Category : Essay Lepas

Home»Archive by Category "Essay Lepas"

Menghadirkan Senyum di Panti Asuhan Darul Ilmi Depok

happiness-project

Happiness is only real when shared!

Depok, Minggu (1/4), Para Penerima Beasiswa Pondokan MAB dimotori oleh Ikhsan Firdauz mengadakan kegiatan Happiness Project di Panti Asuhan Darul Ilmi, Depok. Harapannya, melalui kegiatan ini para penerima beasiswa MAB mampu menjadi insan yang bersyukur serta memiliki rasa kepedulian dan empati yang tinggi terhadap masyarakat yang membutuhkan. Panti Asuhan Darul Ilmi terletak di Beji Timur, tidak jauh dari Politeknik Negeri Jakarta. Panti ini dihuni oleh 22 anak yang terdiri putra dan putri dengan beragam jenjang pendidikan mulai dari usia sekolah dasar hingga SMA.

Pada kesempatan itu, kami mencoba berbagi inspirasi kepada adik-adik di panti dengan menceritakan bidang-bidang keteknikan sesuai dengan jurusan kami masing-masing; sipil, mesin, elektro, arsitektur, metalurgi, kimia dan industri. Antusiasme dengan hadirnya pertanyaan terus dilontarkan. Kami berharap, suatu hari nanti ada anak panti yang terinpirasi untuk melanjutkan kuliah di bidang teknik.

happiness-project-games

Usai berbagi inspirasi, kami bermain games “Be an Engineer“. Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok dan ditantang untuk membuat suatu bangunan dari material sedotan setinggi dan sekuat mungkin (tidak jatuh ketika dipegang) dengan biaya seminimal mungkin. Permainan ini selain seru, juga melatih daya kreatifitas dan kerjasama tim.

Acara hari itu berakhir menjelang zuhur yang kami tutup dengan makan sandwich bersama-sama. Sandwich ala kadarnya kami siapkan sejak pagi di Pondokan MAB. Tak lupa, sedikit donasi berupa perlengkapan kebersihan untuk panti kami sumbangkan.

Hari itu kami bersyukur bisa membagikan kebahagiaan yang kami punya kepada adik-adik di Panti Asuhan Darul Ilmi. Semoga adik-adik panti senantiasa sehat dan terus semangat menjalani kehidupan! Amiin.

MAB Talk #4: Life After Campus (3) dari Kak Qisthi dan Kak Mushab

life after campus sharing

The winner never quit, The quitter never win. “(Kak Qisthi)

“Hidup itu adalah keselarasan di antara 2 pilihan. Cari keseimbangan di antara keduanya!” (Kak Mushab)

Sabtu, 24 Maret lalu, sesi MAB Talks #4 : Life after Campus (3) yang melanjutkan sesi-sesi sebelumnya kembali diadakan. Kali ini, kedua pembicara adalah Kakak Alumni yang saat ini berprofesi sebagai dosen di FTUI. Mereka adalah Kak Aulia Qisthi yang merupakan alumni FT jurusan Teknik Lingkungan angkatan 2011 dan Kak Mushab Abdu Asy Syahid yang juga merupakan alumni FT jurusan Arsitektur angkatan 2011. Selain itu, Kak Qisthi juga merupakan alumni Beasiswa Rumah Kepemimpinan, sedangkan Kak Mushab adalah alumni Beasiswa Pondokan MAB.

Sesi dimulai dengan Kak Aulia Qisthi. Setelah lulus dari Teknik Lingkungan pada tahun 2015, Qisthi, begitu sapaan akrabnya melanjutkan S2 fast track di FTUI. Di akhir studinya, ia diterima untuk kuliah di Perancis melalui Beasiswa Erasmus di IMT Atlantique.

Kak Qisthi memaparkan bahwa pilihan yang kita ambil pada pasca kampus nantinya harusnya kita pertimbangkan dengan matang. Ia memberikan beberapa langkah metode dalam menentukan pilihan tersebut yaitu dengan Logic Tree, Priority Matrix, Hypothesis Pyramid, Pros and Cons Strategy dan evaluasi. Namun, yang terpenting menurutnya adalah jangan sampai keputusan yang kita pilih tidak membebani atau tidak disetujui oleh orang tua.

Ia juga menceritakan pengalamannya ketika studi di Perancis. Menurutnya, Bahasa inggris sangat penting. Oleh karena itu, kita jangan cepat puas dengan capaian Bahasa inggris kita saat ini meskipun sudah memenuhi standar minimal untuk apply beasiswa.

Menurutnya, Kita harus tertantang untuk memiliki nilai IELTS lebih tinggi, meskipun standar minimal 6,5 untuk apply beasiswa. Karena itu akan menyusahkan kita nantinya. Bahkan, nilai IELTS 8 atau 8,5 saja masih membuat kita terkadang tidak percaya diri.

Tips lainnya, ketika kita study di luar negeri sebaiknya kita ‘make friends’ dengan teman-teman dari negara lain. Jangan sampai kita hanya berkumpul dengan sesame pelajar Indonesia saja. Lebih penting, jangan sampai ketidak pede-an menghalangi kita untuk maju. Untuk mencapai kesuksesan tidak ada yang instan, kita harus menapaki tangga kesuksesan itu satu per satu. Seperti kata Ziglar : “There is no elevator to success, you need to have the stair.”

life-after-campus-3

Selanjutnya dari Kak Mushab, begitu sapaan akrabnya. Setelah lulus dari Arsitektur pada tahun 2015, ia langsung melanjutkan S2 di jurusan yang sama di UI dan lulus Agustus 2017 lalu. Ia kini menjadi dosen di Arsitektur UI dan juga di Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Tak jauh berbeda dengan Kak Qisthi, Kak Mushab, menggambarkan dunia pasca kampus sebagai sebuah paradox ; Dua hal yang kontradiksi. Ia melihat bahwa ada kontradiksi ketika ia menjadi mahasiswa dan sekarang setelah lulus. Paradoks antara 2 pengalaman tentang berpikir dan kenyataan di kehidupan. Menurutnya, kehidupan di luar tak seideal apa yang dipikirkan ketika menjadi mahasiswa.

Melihat itu, ia menjabarkan konsep kehidupan antara kampus dan pasca kampus sebagai sebuah pyramid dan labirin. Pyramid, dari luar kita bisa melihat langsung bentuknya; besar, segitiga, tetapi kita tidak tahu bagaimana ruangan di dalamnya. Kita tahu, tapi tidak merasakannya. Pyramid ibarat kehidupan kampus dimana kita berpikir bahwa apa yang kita pikirkan harusnya sesuai dengan ilmu dan teori yang kita pelajari dari buku-buku teks, tapi kita belum merasakan kenyataan di lapangan seperti apa.

Sedangkan labirin, ketika kita memasukinya, kita tidak pernah tahu di mana akan berakhir dan bagaimana bentuk labirin sebenarnya. Labirin ibarat kehidupan pasca kampus. Kita bisa merasakannya, tetapi tidak tahu dimana ujungnya atau apa yang akan terjadi pada kita nantinya. Maka itu, kita perlu menyelaraskan keduanya dengan menjadi manusia yang bermanfaat, seperti Hadits “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.” (BS)

MAB Talk #3: Life After Campus (2) dari Kak Awa dan Kak Nisa

 life-after-campus

“Kenali diri kalian- kelebihan dan kelemahan yang kalian miliki- untuk menentukan impian kalian ke depan” (Kak Nisa)

“Setiap orang dianugerahkan potensi dan jalan hidup yang spesifik untuk mengisi slot kontribusi di masa depan yang juga spesifik” (Kak Awa)

Sabtu, 17 Maret lalu, kembali diadakan MAB Talks #3 : Life after Campus (2) yang menghadirkan Alumni Beasiswa Pondokan MAB yaitu Kak Siti Awaliyatul Fajriyah dan Kak Nurhidayatun Nisa. Kak Awa dan Kak Nisa, begitu sapaan akrabnya adalah alumni FT angkatan 2012 dari jurusan Arsitektur dan Teknik Perkapalan yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2016 lalu. Masa dua tahun setelah lulus menjadi Sarjana Teknik tersebut telah dilaluinya dengan pilihan yang sedang mereka jalani saat ini.

Melanjutkan sesi sebelumnya, kali ini Kak Awa dan Kak Nisa bercerita mengenai pengalaman yang telah dilaluinya usai lulus.

Awa memulai sesinya dengan definisi sukses yang ia pegang. Baginya, sukses adalah semua capaian di dunia untuk kebahagiaan di akhirat. Perjalanan usai lulus pada 2016 lalu, ia tidak langsung memilih untuk bekerja. Sebelumnya ia berencana melanjutkan kuliah S2 dan berusaha mengejar beasiswa yang ada. Sembari mempersiapkannya, ia juga merintis usaha di bidang sosial atau sociopreneur dengan dukungan dari DIIB UI. Namun, keduanya tidak menjadi prioritasnya kini. Menurutnya untuk melanjutkan studi usai lulus, kita harus punya alasan dasar yang kuat, persiapan yang matang dan juga motivasi yang tinggi. Sedangkan untuk memulai usaha, tentunya kita perlu mental yang tahan banting serta dukungan dari keluarga.

Akhirnya, di akhir 2017, Awa mantap untuk mengambil pilihan menjadi abdi negara di Kementerian PUPR. Tantangan baru pun dimulai agar bisa survive menjalani pilihannya sekarang. Berbeda ketika ia masih menjalani usaha, ia merasa waktunya kini banyak terkuras dan harus siap menghadapi tantangan hidup perkotaan.

life-after-campus

Berbeda dengan Awa, Nisa saat ini bekerja sebagai technical support di salah satu perusahaan perkapalan di Jakarta. Sebagai perempuan yang bekerja di bidang yang kebanyakan lelaki menjadi tantangan tersendiri baginya. Berhari-hari berada di kapal dan lingkungan kerja yang kebanyakan laki-laki sudah tidak asing lagi baginya. Meskipun awalnya tidak nyaman, namun menurut Nisa Ia harus belajar untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya itu. Menurutnya, sangat penting soft skill yang dipelajari dari organisasi seperti leadership, teamwork, planning, komunikasi dan problem solving.

Semoga sharing tersebut bermanfaat! Sampai bertemu di sesi sharing “Life after Campus” berikutnya.

Life at MAB : Mereka yang Kusayangi di MAB

Keluarga-MAB-Putri

Di pondokan MAB, saya hidup bersama dengan empat adik tingkat. Tiga orang dari angkatan 2017, satunya lagi dari angkatan 2016. Hidup bersama, mengharuskan saya meng-install beberapa nilai baru yang kemungkinan tidak terlalu diperlukan jika saya hidup sendiri.

Saya harus lebih peka terhadap teman-teman serumah, agar teman-teman juga peka terhadap saya. Saya harus mengingatkan teman-teman serumah ketika mereka berbuat salah, agar teman-teman juga tidak sungkan mengingatkan saya ketika saya berbuat salah. Saya harus menyayangi teman-teman serumah setulus hati saya, agar teman-teman juga mau menyanyangi saya dengan tulus.

Pernah pada suatu hari, jadwal saya begitu penuh dari pagi buta hingga menjelang tengah malam. Ditambah lagi, saya belum makan sejak siang sehingga magh saya kambuh. Ketika magh saya kambuh, perut saya akan sakit dan kepala saya akan sangat pusing. Biasanya, obat yang paling ampuh saat magh saya kambuh adalah dengan makan sedikit lalu tidur hingga pagi. Dan saya melakukannya, memaksa kepala pusing saya untuk tidur.

Di waktu subuh saya bangun, kenyataan yang saya harapkan tidak sepenuhnya terjadi. Sakit di perut saya memang sudah reda, tapi kepala saya masih sangat pusing. Saya berusaha bangkit dan membuat teh hangat. Saya tempelkan telapak tangan saya di sekeliling gelas berisi teh panas itu untuk menyalurkan kehangatan dengan harapan dapat sedikit mengurangi sedikit rasa sakit di kepala saya. Saya seruput teh itu perlahan. Karena beebrapa menit kemudian tidak menunjukkan adanya tanda-tanda menuju kesembuhan, saya menenggak habis teh itu. Dan, masih sama saja. Rasa pusing di kepala saya begitu menyiksa. Bahkan, pusing tersebut mempengaruhi perut saya yang tadinya baik baik saja jadi merasa mual.

Saya membuka group whatsapp yang beranggotakan teman-teman serumah, saya tanyakan apakah diantara mereka ada yang memiliki stock tolak angin karena saya merasa terlalu pusing untuk beli keluar. Dan kurang dari 1 menit, teman-teman saya secara bersamaan membuka pintu kamar mereka dan menghampiri saya dengan masing-masing tangan mereka memegang satu sachet tolak angin. Saya terharu.

Dalam hati saya berdoa, semoga hubungan diantara saya dan teman-teman serumah akan selalu harmonis dan berkah hingga jannah-Nya.

Cerita saya diatas merupakan implementasi dari beberapa nilai yang kami terapkan selama kami hidup bersama di pondokan MAB.

Saya yakin, teman-teman serumah saya mau menolong saya karena mereka sayang terhadap saya, sebagaimana saya yang sayang terhadap mereka. Karena kami adalah keluarga.

—-

Penulis :

Trianti Puji Sadermi atau lebih akrab disapa Anti adalah mahasiswi jurusan Teknik Mesin angkatan 2015. Anti merupakan penerima Beasiswa Pondokan MAB yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Sebagai Kakak tertua di Asrama Pondokan MAB Putri, Anti belajar untuk menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya di MAB Putri. Mengenal Anti lebih dekat di @triantipujisadermi.

Life at MAB : Menantang Diri dengan Mengambil Amanah

Penerima Beasiswa MAB Putri

Perkenalkan, Aku Ika Nurkhasanah Prasetyaningsih. Mahasiswa semester dua jurusan Teknologi Bioproses Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Mahasiswa yang sedang menantang diri untuk mengambil peran dan belajar sebanyak-banyaknya, seutuh-utuhnya. Mahasiswa yang sudah dan sedang berusaha merealisasikan apa yang selalu ia tulis dalam motivation letter-nya tiap akan mendaftar organisasi yang alhamdulillah sekarang ia sudah menjadi bagiannya. Begini bunyinya,

. . .

“Menjadi aktif dan kontributif atau menjadi pasif dan tidak peduli merupakan hak pilih masing-masing orang. Bagi saya hidup adalah pendakian prestasi, menyusun kebaikan-kebaikan dan kebermanfaatan menjadi tangga-tangga untuk mencapainya. Prestasi menurut saya adalah ketika saya bisa berhasil mencoba hal baru dan bisa melakukan hal yang saya suka dengan maksimal.”

“Menghadirkan ‘hiu-hiu kecil’ dalam diri berarti senantiasa ingin untuk terus berkembang. Bukan untuk menyiksa kita, namun untuk naik level dan meng-upgrade diri.

“Menghadirkan ‘hiu-hiu kecil’ berarti menonaktifkan mode ‘comfort zone’ dalam diri. Maka sudahkah kita menghadirkan ‘hiu-hiu kecil’ dalam diri kita?”

. . .

Aku berusaha menghadirkan hiu-hiu kecil itu waktu itu. Dan hiu-hiu kecil itu sekarang sudah di depan mata. Hiu-hiu kecil berupa amanah yang cukup banyak jumlahnya. Bukan maksud ingin terlihat hebat atau menjadi mahasiswa superaktif agar disanjung dan dikenal banyak orang. Bukan seperti itu sama sekali. Aku hanya ingin mencari pengalaman sebanyak-banyakya selagi masih bisa dan masih ada kesempatan. Aku ingin memberi kebermanfaatan di banyak ranah, ranah lembaga kemahasiswaan, ranah keilmuan, ranah pengabdian masyarakat, maupun keislaman. Intinya satu, menyebar kebaikan, untuk diri sendiri, organisasi, dan umat.

Hari ini, Jumat, 2 Februari 2017, ada pertemuan perdana semester genap 2017/2018 para penerima beasiswa pondokan MAB sekaligus sosialisasi kegiatan selama satu semester dan sharing apa saja yang ingin dicapai semester ini serta apa saja amanah yang sedang dan akan diemban. Ada banyak hal yang aku pelajari dari sharing teman-teman, entah itu langsung atau pun secara tersirat. Amanah bukan ajang gaya-gayaan. Ada tanggung jawab yang melekat dalam amanah. Dan itu tidak main-main.

Aku berdialog dengan diri sendiri tadi tentang aku dan apa sebenarnya yang ingin aku raih dengan kesibukan-kesibukan yang aku pilih untuk untuk menemaniku menjalani semester dua ini.

Aku bukan mahasiswa jenius dengan IP sempurna, bahkan Cum Laude juga tidak. Tapi aku berani mengambil kegiatan diluar kegiatan akademis lebih banyak dari teman-teman seangkatan yang memiliki IP lebih tinggi. Awalnya, jujur, aku sempat berkecil hati dengan apa yang aku pilih. Gentar memikirkan berapa penuhnya mungkin sore hariku sepanjang weekdays. Namun aku ingat apa yang aku tuliskan di buku agenda harianku, bahwa aku hanya harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Menyerah atau berkesah tentang betapa beratnya nanti bukanlah sifat dan sikap seorang pemimpin.

Okay, aku memilih jalan ini karena ada sosok yang selalu akau impikan ada di dalam diriku. Sosok pemimpin. Sosok yang menakjubkan dalam mengelola waktu. Sosok yang tidak pernah melepaskan satu momentum pun. Pemimpin diri sendiri, dan umat (semoga suatu saat bisa, aamiin). Pemimpin yang mampu memberi teladan kepada oorang-orang terdekat. Pemimpin bagi adik dan kebanggaan bagi orang tua. Hingga jika suatu saat adik sudah dewasa dan ia berkata, “Aku ingin seperti kakak,” yang ia contoh dari kakaknya adalah hal-hal baik.

Aku memilih jalan ini karena aku ingin menjelma menjadi seorang pemberani yang sarat pengalaman. Aku memilih jalan ini karena aku ingin tahu banyak hal. Aku ingin berhenti berkata “Aduh aku tidak bisa karena aku belum pernah melakukannya.” Atau “Aduh aku akan kesulitan nanti karena sama sekali tidak tahu dan tidak pernah bersentuhan dengan itu.” Atau aduh aduh yang lain. Aku ingin mencari tahu sekarang. Semua butuh awalan. Aku mengatakan bahwa ini momen yang bagus untuk mengawali.

Semua akan siap ketika aku siap. Dan aku sudah siap! Doakan.

. . .

Penulis :

Ika N. Prasetyaningsih, merupakan mahasiswi Teknologi Bioproses angkatan 2017. Ika adalah salah satu penerima beasiswa Pondokan MAB yang berasal dari daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Mengenal ika lebih dekat di @ika_Nprasetya_

MAB Talk #1: Putri Mandara Berbagi Pengalaman Study in UK

Study in UK Putri Mandara

If you have a dream, go for it!

Pada MAB Talk #1 di tahun 2018 ini, Rumah Inspirasi MAB menghadirkan Putri Mandara, alumni Sastra Inggris FIB UI, juga pengajar Kelas Bahasa Inggris MAB yang baru saja menyelesaikan studinya di King’s College London, UK dengan mengambil TESOL. Dengan Beasiswa LPDP yang ia dapat pada tahun 2015, ia berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu akhir 2017 lalu.

Sesi yang sangat inspiratif dari Mbak Putri, begitu akrab disapa dimulai dengan pertanyaan dasar: Mau kemana setelah lulus nanti?

Ya, sebagai mahasiswa mungkin kita seharusnya sudah memiliki tujuan hendak kemana setelah kita lulus nanti. Apakah akan bekerja, lanjut S2 atau bekerja dahulu selama beberapa tahun kemudian lanjut S2. Hal ini penting untuk mempersiapkan sedini mungkin, terutama bagi mereka yang ingin lanjut studi setelah lulus dari S1. Persiapan itu harus dilakukan sejak menjadi mahasiswa S1, bukan nanti-nanti.

Menurutnya, perbedaan antara orang yang langsung lanjut studi S2 dibandingkan dengan yang bekerja terlebih dahulu adalah orang-orang yang sudah bekerja terlebih dahulu lebih mempunyai perspektif yang berbeda sehingga lebih tahu akan mengambil apa saat studi S2 karena pernah terjun ke dunia kerja.

Selanjutnya, hal yang paling penting jika ingin kuliah di luar negeri adalah bahasa inggris. Banyak orang yang ingin kuliah di luar negeri tidak jadi karena bahasa inggrisnya belum memenuhi target. Bahasa inggris ini penting karena menjadi bahasa utama selama kita menempuh studi. Oleh karena itu, perlu belajar dari sekarang untuk mempersiapkan kemampuan kita pada bahasa inggris.

Pilih sekolah yang akan kita tuju. Mungkin banyak yang berpikir bahwa studi di luar negeri adalah tentang jalan-jalan, padahal itu hanya sebagai bonus saja. Yang terpenting adalah akses belajar yang mungkin tidak akan kita dapatkan di tempat lain. Bayangkan kita bisa belajar dari kampus dimana Newton menemukan Hukum Newtonnya, atau belajar di kampus yang dosennya adalah penulis text book yang selama ini kita baca.

Dalam memilih sekolah, kita perlu riset data terkait timeline pendaftaran universitas, persyaratan yang dibutuhkan dan semuanya kalau bisa dibuat matriks database sehingga kita tidak perlu bolak-balik mengunjungi website universitas yang bersangkutan.

Setelah dipastikan kita mendapatkan LoA dari sekolah yang kita tuju, kita tinggal mencari beasiswa yang sesuai. Saat ini ada banyak sekali beasiswa yang memberikan kesempatan anak bangsa untuk kuliah di luar negeri.

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, yakni :

  1. Tujuan setelah lulus (apakah akan lanjut S2 atau kerja terlebih dahulu)
  2. Update terhadap informasi beasiswa (Timeline, persyaratan dokumen, proses seleksi)
  3. Sekolah yang ingin dituju (pilih 3 pilihan sekolah)
  4. Persiapkan diri untuk memenuhi standar yang diminta (bahasa inggris, ipk, dll)
  5. Persiapkan modal untuk test bahasa inggris (IELTS, TOEFL IBT)
  6. Sharing dengan penerima beasiswa sebelumnya, baca-baca sharing di blog penerima beasiswa yang kita tuju.
  7. Good luck!

Jangan pernah takut bermimpi! Mari persiapkan sejak sekarang!

Re-Charge Semangat di Pertemuan Pembuka Semester Genap Pondokan MAB

Pertemuan Perdana Rumah Inspirasi MAB

Liburan semester gasal telah berakhir. Saatnya kembali mempersiapkan diri untuk perkuliahan di semester genap. Begitu pula dengan aktivitas di Rumah Inspirasi MAB.

Hari itu, Jum’at, 2 Februari 2018 diadakan pertemuan pembuka kegiatan di Pondokan MAB untuk periode semester genap 2017/2018. Pertemuan ini sebagai sarana re-charge semangat setelah kembali dari kampung halaman masing-masing.

Pada kesempatan itu, diadakan sosialisasi untuk berbagai kegiatan di Rumah Inspirasi MAB periode selama satu semester mendatang. Hal ini penting untuk mengetahui gambaran kegiatan yang akan dilakukan dan capaian yang diharapkan dari kegiatan yang ada.

Awal tahun juga menjadi awal baru bagi para penerima untuk berkontribusi aktif di setiap unit kegiatan mahasiswa di kampus. Sesi sharing satu sama lain menjadi momen untuk melihat fokus keaktifan masing-masing penerima di kampus selama semester genap ini.

Terakhir, semoga Rumah Inspirasi MAB bisa menjadi wadah belajar dan pengembangan diri bagi para mahasiswa FTUI terutama penerima beasiswa MAB.

Penyemangat di Akhir Pekan Bersama Bapak-Ibu MAB

Sharing Pak Mukti Wibowo

Menutup program rutin pembinaan akhir pekan di Rumah Inspirasi MAB, Sabtu (9/12) lalu kami belajar dari Pak Mukti Wibowo, salah seorang Pendiri Yayasan MAB dan Dosen di Teknik Perkapalan UI.

Beliau menceritakan kisahnya semasa kuliah di jurusan Teknik Mesin, jurusan yang tidak ia pilih sewaktu mendaftar (Teknik Sipil dan Arsitektur). Dari situlah beliau belajar untuk menikmati prosesnya, melewati fase-fase di tiap tingkatnya serta berusaha menjadi yang terbaik.

Dari beliau kami belajar untuk bersyukur menikmati apa yang kita jalan saat ini, tidak berusaha membandingkan dengan orang lain. Meskipun pilihan jurusannya adalah Teknik Sipil dan Arsitektur, tetapi kuliah di Teknik Mesin tidak membuatnya lupa untuk selalu menghadirkan yang terbaik. Setiap tahunnya beliau naik tingkat ketika teman-teman seangkatannya lebih banyak yang tertinggal.

Pesan beliau kepada kami untuk berusaha fokus mengejar apa yang kami jalani saat ini. Fokus memperdalam bidang yang kami minati dan menjadikan itu sebagai keahlian.

“Pengalaman seberapapun banyaknya, bila tidak dibagi akan mati.”

Itulah alasan mengapa beliau menjadi dosen, selain aktivitasnya bersama perusahaannya di bidang konsultan perkapalan.

Selain beliau, Bu Dijan dan Bu Tin juga turut hadir. Mereka mengingatkan kami kembali arti kedisipilinan.

Sebagai future leader, kita harus bisa disipilin dimulai dari diri sendiri. Hal ini tercermin dari diri kita.

You have your own quality.

Kita seharusnya memiliki kualitas yang menunjukkan diri kita sebagai future leader. Jangan biarkan lingkungan mempengaruhi kamu yang buruk. Bahwa kamu sukses, itu karena kamu. Kalau tidak sukses, jangan pernah menyalahkan orang lain. Be the best at your place.

Terakhir, pemberian Reward kepada dua penerima manfaat Beasiswa Pondokan MAB yang berprestasi dan aktif. Mereka adalah Kukuh Lolana (Teknik Industri 2014) dan Farudin (Teknik Industri 2015).

Terima kasih untuk akhir pekan yang penuh semangatnya, Bapak-Ibu MAB!

Selamat mempersiapkan yang terbaik untuk UAS di semester ini!

Cerita November bersama Rumah Inspirasi MAB

Kehidupan di Rumah Inspirasi MAB

MAB, terima kasih atas akhir November yang berkesan ini. Banyak kegiatan akhir pekan yang pada akhirnya membuat bonding kami—penerima manfaat pondokan MAB semakin baik. Banyak pula pengalaman seru penuh drama yang menghiasi kegiatan tersebut.

November ini bulan yang sibuk. Setelah pertemuan Gathering 14 Tahun MAB di pekan pertama November, lalu dilanjutkan dengan Forum Perspektif Muda 2045 di pekan ketiga (yang tidak bisa aku ikuti karena bersamaan dengan pelatihan Bidik Misi), pekan terakhir November ditutup dengan fun and refreshment berupa games serta menghadiri Roosseno Cup di Minggunya.

Ada yang lucu saat kami bermain games. Baper karena merasa penilai lebih memihak satu tim atau tidak jelasnya aturan main yang membuat kedua tim salah pengertian. Sebenernya dalam games ini bukan masalah siapa pemenangnya, tetapi apa saja value yang bisa kita ambil.

Sebelum games dimulai, kami diberi potongan kertas kecil yang apabila disatukan maka akan membentuk logo MAB. Esensinya ialah, masing-masing dari kami memiliki peran yang sama penting. Meskipun ada yang memperoleh kertas kecil dan kosong, tetapi jika itu hilang maka tidak akan komplit membentuk satu kesatuan logo MAB.

Jangan pernah merasa bahwa keberadaan kalian atau kita tidak ada artinya sama sekali. Itu salah. Sekecil apapun kemampuan kita —tentu kita tidak akan pernah tahu bahwa sebenernya kemampuan kita tidak sekecil itu jika tidak pernah mencobanya— atau kita merasa bahwa amanah yang diberikan kepada kita itu remeh dan tidak berdampak, lagi-lagi itu salah. Dalam suatu organisasi, sebuah divisi diciptakan untuk sebuah peran. Tidak ada yang lebih penting ataupun tidak lebih penting. Jika salah satu divisi menghilang maka organisasi tersebut berarti gagal.

Menyusun potongan kertas tadi hanyalah pembuka saja, sebagai pemanasan games selanjutnya yang akan lebih seru. Pembagian kelompoknya menurutku unik —dengan games juga— meskipun agak gregetan juga ternyata games ini hanya untuk pembagian kelompok. Intinya di sini kita harus selalu fokus dan waspada. Tidak ada keadaan yang cukup aman. Maka dari itu kita harus berani untuk terus bergerak, jangan hanya diam di tempat ketika ancaman datang.

The real games dimulai. Inti dari semua games ialah; ketika kita berorganisasi atau bekerja sama, kita harus memiliki tujuan dari awal. Mau seperti apa organisasi tersebut nantinya, apa-apa saja yang menjadi tolak ukur kesuksesannya. Setiap anggota suatu organisasi memiliki pikiran dan tujuan masing-masing, hal tersebut tidak bisa dipungkiri. Itulah sebabnya sangat perlu memiliki tujuan bersama sebelum akhirnya semua orang bergerak sendiri-sendiri. Kepercayaan satu sama lain juga penting dalam menjalankan roda organisasi.

Keesokan harinya, kami refreshing bersama para alumni pada acara Roosseno Cup. Roosseno Cup membuatku semakin percaya bahwa anak Fakultas Teknik (FT) memang solid. Roosseno Cup adalah Sebuah Turnamen golf alumni FTUI. Acara ini diadakan di Sentul Highland Golf Club. Kami langsung khilaf ketika Sentul Golf itu ternyata sangat foto-able. Langsung kami cari-cari spot terbaik untuk foto, “Buat stok foto instagram,” begitu  Fadlu bergurau.

Sebenernya saat hunting foto itulah kami menjadi lebih dekat. Dengan berdiskusi, berdebat, mana spot yang bagus. Kemudian setelah kami foto-foto di rerumputan yang ternyata penuh rumput yang suka menempel di pakaian, kami saling menolong untuk mencabuti rumput tersebut.

Udah kebayang ‘kan ya nanti masa depan kalian secara garis besar seperti apa?” itu yang Kak Bambang tanyakan kepada kami di pengujung acara. Sangat senang melihat senior sudah sukses melalui jalan yang saat ini sedang kutempuh. Itu artinya ada banyak kesempatan aku bisa menjadi seperti mereka atau bahkan lebih. Namun aku selalu memiliki kecemasan tersendiri ketika dihadapkan dengan begitu banyak orang sukses. Apakah aku bisa menjadi seperti mereka?

Banyak sekali pengalaman baru yang sangat berharga. MAB selalu tahu kapan kami harus bekerja keras dalam perkuliahan dan kapan harus mengistirahatkan sejenak badan dan menyegarkan kembali otak yang sudah hampir lelah.

Acara-acara di akhir pekan memang selalu bisa memantik kembali semangat dan mengingatkan kami untuk selalu bersyukur atas segala yang kami punya.

Penulis

Ika N. Prasetyaningsih, adalah seorang mahasiswa baru jurusan Teknologi Bioproses angkatan 2017. Ika yang sapaan akrabnya merupakan salah satu penerima Beasiswa Rumah Inspirasi MAB yang berasal dari daerah Wonosobo. Instagram : @ika_nprasetya_

Forum Perspektif Pemuda 2045 Mengajak Millenials Menyongsong Indonesia Emas 2045

Forum Perspektif Pemuda 2045

“Fortif Muda 2045: acara yang sangat bermanfaat untuk pemuda generasi milenial karena acara tersebut membuka mata dan wawasan kita bahwa pada tahun 2045 nanti, kitalah para pemangku kebijakan (stakeholder) di negara ini dan dengan bonus demografi yang ada, generasi milenial saat ini bertanggung jawab untuk membawa Indonesia ke masa keemasannya di usia 100 tahun Indonesia merdeka nantinya.” (Naufal M. Rafif, Mahasiswa Teknik Perkapalan 2016)

“Menurut saya acara seperti fortif 2045 ini sangat bagus. Forum nya sendiri sangat menarik karena menyangkut masalah-masalah yang ada sekarang ini dan cara membuat agar indonesia lebih baik lagi di tahun 2045.” (M. Asykar S. Bangun, Mahasiswa Teknik Metalurgi dan Material 2017)

“Acara ini dapat digunakan sebagai pemicu terlahirnya ide-ide luar biasa dari para pemuda untuk dapat memajukan Indonesia di tahun 2045. Karena di tahun 2045, generasi kamilah yang akan menjadi petinggi-petinggi yang akan menentukan bagaimana nasib Indonesia ke depannya.” (Trianti Puji Sadermi, Mahasiswa Teknik Mesin 2015)

“Buka hanya pengalaman baru saja yang saya dapatkan, namun banyak sekali ilmu yang saya dapatkan untuk mengubah paradigma baru dalam melihat masalah dan untuk berkolaborasi dalam merencanakan serta mempersiapkan peran untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. “ (Alvira Novitasari, Mahasiswa Arsitektur 2016)

Millenials, apa peran yang akan kau ambil di tahun 2045 nanti?

Forum Perspektif Pemuda (FORTIF) 2045 yang diadakan pada Sabtu, (18/11) lalu di Balairung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata mengajak generasi millennial untuk menyongsong dan mempersiapkan era emas Indonesia di tahun 2045 mendatang. Forum yang dimoderatori oleh Prof. Indroyono Susilo (Mantan Menko Kemaritiman) tersebut, menghadirkan tiga orang pembicara lintas generasi yakni Letnan Jenderal (Purn) Agus Widjojo (Gubernur Lemhannas RI) mewakili generasi baby boomer, Rizky Kamadibrata (Managing Director Grab Indonesia) mewakili generasi X, dan Jezzie Setiawan (Gandeng Tangan) mewakili generasi millennial.

Fortif sendiri dihadiri oleh ratusan pemuda dari generasi millennial dengan latar belakang yang berbeda. Menurut prediksi para ahli, bahwa pada tahun 2045 nanti, tepat di usia 100 tahun Indonesia merdeka, Indonesia akan mengalami bonus demografi dimana usia produktif yang jauh lebih besar. Momentum ini menjadi harapan untuk kebangkitan bangsa. Generasi millennials yang ada sekarang inilah yang diproyeksikan akan memimpin bangsa ini pada tahun 2045 mendatang. Untuk itu, potensi yang ada harus dipersiapkan semaksimal mungkin sebagai momentum bagi kebangkitan bangsa.

Generasi millennial adalah generasi muda yang lahir pada rentang tahun 1980an hingga 2000an. Fortif mengajak para generasi millennial untuk belajar values generasi pendahulu sebagai bekal untuk menyongsong era emas Indonesia di 2045 mendatang. Diselenggarakannya Fortif ini merupakan inisiasi dari Orde Insani yang bekerjasama dengan Universitas Al-Azhar Indonesia dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Millenials, mari sama-sama mempersiapkan bekal untuk menyongsong era emas Indonesia 2045!