Category : Essay Lepas

Home»Archive by Category "Essay Lepas"

Happiness Project 5.0 : Amazing Race (Bagian 2)

Amazing Race SRA di UI

Universitas Indonesia, (2/11) Para Awardee Beasiswa MAB menyelenggarakan Happiness Project MAB 5.0 part 2 dengan konsep Amazing Race, menutup rangkaian kegiatan Happiness Project MAB 5.0.

Sebelumnya part 1 telah dilaksanakan pada 19/10 lalu di Sekolah Rakyat Ancol (SRA). Kali ini, adik-adik SRA berkeliling UI melalui permainan Amazing Race, melewati pos-pos yang di set di area sekitar perpusat, asrama dan beberapa fakultas yang berakhir di FTUI.

Sebanyak 25 siswa/i SRA antusias menyelesaikan berbagai misi ditemani kakak pendamping yang merupakan Awardee Beasiswa MAB yang secara keseluruhan berjumlah 18 Awardee MAB yang terlibat.

Total ada 6 misi yang perlu diselesaikan, 3 diantaranya berupa misi pengetahuan yang terdiri dari Menghitung estimasi tinggi bangunan (gedung rektorat) melalui konsep kesebangunan dalam matematika, Mengenal tokoh (terutama alumni UI) yang menduduki jabatan publik, mengenal beragam profesi serta 3 lainnya merupakan games kekompakan dan ketangkasan.

Games SRA di UI

Setelah menyelesaikan seluruh misinya, pos terakhir yang digunakan sebagai sesi penutupan adalah di FTUI. Pada sesi penutupan, Kegiatan Happiness Project MAB 5.0 ini berhasil mengumpulkan sejumlah dana yang disumbangkan dalam bentuk Beasiswa Pendidikan kepada adik-adik SRA senilai Rp 7 Juta rupiah.

Beasiswa Pendidikan untuk Siswa Sekolah Rakyat Ancol (SRA)

Kami segenap panitia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam rangkaian Happiness Project ini. Kami juga mengucapkan terima atas kebaikan para Donatur dari kakak2 alumni dan umum dalam acara ini. Semoga setiap Amal baik akan dibalas dengan kebaikan untuk kita semua.

Sampai jumpa di Happiness Project 6.0 berikutnya! 😉

Sekolah Rakyat Ancol di UI

Happiness Project 4.0 : Everyone Can Be Engineer!

WhatsApp Image 2019-04-06 at 7.06.01 PM

Sabtu, 6 April 2019 kemarin para penerima Beasiswa MAB melakukan kegiatan Happiness Project, sebuah inisiasi sosial untuk menumbuhkan empati dengan berbagi kebahagiaan kepada sekitar. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan tiap semester.

Pada Happiness Project 4.0 ini, para penerima beasiswa MAB berbagi kebahagiaan dengan adik-adik murid Rumah Ceria Down Syndrome – POTADS (Persatuan Orang Tua Down Syndrome), Jakarta Selatan. Mereka mengenalkan dunia keteknikan melalui berbagai permainan, lagu hingga percobaan sederhana.

Pada kesempatan ini, pengurus Yayasan MAB juga turut hadir yaitu Ketua YMAB, Ibu Sri Dijan Tjahjati, Sekretaris YMAB, Ibu Tin Nizar dan Koordinator Beasiswa MAB, Sdr. Bambang Sutrisno. Acara dibuka dengan Sambutan dari POTADS yaitu Ibu Dinny, dilanjutkan dengan Sambutan dari Yayasan MAB dan Penyerahan Donasi oleh Ibu Dijan dan Ibu Tin.

WhatsApp Image 2019-04-06 at 7.06.01 PM (1)

Kegiatan hari itu berlangsung menyenangkan. Para penerima Beasiswa MAB yang dimotori oleh Bening (Teknik Lingkungan angkatan 2018) bergantian mengenalkan dunia profesi insinyur mulai dari Teknik Sipil hingga Teknik Industri. Bening yang juga perwakilan untuk mengenalkan dunia teknik sipil dengan membuat tower dari Uno stacko dan menguji kekuatannya sebagai ilustrasi dari ketahanan beton. Juga melalui nada lagu “Balonku” yang diubah liriknya untuk mengenalkan aspek-aspek dalam Teknik Lingkungan.

Dunia Arsitektur dikenalkan oleh Alvira dan Hilmi (Arsitektur 2016 dan 2018) yang juga menjadi MC acara hari itu dengan bermain Puzzle denah rumah. Tak kalah antusias, Dunia Teknik Elektro dikenalkan oleh Ikhsan (Teknik Komputer 2017) dengan menyalakan lampu LED melalui rangkaian sederhana yang dihubungkan ke baterai sebagai sumber tenaganya. Terakhir, Dunia Teknik Kimia dikenalkan Wulan (Teknologi Biproses 2017) melalui eksperimen sederhana proses Lava gunung berapi melalui campuran soda kue, cuka dan air sabun.

WhatsApp Image 2019-04-06 at 7.06.01 PM (5)

Acara hari itu berlangsung sangat seru. Terlihat antusiasme adik-adik RCDS yang ingin mencoba apa yang dilakukan Kakak-kakak MAB di depan, juga saat ditanya mereka pun berebut angkat tangan ingin menjawab. Acara hari itu semoga memberikan kebermanfaatan bagi adik-adik RCDS.

Sampai jumpa di Happiness Project berikutnya! (BS)

MAB Talks #1 : Arti Kontribusi di Kampus bagi Ketua BEM dan Mapres FTUI 2018

mab-talks-cover

“Saat kuliah, harusnya banyak pengalaman yang menuntut kita untuk keluar dari zona nyaman. Jangan sampai zona nyaman membatasi kita untuk berkembang…” (Davigara D. Primayandi)

” Tidak ada impian yang realistis. Jalan menuju impian itulah yang harus kita buat realistis…” (Faza Fakiha Taqwa)

Asrama Rumah Inspirasi MAB (8/9), dipenuhi oleh mahasiswa penerima manfaat Beasiswa MAB yang antusias ingin belajar dari kakak-kakak inspiratif yang akan mengisi program MAB Talks. MAB Talks #1 edisi perdana pada tahun ajaran 2018/2019 ini menghadirkan kedua pembicara yang akan membahas mengenai bagaimana memaksimalkan kontribusi sebagai mahasiswa dari sisi akademis dan kemahasiswaan. Mereka adalah Ketua BEM FTUI 2018 : Davigara Dwika Primayandi (Mahasiswa Teknik Mesin 2015) dan Mapres FTUI 2018 : Faza Fakiha Taqwa (Mahasiswi Teknik Industri 2015).

Sesi dibuka dengan paparan dari Davi, sapaan akrab dari Davigara. Menurut alumni SMAN 8 Jakarta tersebut, Mahasiswa memiliki tanggung jawab lebih yang tidak sekedar kuliah. Berangkat dari buah pikirannya bahwa ternyata tidak semua orang bisa merasakan bangku kuliah, menurutnya sebagai mahasiswa, yang kita lakukan dan mimpi-mimpi kita ke depan tidak sekedar bagaimana mendapatkan pekerjaan yang layak saja, harus lebih dari itu. Itulah yang menginspirasi Davi untuk menjadikan BEM FTUI 2018 sebagai wadah kontribusinya saat ini; #DariTeknikuntukIndonesia.

Sebagai mahasiswa, menurut Davi sangat perlu untuk bersikap aktif dan kontributif. Karena dengan aktif di berbagai kegiatan, organisasi akan melatih skill kita yang nantinya sangat berguna sebagai bekal di dunia kerja misalnya public speaking, problem solving, memimpin rapat, dll. Davi yang hobinya naik gunung, kini menganggap organisasi sebagai bagian dari hidupnya. Ia senang karena dengan organisasi ini ia bisa bertemu dengan banyak orang sehingga bisa melatih dirinya ketiak bertemu dengan orang-orang baru yang berbeda-beda karakter.

Sebagai mahasiswa, ia juga memiliki prinsip untuk tidak main aman. Jika perlu “ Break a leg”. Menurutnya, jangan sampai zona nyaman justru membatasi kita untuk berkembang. Karena banyak sekali kesempatan yang kita dapat saat kuliah ini untuk keluar dari zona nyaman. Hal terakhir yang penting sebagai mahasiswa adalah kepedulian. Harusnya sebagai mahasiswa kita punya rasa peduli yang tinggi terhadap orang lain, di luar dari diri sendiri.

Sesi kedua dari Faza, sapaan akrab Faza Fakiha yang menganggap bahwa prestasi sebagai Mahasiswa Berprestasi FTUI 2018 yang diraihnya itu sebagai bonus dan hanya title belaka. Faza menceritakan tentang dirinya yang bukan siapa-siapa, seorang anak yang hanya percaya dan yakin akan mimpi-mimpinya hingga menjadi Faza yang dikenal sekarang.

Perjuangannya dimulai ketika salah seorang teman di organisasinya menanyakan ingin jadi seperti apa di hidup ini. Bahwa orang-orang sukses tidak ada yang generalis. Bila kita ingat seseorang yang sukses, maka ia akan diingat satu hal karena kesuksesannya, karena keahliannya di bidang tersebut. Itulah salah satu momen yang membuat ia fokus dalam bidang yang ia sukai, salah satunya public speaking.

Perjuangan yang dilakukan Faza pun tak mudah. Semangat pantang menyerah setelah gagal 10 kali ikut tes MUN pun pernah ia alami. Hingga akhirnya ia kini sudah menginjak beberapa negara di dunia termasuk Amerika dan Eropa. Salah satunya yang paling berkesan ketika ia menjadi Delegasi Indonesia di PBB dari Menpora.

Menurutnya kita harus yakin dengan mimpi kita. Meskipun tidak ada yang realistis, tetapi kita harus membuat jalan menuju mimpi kita realistis. Nothing is impossible. Satu hal yang iya yakini, bahwa ada banyak cara menuju mimpi yang ingin kita capai. Jangan lupa minta pada langit yang memiliki kuasa pada mimpi kita.

Berbicara mengenai passion, menurutnya passion itu hal yang kita sukai meskipun tidak dibayar. Ada 4 hal untuk menemukan passion kita: (1) Definisikan Hal (Bidang/benda) apa yang kita sukai? (2) Kegiatan yang kita sukai dari hal tersebut? (3) Siapa orang yang mencerminkan kesuksesan kita? (4) Langkah-langkah apa yang harus kita lakukan agar kita ahli di bidang tersebut?

Perannya sebagai Mapres FTUI 2018 memberikannya banyak kesempatan untuk berkontribusi lebih luas lagi. Ia sangat senang diundang dan memberikan sharing untuk menginspirasi anak-anak muda lainnya.

Paparan dari kedua pembicara MAB Talks #1 hari itu menggugah semangat kita para mahasiswa untuk aktif-kontributif memaksimalkan kesempatan kita saat ini sebagai mahasiswa di ranah kampus. “Ada banyak cara untuk mencintai Indonesia. Jadilah versi terbaik dari diri kita untuk berkontribusi di bidang yang kita pilih sesuai pilihan dan kemampuan kita masing-masing; Mapres, aktivis mahasiswa ataupun bidang lainnya”. (@bamsutris)

Life at MAB : Hidup adalah Memilih

life-at-mab-hidup-adalah-memilihTak terasa sudah hampir setahun berada di Rumah Inspirasi MAB, menatap masa depan baru, lingkungan baru, dan bertemu dengan wajah-wajah baru. Merantau merupakan pilihan yang saya ambil karena saya merasa bahwa ini merupakan hal yang tepat bagi saya dan akan membentuk jati diri saya dan kelak dapat mempersiapkan masa depan lebih matang.

Ketika sampai disini, saya tidak mengenal satupun orang disini ataupun pernah ke lingkungan UI dan sekitarnya. Saya diterima disini dengan baik, teman-teman disini banyak sekali membantu saya, mulai dari membantu saya dengan mengantarkan saya ke Balairung untuk daftar ulang, maupun sekedar untuk memberitahu rekomendasi warteg yang murah dan enak.

Banyak sekali momen-momen yang tidak bisa dilupakan selama 2 semester di Rumah Inspirasi MAB. Ajang kumpul biasa menjadi spesial bersama teman-teman, nonton film bareng ditemani martabak sudah cukup untuk membuat kami senang di malam yang lenggang karena bukan soal materi nya tetapi orang-orang yang ada di sekeliling saya.

Masih ingat di benak saya seperti baru saja kemarin, saya bertemu dengan Bapak & Ibu Pendiri MAB, mereka sudah seperti orang tua saya disini. Bantuan dari mereka sangat berarti buat saya, pengalaman dan cerita dari mereka tidak pernah membuat saya bosan, mereka tidak henti-henti nya memotivasi saya agar saya bisa lebih dari mereka dan nanti bisa juga seperti mereka ikut memberi ke adik-adik lain yang juga membutuhkan. Mereka juga menjadi salah satu motivasi saya ketika berkuliah disini, saya tidak ingin mengecewakan mereka yang telah memberikan saya fasilitas yang ada dan saya harus maksimalkan. Saya akan ambil sedikit kutipan dari Molly Friedenfeld di buku nya ‘The Book of Simple Human Truths’ , “A purposeful act or extension of kindness to another is never wasted, for it always resides in the hearts of all involved in a chain of love.”

Program-program di MAB sangat membantu diri saya menjadi orang yang disiplin. Disiplin bukan hanya menyangkut tentang tingkah laku atau perbuatan. Disiplin juga meliputi disiplin emosional. Apabila disiplin emosional digabungkan dengan kecerdasan berpikir maka akan menghasilkan perilaku yang rasional. Perilaku yang selalu menjunjung etika dan kesopanan. Ada satu hal berharga yang saya dapat dari salah satu pendiri MAB, sekolah  bukan semata-mata bertujuan ingin mendapatkan ijazah. Namun, yang dibutuhkan untuk bekal kehidupan bukanlah selembar kertas tersebut melainkan disiplin ilmu yang telah dipelajari selama beberapa waktu. Ijazah dengan nilai yang bagus, kalau tanpa pengetahuan dan kemampuan akan menjadi sia-sia.

Setiap momen dalam hidup kita memiliki potensi untuk mengubah hidup. Beberapa memiliki potensi yang lebih besar dibandingkan yang lainnya. Dan kita semua terus bertumbuh saat melewati momen-momen tersebut. Bahkan momen buruk sekalipun perlu terjadi supaya momen yang menyenangkan bisa terjadi.

Hidup adalah memilih, namun untuk memilih dengan baik,  harus tahu siapa kita dan apa yang harus di perjuangkan, ke mana  ingin pergi dan mengapa ingin sampai di sana.

Penulis : M. Asykar S. Bangun atau yang akrab disapa Asykar, adalah mahasiswa Teknik Metalurgi dan Material angkatan 2017 yang berasal dari Kota Medan. Sejak setahun lalu Asykar menjadi salah satu penerima Beasiswa Pondokan MAB. Kenal Asykar lebih dekat di @AsykarBangun

Life at MAB : Mengakui Kesalahan adalah Sikap Kesatria Sejati

life-at-mab

Hampir dua tahun telah berlalu saya lewati di rumah inspirasi ini, begitu banyak hal yang saya peroleh dari rumah ini, terutama dalam hal pembelajaran sosial.

Ada satu hal menarik yang beberapa kali kerap terjadi di rumah inspirasi ini yaitu terkait dengan permasalahan rumah. Dulu pernah suatu kejadian dan memang seringkali terjadi dimana, ketika kita para penghuni rumah inspirasi selesai masak serta makan dan menggunakan perlengkapan dapur, sudah menjadi kesepakatan bersama bagi kita semua untuk selalu membersihkannya dan merapihkannya kembali.

Namun yang sering terjadi adalah, ada bekas sampah memasak serta piring kotor yang tergeletak di wastafel atau dapur dan ketika ditanya ini milik siapa? Tidak ada satu orang pun yang mengakuinya. Menariknya, setelah ditanya dan tidak ada yang mengakui benda-benda tersebut kepunyaan siapa. Beberapa jam kemudian, tiba-tiba sampah-sampah sisa memasak tersebut hilang dan piring kotornya pun menjadi bersih. Entah ada orang yang berbaik hati untuk membersihkannya atau sang pelaku yang sadar membersihkannya. Hal semacam ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali saja, namun beberapa kali kerap terjadi di rumah ini.

Bukan hanya tentang sampah makanan dan piring kotor, pernah juga kejadian kehilangan peralatan makan di rumah ini. Kemudian dicari-cari oleh pemiliknya. Hingga berminggu-minggu peralatan makan tersebut tidak juga ditemui. Kemudian sang pemilik mencoba untuk menanyakan keberadaan peralatan masaknya ke seluruh penghuni rumah satu per satu. Namun, tetap saja peralatan makan tersebut tidak di temukan. Hingga suatu saat, tiba-tiba peralatan makan tersebut sudah ada di tempatnya tanpa ada yang mengetahui siapa yang meletakannya.

Aneh? Ya! Setelah saya coba cari tau mengapa hal-hal diatas bisa terjadi, ternyata memang dalam diri setiap manusia pasti menginginkan rasa aman. Jelas hal diatas dapat terjadi karena ketika seseorang merasa bahwa dirinya akan dipermalukan di depan umum ketika mengakui sebuah kesalahan, orang tesebut pasti lebih memilih untuk diam dan diam-diam memperbaiki kesalahan yang telah dilakukannya.

Pernah salah satu teman saya bercerita di suatu kesempatan, dia dimarahi oleh banyak tentara karena satu hal. Bukan karena kesalahan yang dia lakukan, tetapi karena dia tidak mau mengakui kesalahannya tersebut. Disinilah poin pembelajaran yang saya dapatkan. Menurut saya ini sangat penting karena di dunia kerja nanti, mungkin banyak hal semacam ini yang akan kita temui. Seharusnya kita bisa menjadi orang yang berani untuk mengakui kesalahan kita dan bertanggung jawab atas kesalahan apa yang telah kita lakukan.

“Berani mengakui kesalahan dan mau berusaha memperbaikinya adalah sikap kesatria yang sejati” (KH. A. Mustofa Bisri)

Penulis :

Naufal Muhadzib Rafif atau yang akrab disapa Naufal adalah mahasiswa jurusan Teknik Perkapalan angkatan 2016. Naufal salah satu penerima beasiswa Pondokan MAB yang berasal dari Tegal. Selain aktif perkuliahan, Naufal saat ini tergabung dalam klub peminatan di Teknik Perkapalan yaitu Hydro-Tech-Works (HTW) UI.

Menghadirkan Senyum di Panti Asuhan Darul Ilmi Depok

happiness-project

Happiness is only real when shared!

Depok, Minggu (1/4), Para Penerima Beasiswa Pondokan MAB dimotori oleh Ikhsan Firdauz mengadakan kegiatan Happiness Project di Panti Asuhan Darul Ilmi, Depok. Harapannya, melalui kegiatan ini para penerima beasiswa MAB mampu menjadi insan yang bersyukur serta memiliki rasa kepedulian dan empati yang tinggi terhadap masyarakat yang membutuhkan. Panti Asuhan Darul Ilmi terletak di Beji Timur, tidak jauh dari Politeknik Negeri Jakarta. Panti ini dihuni oleh 22 anak yang terdiri putra dan putri dengan beragam jenjang pendidikan mulai dari usia sekolah dasar hingga SMA.

Pada kesempatan itu, kami mencoba berbagi inspirasi kepada adik-adik di panti dengan menceritakan bidang-bidang keteknikan sesuai dengan jurusan kami masing-masing; sipil, mesin, elektro, arsitektur, metalurgi, kimia dan industri. Antusiasme dengan hadirnya pertanyaan terus dilontarkan. Kami berharap, suatu hari nanti ada anak panti yang terinpirasi untuk melanjutkan kuliah di bidang teknik.

happiness-project-games

Usai berbagi inspirasi, kami bermain games “Be an Engineer“. Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok dan ditantang untuk membuat suatu bangunan dari material sedotan setinggi dan sekuat mungkin (tidak jatuh ketika dipegang) dengan biaya seminimal mungkin. Permainan ini selain seru, juga melatih daya kreatifitas dan kerjasama tim.

Acara hari itu berakhir menjelang zuhur yang kami tutup dengan makan sandwich bersama-sama. Sandwich ala kadarnya kami siapkan sejak pagi di Pondokan MAB. Tak lupa, sedikit donasi berupa perlengkapan kebersihan untuk panti kami sumbangkan.

Hari itu kami bersyukur bisa membagikan kebahagiaan yang kami punya kepada adik-adik di Panti Asuhan Darul Ilmi. Semoga adik-adik panti senantiasa sehat dan terus semangat menjalani kehidupan! Amiin.

MAB Talk #4: Life After Campus (3) dari Kak Qisthi dan Kak Mushab

life after campus sharing

The winner never quit, The quitter never win. “(Kak Qisthi)

“Hidup itu adalah keselarasan di antara 2 pilihan. Cari keseimbangan di antara keduanya!” (Kak Mushab)

Sabtu, 24 Maret lalu, sesi MAB Talks #4 : Life after Campus (3) yang melanjutkan sesi-sesi sebelumnya kembali diadakan. Kali ini, kedua pembicara adalah Kakak Alumni yang saat ini berprofesi sebagai dosen di FTUI. Mereka adalah Kak Aulia Qisthi yang merupakan alumni FT jurusan Teknik Lingkungan angkatan 2011 dan Kak Mushab Abdu Asy Syahid yang juga merupakan alumni FT jurusan Arsitektur angkatan 2011. Selain itu, Kak Qisthi juga merupakan alumni Beasiswa Rumah Kepemimpinan, sedangkan Kak Mushab adalah alumni Beasiswa Pondokan MAB.

Sesi dimulai dengan Kak Aulia Qisthi. Setelah lulus dari Teknik Lingkungan pada tahun 2015, Qisthi, begitu sapaan akrabnya melanjutkan S2 fast track di FTUI. Di akhir studinya, ia diterima untuk kuliah di Perancis melalui Beasiswa Erasmus di IMT Atlantique.

Kak Qisthi memaparkan bahwa pilihan yang kita ambil pada pasca kampus nantinya harusnya kita pertimbangkan dengan matang. Ia memberikan beberapa langkah metode dalam menentukan pilihan tersebut yaitu dengan Logic Tree, Priority Matrix, Hypothesis Pyramid, Pros and Cons Strategy dan evaluasi. Namun, yang terpenting menurutnya adalah jangan sampai keputusan yang kita pilih tidak membebani atau tidak disetujui oleh orang tua.

Ia juga menceritakan pengalamannya ketika studi di Perancis. Menurutnya, Bahasa inggris sangat penting. Oleh karena itu, kita jangan cepat puas dengan capaian Bahasa inggris kita saat ini meskipun sudah memenuhi standar minimal untuk apply beasiswa.

Menurutnya, Kita harus tertantang untuk memiliki nilai IELTS lebih tinggi, meskipun standar minimal 6,5 untuk apply beasiswa. Karena itu akan menyusahkan kita nantinya. Bahkan, nilai IELTS 8 atau 8,5 saja masih membuat kita terkadang tidak percaya diri.

Tips lainnya, ketika kita study di luar negeri sebaiknya kita ‘make friends’ dengan teman-teman dari negara lain. Jangan sampai kita hanya berkumpul dengan sesame pelajar Indonesia saja. Lebih penting, jangan sampai ketidak pede-an menghalangi kita untuk maju. Untuk mencapai kesuksesan tidak ada yang instan, kita harus menapaki tangga kesuksesan itu satu per satu. Seperti kata Ziglar : “There is no elevator to success, you need to have the stair.”

life-after-campus-3

Selanjutnya dari Kak Mushab, begitu sapaan akrabnya. Setelah lulus dari Arsitektur pada tahun 2015, ia langsung melanjutkan S2 di jurusan yang sama di UI dan lulus Agustus 2017 lalu. Ia kini menjadi dosen di Arsitektur UI dan juga di Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Tak jauh berbeda dengan Kak Qisthi, Kak Mushab, menggambarkan dunia pasca kampus sebagai sebuah paradox ; Dua hal yang kontradiksi. Ia melihat bahwa ada kontradiksi ketika ia menjadi mahasiswa dan sekarang setelah lulus. Paradoks antara 2 pengalaman tentang berpikir dan kenyataan di kehidupan. Menurutnya, kehidupan di luar tak seideal apa yang dipikirkan ketika menjadi mahasiswa.

Melihat itu, ia menjabarkan konsep kehidupan antara kampus dan pasca kampus sebagai sebuah pyramid dan labirin. Pyramid, dari luar kita bisa melihat langsung bentuknya; besar, segitiga, tetapi kita tidak tahu bagaimana ruangan di dalamnya. Kita tahu, tapi tidak merasakannya. Pyramid ibarat kehidupan kampus dimana kita berpikir bahwa apa yang kita pikirkan harusnya sesuai dengan ilmu dan teori yang kita pelajari dari buku-buku teks, tapi kita belum merasakan kenyataan di lapangan seperti apa.

Sedangkan labirin, ketika kita memasukinya, kita tidak pernah tahu di mana akan berakhir dan bagaimana bentuk labirin sebenarnya. Labirin ibarat kehidupan pasca kampus. Kita bisa merasakannya, tetapi tidak tahu dimana ujungnya atau apa yang akan terjadi pada kita nantinya. Maka itu, kita perlu menyelaraskan keduanya dengan menjadi manusia yang bermanfaat, seperti Hadits “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.” (BS)

MAB Talk #3: Life After Campus (2) dari Kak Awa dan Kak Nisa

 life-after-campus

“Kenali diri kalian- kelebihan dan kelemahan yang kalian miliki- untuk menentukan impian kalian ke depan” (Kak Nisa)

“Setiap orang dianugerahkan potensi dan jalan hidup yang spesifik untuk mengisi slot kontribusi di masa depan yang juga spesifik” (Kak Awa)

Sabtu, 17 Maret lalu, kembali diadakan MAB Talks #3 : Life after Campus (2) yang menghadirkan Alumni Beasiswa Pondokan MAB yaitu Kak Siti Awaliyatul Fajriyah dan Kak Nurhidayatun Nisa. Kak Awa dan Kak Nisa, begitu sapaan akrabnya adalah alumni FT angkatan 2012 dari jurusan Arsitektur dan Teknik Perkapalan yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2016 lalu. Masa dua tahun setelah lulus menjadi Sarjana Teknik tersebut telah dilaluinya dengan pilihan yang sedang mereka jalani saat ini.

Melanjutkan sesi sebelumnya, kali ini Kak Awa dan Kak Nisa bercerita mengenai pengalaman yang telah dilaluinya usai lulus.

Awa memulai sesinya dengan definisi sukses yang ia pegang. Baginya, sukses adalah semua capaian di dunia untuk kebahagiaan di akhirat. Perjalanan usai lulus pada 2016 lalu, ia tidak langsung memilih untuk bekerja. Sebelumnya ia berencana melanjutkan kuliah S2 dan berusaha mengejar beasiswa yang ada. Sembari mempersiapkannya, ia juga merintis usaha di bidang sosial atau sociopreneur dengan dukungan dari DIIB UI. Namun, keduanya tidak menjadi prioritasnya kini. Menurutnya untuk melanjutkan studi usai lulus, kita harus punya alasan dasar yang kuat, persiapan yang matang dan juga motivasi yang tinggi. Sedangkan untuk memulai usaha, tentunya kita perlu mental yang tahan banting serta dukungan dari keluarga.

Akhirnya, di akhir 2017, Awa mantap untuk mengambil pilihan menjadi abdi negara di Kementerian PUPR. Tantangan baru pun dimulai agar bisa survive menjalani pilihannya sekarang. Berbeda ketika ia masih menjalani usaha, ia merasa waktunya kini banyak terkuras dan harus siap menghadapi tantangan hidup perkotaan.

life-after-campus

Berbeda dengan Awa, Nisa saat ini bekerja sebagai technical support di salah satu perusahaan perkapalan di Jakarta. Sebagai perempuan yang bekerja di bidang yang kebanyakan lelaki menjadi tantangan tersendiri baginya. Berhari-hari berada di kapal dan lingkungan kerja yang kebanyakan laki-laki sudah tidak asing lagi baginya. Meskipun awalnya tidak nyaman, namun menurut Nisa Ia harus belajar untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya itu. Menurutnya, sangat penting soft skill yang dipelajari dari organisasi seperti leadership, teamwork, planning, komunikasi dan problem solving.

Semoga sharing tersebut bermanfaat! Sampai bertemu di sesi sharing “Life after Campus” berikutnya.

Life at MAB : Mereka yang Kusayangi di MAB

Keluarga-MAB-Putri

Di pondokan MAB, saya hidup bersama dengan empat adik tingkat. Tiga orang dari angkatan 2017, satunya lagi dari angkatan 2016. Hidup bersama, mengharuskan saya meng-install beberapa nilai baru yang kemungkinan tidak terlalu diperlukan jika saya hidup sendiri.

Saya harus lebih peka terhadap teman-teman serumah, agar teman-teman juga peka terhadap saya. Saya harus mengingatkan teman-teman serumah ketika mereka berbuat salah, agar teman-teman juga tidak sungkan mengingatkan saya ketika saya berbuat salah. Saya harus menyayangi teman-teman serumah setulus hati saya, agar teman-teman juga mau menyanyangi saya dengan tulus.

Pernah pada suatu hari, jadwal saya begitu penuh dari pagi buta hingga menjelang tengah malam. Ditambah lagi, saya belum makan sejak siang sehingga magh saya kambuh. Ketika magh saya kambuh, perut saya akan sakit dan kepala saya akan sangat pusing. Biasanya, obat yang paling ampuh saat magh saya kambuh adalah dengan makan sedikit lalu tidur hingga pagi. Dan saya melakukannya, memaksa kepala pusing saya untuk tidur.

Di waktu subuh saya bangun, kenyataan yang saya harapkan tidak sepenuhnya terjadi. Sakit di perut saya memang sudah reda, tapi kepala saya masih sangat pusing. Saya berusaha bangkit dan membuat teh hangat. Saya tempelkan telapak tangan saya di sekeliling gelas berisi teh panas itu untuk menyalurkan kehangatan dengan harapan dapat sedikit mengurangi sedikit rasa sakit di kepala saya. Saya seruput teh itu perlahan. Karena beebrapa menit kemudian tidak menunjukkan adanya tanda-tanda menuju kesembuhan, saya menenggak habis teh itu. Dan, masih sama saja. Rasa pusing di kepala saya begitu menyiksa. Bahkan, pusing tersebut mempengaruhi perut saya yang tadinya baik baik saja jadi merasa mual.

Saya membuka group whatsapp yang beranggotakan teman-teman serumah, saya tanyakan apakah diantara mereka ada yang memiliki stock tolak angin karena saya merasa terlalu pusing untuk beli keluar. Dan kurang dari 1 menit, teman-teman saya secara bersamaan membuka pintu kamar mereka dan menghampiri saya dengan masing-masing tangan mereka memegang satu sachet tolak angin. Saya terharu.

Dalam hati saya berdoa, semoga hubungan diantara saya dan teman-teman serumah akan selalu harmonis dan berkah hingga jannah-Nya.

Cerita saya diatas merupakan implementasi dari beberapa nilai yang kami terapkan selama kami hidup bersama di pondokan MAB.

Saya yakin, teman-teman serumah saya mau menolong saya karena mereka sayang terhadap saya, sebagaimana saya yang sayang terhadap mereka. Karena kami adalah keluarga.

—-

Penulis :

Trianti Puji Sadermi atau lebih akrab disapa Anti adalah mahasiswi jurusan Teknik Mesin angkatan 2015. Anti merupakan penerima Beasiswa Pondokan MAB yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Sebagai Kakak tertua di Asrama Pondokan MAB Putri, Anti belajar untuk menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya di MAB Putri. Mengenal Anti lebih dekat di @triantipujisadermi.

Life at MAB : Menantang Diri dengan Mengambil Amanah

Penerima Beasiswa MAB Putri

Perkenalkan, Aku Ika Nurkhasanah Prasetyaningsih. Mahasiswa semester dua jurusan Teknologi Bioproses Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Mahasiswa yang sedang menantang diri untuk mengambil peran dan belajar sebanyak-banyaknya, seutuh-utuhnya. Mahasiswa yang sudah dan sedang berusaha merealisasikan apa yang selalu ia tulis dalam motivation letter-nya tiap akan mendaftar organisasi yang alhamdulillah sekarang ia sudah menjadi bagiannya. Begini bunyinya,

. . .

“Menjadi aktif dan kontributif atau menjadi pasif dan tidak peduli merupakan hak pilih masing-masing orang. Bagi saya hidup adalah pendakian prestasi, menyusun kebaikan-kebaikan dan kebermanfaatan menjadi tangga-tangga untuk mencapainya. Prestasi menurut saya adalah ketika saya bisa berhasil mencoba hal baru dan bisa melakukan hal yang saya suka dengan maksimal.”

“Menghadirkan ‘hiu-hiu kecil’ dalam diri berarti senantiasa ingin untuk terus berkembang. Bukan untuk menyiksa kita, namun untuk naik level dan meng-upgrade diri.

“Menghadirkan ‘hiu-hiu kecil’ berarti menonaktifkan mode ‘comfort zone’ dalam diri. Maka sudahkah kita menghadirkan ‘hiu-hiu kecil’ dalam diri kita?”

. . .

Aku berusaha menghadirkan hiu-hiu kecil itu waktu itu. Dan hiu-hiu kecil itu sekarang sudah di depan mata. Hiu-hiu kecil berupa amanah yang cukup banyak jumlahnya. Bukan maksud ingin terlihat hebat atau menjadi mahasiswa superaktif agar disanjung dan dikenal banyak orang. Bukan seperti itu sama sekali. Aku hanya ingin mencari pengalaman sebanyak-banyakya selagi masih bisa dan masih ada kesempatan. Aku ingin memberi kebermanfaatan di banyak ranah, ranah lembaga kemahasiswaan, ranah keilmuan, ranah pengabdian masyarakat, maupun keislaman. Intinya satu, menyebar kebaikan, untuk diri sendiri, organisasi, dan umat.

Hari ini, Jumat, 2 Februari 2017, ada pertemuan perdana semester genap 2017/2018 para penerima beasiswa pondokan MAB sekaligus sosialisasi kegiatan selama satu semester dan sharing apa saja yang ingin dicapai semester ini serta apa saja amanah yang sedang dan akan diemban. Ada banyak hal yang aku pelajari dari sharing teman-teman, entah itu langsung atau pun secara tersirat. Amanah bukan ajang gaya-gayaan. Ada tanggung jawab yang melekat dalam amanah. Dan itu tidak main-main.

Aku berdialog dengan diri sendiri tadi tentang aku dan apa sebenarnya yang ingin aku raih dengan kesibukan-kesibukan yang aku pilih untuk untuk menemaniku menjalani semester dua ini.

Aku bukan mahasiswa jenius dengan IP sempurna, bahkan Cum Laude juga tidak. Tapi aku berani mengambil kegiatan diluar kegiatan akademis lebih banyak dari teman-teman seangkatan yang memiliki IP lebih tinggi. Awalnya, jujur, aku sempat berkecil hati dengan apa yang aku pilih. Gentar memikirkan berapa penuhnya mungkin sore hariku sepanjang weekdays. Namun aku ingat apa yang aku tuliskan di buku agenda harianku, bahwa aku hanya harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Menyerah atau berkesah tentang betapa beratnya nanti bukanlah sifat dan sikap seorang pemimpin.

Okay, aku memilih jalan ini karena ada sosok yang selalu akau impikan ada di dalam diriku. Sosok pemimpin. Sosok yang menakjubkan dalam mengelola waktu. Sosok yang tidak pernah melepaskan satu momentum pun. Pemimpin diri sendiri, dan umat (semoga suatu saat bisa, aamiin). Pemimpin yang mampu memberi teladan kepada oorang-orang terdekat. Pemimpin bagi adik dan kebanggaan bagi orang tua. Hingga jika suatu saat adik sudah dewasa dan ia berkata, “Aku ingin seperti kakak,” yang ia contoh dari kakaknya adalah hal-hal baik.

Aku memilih jalan ini karena aku ingin menjelma menjadi seorang pemberani yang sarat pengalaman. Aku memilih jalan ini karena aku ingin tahu banyak hal. Aku ingin berhenti berkata “Aduh aku tidak bisa karena aku belum pernah melakukannya.” Atau “Aduh aku akan kesulitan nanti karena sama sekali tidak tahu dan tidak pernah bersentuhan dengan itu.” Atau aduh aduh yang lain. Aku ingin mencari tahu sekarang. Semua butuh awalan. Aku mengatakan bahwa ini momen yang bagus untuk mengawali.

Semua akan siap ketika aku siap. Dan aku sudah siap! Doakan.

. . .

Penulis :

Ika N. Prasetyaningsih, merupakan mahasiswi Teknologi Bioproses angkatan 2017. Ika adalah salah satu penerima beasiswa Pondokan MAB yang berasal dari daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Mengenal ika lebih dekat di @ika_Nprasetya_