dan pengingat tentang masa depan kita. Saya sendiri mengalami kesulitan untuk mengisi kertas kerjanya, karena kebingungan apa tujuan dan aspirasi utama saya ketika hidup. Setelah diberikan waktu kurang lebih satu jam, kami mengisi kertas kerja LTGP kami. Oh iya, awalnya kami sudah dibagi kedalam beberapa kelompok yang terdiri sekitar 4-6 orang dan ditemani Ka Yasmin sebagai mentor kelompok saya. Selanjutnya saya secara bergantian dengan teman kelompok saya memaparkan hasil LTGP mengenai aspirasi dan bagaimana saya meraihnya. Hal ini jarang dilakukan bagi saya, namun menantang ketika harus mempresentasikan cita-cita hidup saya kepada beberapa orang yang baru saya kenal.

Hari Kedua

Pukul 8 pagi kami harus siap di ruangan lagi untuk menjalani sesi seminar yang bertemakan tentang value based creation. Sesi ini disampakan oleh Pak Palgunadi T. Setyawan. Saya mendapatkan pencerahan banyak sekali pada sesi ini untuk memahami tentang makna value yang kebetulan sesuai dengan mata kuliah saya semester ini namun dalam suatu produk.

Awalnya, agak terasa aneh karena menurut saya menyimpang dari tema yang ingin disampaikan. Hal ini membuat saya memiliki spekulasi terhadap sosok Pak Palgunadi. Materi yang disampaikan sulit saya cerna karena saya tidak dapat memahaminya. Akhirnya Pak Heri memperkenalkan sosok Pak Gunaldi yang selama 1 jam 45 menit menyampaikan materi yang saya kurang paham apa poinnya terhadap value. Terlihat biografi beliau yang dari mahasiswa, seorang prajurit hingga menjadi komisioner di beberapa perusahaan multinasional di Indonesia. Pada sesi tanya jawab, salah satu teman saya menanyakan tentang ‘’bagaimana menciptakan suatu value di perusahaan?’’. Dan beliau menjawab bagaimana value itu didapat dari pemahaman tentang rukun islam, Pancasila hingga menciptakannya dalam perusahaan. Saya merasa tercerahkan dan lebih mengerti mengenai abstraksi value.

Terdapat dua hal yang saya dapatkan pada sesi ini. Pertama dengarkanlah apa yang orang bicarakan, jangan meremehkan dengan melihat siapa yang berbicara. Kedua, value itu terdapat di masing-masing pribadi orang. Untuk menciptakannya kita harus memahami secara filosofis dan mengamalkan prakteknya dalam kehidupan sehari-hari.

—–

Ditulis oleh Panji Wara Ramadhani, mahasiswa Teknik Industri Angkatan 2014, Penerima Beasiswa MAB asal Pontianak.

Orde Insani adalah sebuah program membangun “self growth engine” untuk mencapai mastery bagi mahasiwa tingkat akhir, dilanjutkan menjadi bagian komunitas yang mempersiapkan menjadi professional/entrepreneur unggul dan pemimpin Indonesia masa depan.

Program Orde Insani Batch 1 di UI dengan peserta 30 mahasiswa FTUI saat ini sedang berlangsung hingga beberapa bulan ke depan yang dilaksanakan atas kerjasama dari Orde Insani dan FTUI serta didukung oleh Yayasan MAB, SKHa Consulting, Kopeland, dan berbagai instusi pendukung lainnya. Info selengkapnya www.ordeinsani.or.id

Professional Life Talk Orde Insani

Orde Insani adalah sebuah program membangun “self growth engine” untuk mencapai mastery bagi mahasiwa tingkat akhir, dilanjutkan menjadi bagian komunitas yang mempersiapkan menjadi professional/entrepreneur unggul dan pemimpin Indonesia masa depan.

Program Orde Insani Batch 1 di UI dengan peserta 30 mahasiswa FTUI saat ini sedang berlangsung hingga beberapa bulan ke depan yang dilaksanakan atas kerjasama dari Orde Insani dan FTUI serta didukung oleh Yayasan MAB, SKHa Consulting, Kopeland, dan berbagai instusi pendukung lainnya.

Pada Sabtu, 11 Maret 2017 lalu bertempat di Gedung Engineering Center EC.203, dilaksanakan pertemuan kedua Orde Insani dengan tema Professional Life yang menghadirkan pembicara Safitri Siswono (Owner ACS Group, Direktur PT. Bangun Cipta) dan Bagus Koncoro (Head of HR Robert Bosch Indonesia) serta dimoderatori oleh Rizal Matondang (Skha Consulting).

Pada pertemuan kedua ini, para peserta diajak untuk belajar dari kisah kehidupan professional kedua pembicara tersebut. Bu Safitri memulai dengan mengisahkan perjalanan karirnya di Unilever hingga menduduki posisi manager di usia yang terbilang masih muda. Di usia 30-an tersebut, ia bisa dibilang sudah memiliki segalanya. Namun, impian nya sejak kecil ia ingin memiliki perusahaan sendiri. Akhirnya, ia memutuskan untuk resign dari Unilever dan mulai membangun usahanya. Ia berkeyakinan bahwa ia bisa meraih hal tersebut dengan mudah Karena selama berkarir di unilever, segalanya berjalan dengan lancar.

Tak disangka, mimpinya untuk memiliki usaha sendiri harus diuji dengan kegagalan. Usahanya bangkrut sehingga ia harus menjual semua asset pribadinya seperti rumah dan mobil untuk menutupi hutang perusahaannya. Disinilah ia mengingatkan kepada kita untuk tidak sombong.

“Kita harus menjaga perasaan agar tidak sombong saat kita berada di atas”.

Terbersit keinginannya untuk kembali bekerja di Unilever, namun suaminya mengatakan, “Baru gagal sekali, masa sudah menyerah”. Hal itulah yang membuat Bu Safitri mengurungkan niatnya untuk kembali bekerja di Unilever.

Bu Safitri pun kembali merintis usahanya hingga ia mampu mengembalikan asetnya yang pernah ia jual. Namun, ujian kembali datang. Ia memiliki hutang sehingga harus merelakan mobilnya dijual untuk membayar hutang tersebut. Namun, ujian kedua ini ia merasa sudah terbiasa. Ia punya pilihan sbeenarnya untuk tidak segera membayar hutang tersebut dengan menjual mobilnya, tetapi ia berpegang teguh pada prinsipnya.

Disini Ia kembali mengingatkan kepada kita bahwa saat kita dihadapkan pada pilihan antara kemudahan dan hal yang benar. Selalu pilih hal yang benar. Itulah prinsip yang selalu ia pegang hingga kini.

Sementara Pak Bagus Koncoro memulai perjalanan karirnya dengan bekerja di Batam. Ia dihadapkan pada pilihan membangun karir atau keluarga. Batam menurutnya bagus untuk membangun karir yang telah ia rintis dari awal. Namun, ia harus merelakan jauh dari keluarganya yang berada di Jakarta. Akhirnya ia memutuskan untuk memilih keluarga dan meninggalkan perusahaan lamanya yang tengah berkembang pesat dari nilai 500 M hingga 2 Trilyun saat ia tinggalkan.

“Selalu yakini bahwa kebenaran adalah apa yang di dalam hati kita…”

So, apa selanjutnya setelah mencapai semua impian yang kita citakan?

Bu Safitri ingin terus menjaga agar perusahaannya bisa terus berkembang. Apalagi saat ini karyawannya sudah mencapai 60-an. Kebahagiaannya bukan lagi tentang materi yang didapat, tetapi tentang melihat karyawannya bahagia bekerja di perusahaan yang ia pimpin.

Ia juga mengingatkan apa tujuan kita bekerja? Hanya untuk makan hari ini. Agar keluarga kita juga bisa dengan mudah mendapatkan makanan hari ini. Itu saja. Maka, jangan berprilaku hedonis dan konsumtif. Kita manusia tidak pernah puas. Selalu bersyukur apa yang kita punya. Jangan lupa sisihkan 2,5% dari harta kita untuk Zakat, Karena itu bukan kewajiban, tetapi kebutuhan kita.

Sementara Pak Bagus Kuncoro memberikan tips agar karir kita berkembang. Kita harus bisa menemukan core karir kita, inti dari perjalanan karir yang sedang kita jalani. Setelah kita temukan core tersebut, kita akan terus belajar dan mengasah diri kita untuk mencapai core tersebut.

Apa yang diperlukan untuk pengembangan kompetensi karir kita?

Ada tiga hal menurut Pak Bagus Kuncoro yaitu Time Management, Problem Solving dan Priority Management.

Menutup pertemuan hari itu mengingatkan kita bahwa setiap orang melewati stage of life dalam perjalanan karir yang berbeda-beda. Terus belajar dari pengalaman dan selalu percaya kata hati serta never stop dreaming! (BS)

Scholarship Sharing MAB : Australia Award Scholarship

Program MAB Sharing #1 di Pondokan MAB yang berlangsung pada Sabtu, 4 Maret 2017 membahas mengenai Scholarship Sharing : Australia Award Scholarship (AAS) dengan menghadirkan salah seorang penerima Beasiswa AAS tahun 2015 yaitu Trini Y. Pratiwi, mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan Master di bidang Applied Science Marine Environment di University of Tasmania, Tasmania Australia.

Sesi sharing berlangsung lancar tanpa kendala melalui sambungan video call via Skype Depok-Tasmania. Sesi dimulai dengan pemaparan informasi general mengenai beasiswa dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Beasiswa Australia Award Scholarship (AAS) adalah sebuah beasiswa dari pemerintah Australia yang diberikan kepada mahasiswa di lebih dari 193 negara di dunia untuk melanjutkan studinya di Australia. Hingga saat ini, AAS telah melahirkan sekitar 9000 awardee dari seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, beasiswa AAS menjadi salah satu beasiswa yang cukup popular. Beasiswa ini dibuka tiap tahun, biasanya rentang Februari hingga Juli. Kuota untuk pelajar Indonesia sendiri kisaran 200an yang diterima setiap tahunnya.

Penerima beasiswa akan mendapatkan bantuan untuk biaya kuliah, biaya hidup, asuransi, dan tiket PP, serta biaya tambahan seperti field research dan supporting allowance di tiap semesternya.

Selain sharing mengenai beasiswa, Mbak Trini juga menceritakan mengenai kehidupannya di Tasmania sebagai mahasiswa Indonesia di sana. Saat ini, Mbak Trini sedang menyelesaikan thesis akhirnya dan direncanakan akan kembali ke Indonesia setelah meraih gelar masternya pada Juli mendatang. Semoga diberikan kelancaran dalam pengerjaan Thesisnya ya Mbak Trini.

Sebelum menutup perjumpaan dalam sesi sharing, Mbak Trini menyampaikan closing statement untuk para penerima beasiswa MAB yang hadir saat itu.

“Tidak ada salahnya mencoba untuk apply beasiswa ini(AAS) dan beasiswa lainnya demi mewujudkan mimpi kita untuk bisa sekolah di luar negeri. Meskipun kuliah hanya 2 tahun di luar negeri, namun bisa mendapatkan pengalaman dan ilmu yang jauh luar biasa, networking yang tidak hanya dari satu negara, tetapi dari berbagai belahan dunia untuk membangun karir kita ke depannya.”

“Pastikan bila ingin kuliah di luar negeri, kita harus memetakan semua rencana kita dari sekarang. Jangan pantang menyerah dan terus percaya bahwa kalian bisa!”

“Happiness Project” di Lapak Sekolah Bersama oleh Penerima Beasiswa Pondokan MAB

Belajar Mengajar Lapak Sekolah Bersama

Jakarta, Sabtu (03/12) Para penerima Beasiswa Pondokan MAB melakukan aksi sosial bertajuk “Happiness Project” yang diadakan di Lapak Sekolah Bersama, sebuah rumah belajar bagi anak-anak pemulung di daerah Ragunan. Happiness Project adalah sebuah kegiatan yang diinisiasi oleh para penerima Beasiswa MAB untuk menumbuhkan rasa empati sosial kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan. Melalui Happiness Project, para penerima Beasiswa Pondokan MAB diharapkan menjadi insan yang pandai bersyukur, memiliki rasa empati yang tinggi serta lebih semangat dalam menjalani kehidupan.

Pertama kali tiba, melihat kondisi Lapak Sekolah Bersama yang hanya sebuah ruang kecil di atas rumah, kami merasakan betapa ruang kotak kecil ini sedikit banyak telah memberikan kebermanfaatan sebagai ruang belajar bagi anak-anak pemulung di sini.

Sekitar 20 anak hadir pada sesi kami pagi itu. Mereka nampaknya telah belajar beragam hal dari Kakak-kakak pengajar yang telah lama menginisiasi program ini. Niat awal kami yang ingin mengajarkan seni melipat origami dan bernyanyi harus terhenti karena mereka ternyata sudah lebih pandai dari kami.

Ya, sejatinya memang kamilah yang banyak belajar dari mereka, anak-anak pemulung yang kelak akan memiliki masa depan yang juga akan cemerlang.

Karena berbagi tak pernah dilihat dari apa yang diberikan, pagi itu dengan donat dan permen yang kami bawa, keceriaan di antara kami tercipta. Perbincangan mengenai tata surya menjadi hal yang menarik untuk diceritakan kepada mereka. Hingga akhirnya, waktu jua yang memisahkan perjumpaan kami di sesi pagi itu.

Kami belajar arti pengabdian dari Kakak-kakak pengajar yang setiap Sabtu dan Minggu meluangkan waktu untuk membersamai adik-adik di sana, bukan sekali dua kali mereka ada. Hampir di tiap akhir pekan mereka tak pernah absen.

Untuk memulai kebaikan, selain tekad yang kuat diperlukan konsistensi untuk menjalaninya, seperti Kakak-kakak pengajar Lapak Sekolah Bersama yang hingga kini masih konsisten untuk membersamai Lapak Sekolah Bersama.

Aktivitas Sharing di ruang belajar

Bersama Kakak Pengajar Lapak Sekolah Bersama

Yayasan MAB Salurkan Beasiswa Prestasi Batch 6 senilai Rp 30 Juta

Penerima Beasiswa Prestasi Batch 6

Depok, Jum’at (2/12) Yayasan MAB kembali salurkan Beasiswa Prestasi Batch 6 senilai Rp 30 Juta. Beasiswa Prestasi yang disalurkan merupakan Beasiswa Prestasi Batch 6 yang diterima oleh 6 mahasiswa FTUI angkatan 2015. Bertempat di Sekretariat Manajer Kemahasiswaan FTUI, Gedung Engineering Center R.206, Beasiswa Prestasi tersebut secara simbolik diserahkan kepada penerima oleh Manajer Kerjasama, Kemahasiswaan, Alumni dan Ventura, Bpk. Badrul Munir, Phd. (Lihat Juga :Data penerima Beasiswa Prestasi Batch 6)

Beasiswa Prestasi MAB merupakan beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa yang memiliki prestasi, namun mengalami keterbatasan finansial. Beasiswa prestasi diberikan selama 6 semester, atau saat penerima menempuh pendidikan di semester 3 hingga lulus menjadi sarjana FTUI(semester 8). Besar beasiswa yang diberikan adalah Rp 5 Juta/mahasiswa setiap semesternya. Saat ini, sudah ada lebih dari 19 penerima beasiswa yang telah lulus dari FTUI dan 14 yang masih aktif, termasuk penerima baru.

Dalam wejangan Pak Munir, beliau menyampaikan kepada penerima beasiswa untuk terus meningkatkan prestasi belajar. Adanya beasiswa membantu memenuhi kebutuhan finansial yang belum tercukupi, sehingga mahasiswa bisa fokus untuk mengejar prestasi belajar. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada Yayasan MAB yang telah menyalurkan Beasiswa kepada mahasiswa FTUI yang membutuhkan.

Beasiswa Prestasi Batch 6 hadir karena adanya donasi dari donatur yang merupakan alumni FTUI. Semoga kebaikan para donatur berbalas kebaikan berlipat ganda dari Allah SWT. dan bermanfaat bagi pendidikan generasi muda penerus bangsa. Amin. (BS)

Penerima Beasiswa Prestasi Batch 6

Dibuka Pendaftaran Program Orde Insani

Pendaftaran Orde Insani 2017

Kamu mahasiswa Tingkat 3 dan 4 Fakultas Teknik UI?

Prepare yourself to become Indonesian Future Leader!

Orde Insani adalah program membangun “Self growth engine” untuk mencapai mastery bagi mahasiswa tingkat akhir, dilanjutkan menjadi bagian komunitas mastery yang mempersiapkan menjadi professional/entrepreneur unggul dan memimpin Indonesia masa depan

Apa yang akan kamu dapatkan?

  1. Bertemu dengan CEO, entrepreneur dan pakar dari berbagai bidang industry
  2. Memiliki bekal bersaing menjadi top performer di dunia professional
  3. Memiliki akses magang, tugas akhir, dan rekrutmen ke berbagai perusahaan
  4. Bagi peserta terbaik berkesempatan direkrut oleh perusahaan sponsor

Apa saja yang harus kamu siapkan?

  1. Essay (300-600 kata), berisi aspirasi kamu dalam 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun ke depan, serta Persiapan diri seperti apa yang bisa membantu kamu mencapai aspirasi tersebut
  2. CV terbaru

Daftarkan dirimu segera!

Kirim CV dan essaymu ke email ordeinsani@gmail.com

Waktu Pendaftaran :

1 November 2016 – 1 Januari 2017

Waktu pelaksanaan dan Lokasi training :

Semester genap 2016/2017 di FTUI

Info lebih lanjut hubungi : 0812-888-4997

Gelar Turnamen Golf, Iluni FTUI Sumbang 100 Juta untuk Beasiswa MAB

sumbangan-100-juta-iluni-ftui

Bogor (27/11), Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia (Iluni FTUI) menggelar Turnamen Golf bertajuk Rooseno Cup 2016 yang diadakan di Klub Golf Bogor Raya. Turnamen tersebut merupakan gelaran pertama yang akan diadakan secara rutin setiap tahunnya. Pada kesempatan tersebut, istri dari Almarhum Prof. Rooseno, Ibu Amalia Rooseno menyampaikan terima kasih atas penyelenggaraan turnamen tersebut yang telah menggunakan nama Prof. Rooseno sebagai nama gelaran turnamen yaitu Rooseno Cup. Beliau juga menyampaikan dukungannya atas penyelenggaraan turnamen yang rencananya akan digelar setiap tahun.

Pada Rooseno Cup 2016, Iluni FTUI juga berhasil mengumpulkan dana dari turnamen golf tersebut untuk disumbangkan sebagai Beasiswa Pendidikan kepada Yayasan Mata Air Biru. Dana Beasiswa senilai Rp 100 Juta dari Iluni FTUI melalui ketua Iluni FTUI, Teten Derichard disampaikan kepada Yayasan Mata Air Biru dengan diwakili oleh Ketua Yayasan MAB, Sri Dijan Tjahjati, dan disaksikan langsung oleh Rektor UI, Prof. Muhammad Anis dan Dekan FTUI, Prof. Dedi Priadi.

Dalam kesempatannya, Ketua Yayasan MAB mengucapkan terima kasih kepada Iluni FTUI dan seluruh alumni yang telah mennyisihkan sebagian dana dari turnamen gol untuk disumbangkan sebagai beasiswa pendidikan kepada Yayasan MAB. Beliau juga menyampaikan bahwa Yayasan MAB akan terus berusaha menjadi wadah alumni yang konsisten memberikan Beasiswa Pendidikan bagi mahasiswa FTUI. Mulai tahun ini, Yayasan MAB mulai melebarkan kebermanfaatan adanya Yayasan MAB agar bisa dirasakan oleh semua mahasiswa UI, salah satunya dengan menerima penerima beasiswa dari fakultas selain teknik.

Selain itu, Pada kesempatan itu juga secara simbolik juga diluncurkan Buku Menjadi Mata Air untuk Indonesia yang merupakan catatan perjuangan para penerima beasiswa MAB. Buku tersebut secara simbolik diberikan kepada Rektor UI dan Ketua Iluni FTUI. Dalam buku tersebut berisi kisah perjuangan para mahasiswa penerima beasiswa MAB untuk bisa kuliah di FTUI serta catatan mimpi yang ingin mereka perjuangkan kelak di masa depan.

Buku Menjadi Mata Air untuk Indonesia dijual dengan sistem Donasi. Apabila Anda tertarik untuk memiliki buku tersebut bisa mengunjungi laman www.beasiswamab.org/buku-mab atau menghubungi Sdr. Bambang di 0812-888-4997 (BS)

launching-buku-menjadi-mata-air